Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 01 Juni 2026

Desa-desa Mati Peninggalan Erupsi Sinabung di Karo

* Opsi Wisata 'Buy Silence' (Beli Sunyi) di Masa Pandemi
Redaksi - Minggu, 05 Desember 2021 17:55 WIB
1.322 view
Desa-desa Mati Peninggalan Erupsi Sinabung di Karo
Foto: SIB/Frans Sihombing
DESA MATI: Salah satu potret Desa Berastepu di kaki Gunung Sinabung, yang kini tampak sepi bagaikan desa mati tanpa penghuni lagi. Sebagian fisik bangunan rumah tampak lapuk dan halaman mulai bersemak sehingga badan jalan desa tampak men
Medan (SIB)
Pasca wafatnya Drs Tenang Malem Tarigan pada 23 April 2020, disusul isterinya dr Anna Mariulina Bukit pada 4 Mei 2020, keduanya akibat terpapar Covid-19 sekembalinya dari Malaysia, rencana penggalangan paket wisata Karo Volcano Park (KVP) di daerah Karo tertunda total.

Pasalnya, kedua pebisnis travel Yanada Tour dan pengelola kampus SDM pariwisata dan komputer (AMIK-MBP) Medan, adalah calon investor KVP yang didukung beberapa bankir di Malaysia, yang kebetulan mantan muridnya di Medan Bussines Politeknik (MBP) dan Politeknik USU, plus dukungan seorang pengusaha resor wisata di Jawa Barat.

"Konsepnya ketika itu, KVP akan dijadikan destinasi wisata tipe khusus (special interest tourism) dengan paket 'beli dan nikmati kesunyian' (buy silence) pada onje desa kosong atau 'desa mati' yang ditinggalkan warganya, akibat serangan beruntun erupsi Gunung Sinabung sejak 2010. Paket wisata 'beli sunyi' sudah kami rintis di pulau-pulau kecil dan pantai sepi, tapi menakjubkan di Nias seperti di Pulau Asu, Pulau Bawa, Pantai Sorake dan lainnya," ujar Clement HJ Gultom, praktisi bisnis wisata pemilik biro travel Boraspati Tour Medan, kepada SIB di Medan, Sabtu (4/12).

Gultom, wakil ketua Associaton of Indonesia Travel Agency (ASITA) Sumut, adalah salah satu calon mitra Tenang Malem dan Anna Mariulina (keduanya alm) untuk kelola KVP, khususnya bidang angkutan (travelling) para turis peminat dan pengunjung objek-objek KVP di daerah Karo.

Dari 18 desa terdampak total akibat semburan abu vulkanik Gunung Sinabung yang terjadi 100-an kali sejak letusan pertama 27 Agustus 2010, ada 5-6 desa sepi dan 'mati', serta bernuansa horor. Mayoritas penduduknya ikut direlokasi ke Desa Siosar--Merek, sebagian pindah gabung ke desa sekitar yang aman dari radius letusan. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terkini Sinabung terjadi pada 19 Juli 2021.

Desa-desa kosong-sunyi, bahkan kini terkesan seram-angker itu adalah Desa Berastepu, Gurukinayan, Sukanalu. Sejumlah pihak dan media telah menyebutnya 'desa mati', disusul desa sepi seperti Desa Gamber, Bakerah dan Desa Simacem yang juga nyaris tak lagi berpenghuni.

Konsultan pariwisata nasional Ir Jonathan Ikuten Tarigan selaku tim penyusun proposal proyek wisata KVP (Oktober 2019), menyebutkan desa-desa mati-sepi peninggalan erupsi Gunung Sinabung itu merupakan potensi besar sebagai opsi dan paket wisata dengan konsep 'buy silence' seperti paket wisata lokal hutan eksotik (agak angker) di Tangkahan Langkat, Delengkutu di Karo, Gua Sipogu atau Batu Hobon di Samosir dan lainnya.

Desa-desa mati yang kini penuh semak belukar dan lumut di rumah-rumah kosong itu, sudah menjadi objek eksotik tersendiri untuk dinikmati wisatawan lokal maupun mancanegara, baik turis pecinta geowisata dan ekowisata peminat wisata adventurial. Potensi edukasi dan bisnisnya antara lain bisa dijadikan pusat riset mitigasi bencana alam, lokasi pembuatan (shooting-rekaman) film-film horor, petualangan, film sejarah petaka vulkanik seperti film 'Krakatau 1883' pada 1977.

"Paket wisata buy silence yang terkenal di dunia, adalah pulau kosong Vlamendo dan Meeru Island di Maldives-Maladewa. Objek gugusan laut lepas yang eksotik dan eksentrik menjadi pilihan menikmati secara hening. Selain menyelam, para turis berbaring santai berlama-lama pada desk khusus yang ditata dengan jarak sedemikian rupa melingkari objek atol (karang) atas laut. Menghirup udara dan menikmati desah angin laut, jadi lebih penting dan nikmat dibanding ngobrol.

Sarana wisata buy silence dengan jarak standar 'Prokes' langsung di Maldives itu, menjadi pilihan Wisman di masa pandemi. Sejak awal 2021, khusus Januari hingga Maret saja, kunjungan turis mencapai 4.218, 5.268, dan 5.516 orang Wisman.

"Survey awal kita Oktober 2019 mencoba model dan opsi kunjungan wisata berjadwal ke desa-desa KVP itu. Sekali tour hanya 5-10 orang sesuai kapasitas mobil-van, jadwalnya per 2-3 hari. Selain karena peminatnya belum banyak tapi sekaligus promosi, juga karena situasi pendemi supaya menjajal model wisata 'beli sunyi'," katanya serius dan optimis, ketika itu. (A5/a)

Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru