Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

Refleksi Martuama Saragi Terkait Tahun Kesehatian HKBP

Redaksi - Kamis, 06 Januari 2022 20:01 WIB
2.529 view
Refleksi Martuama Saragi Terkait Tahun Kesehatian HKBP
(Foto: Dok/Istimewa)
St. Dr. Martuama Saragi
Jakarta (harianSIB.com)
Kesehatian dalam Bahasa Yunani diterjemahkan “sehati” , homothumadon, artinya sangat kuat dan almuhit: homo berarti sama, thumos berarti pikiran, kehendak, dan tujuan.

Karena itu “kesehatian” yang dimaksud adalah bersifat holistik. Bukan hanya eksternal, tetapi juga internal, bukan hanya mencakup hati dan jiwa, tetapi juga pemikiran dan tujuan.

“Kesehatian dimulai dari kerendahan hati dalam diri kita sendiri. Lebih khusus kita benar-benar menyadari kerendahan kita dihadapan Tuhan, semua yang kita miliki kita terima dari Tuhan adalah anugerah, tidak ada yang perlu dibanggakan,” kata St Dr Martuama Saragi dalam refleksinya memasuki Tahun Kesehatian HKBP, Kamis (6/1/2022).

“Sikap seperti ini akan menghindarkan kita dari pencarian kepentingan diri sendiri atau pujian yang sia-sia,” tegasnya.

Adapun tema Tahun Kesehatian HKBP 2022 adalah “Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” (Filipi 2:2).

Lebih lanjut Martuama mengutarakan kata “kepentingan diri sendiri” (eritheia) lebih mengarah pada ambisi atau persaingan, kata “pujian yang sia-sia” (kenodoxian) mengandung arti “kehormatan yang kosong”.

“Dua hal ini harus terus-menerus dihilangkan dengan kerendahan hati, pikiran yang selalu dikuasai oleh kasih karunia dan tidak ada ruang bagi persaingan dan pencarian pujian di dalam diri kita sendiri,” ujar Majelis Jemaat HKBP Jakasampurna, Bekasi ini.

Kesehatian juga, menurut Martuama, menuntut kepedulian dan perhatian kepada kepentingan orang lain, seperti dalam Fillipi 2 menyatakan, “Bahwa kita kita tidak boleh terus-menerus memperhatikan kepentingan diri sendiri, pada saat kita mencermati suatu objek, kita tidak akan bisa melihat objek-objek yang lain.”

“Demikian pula jika kita selalu mencermati kepentingan diri sendiri, kita tidak akan mampu melihat kepentingan orang lain,” jelasnya.

“Jadi, kita tidak dilarang untuk melihat kepentingan diri sendiri, tetapi jangan jadikan itu sebagai fokus yang terus-menerus sehingga kita mengabaikan orang lain,” imbuh dia.

Martuama berharap dalam pelayanan “Tahun Kesehatian HKBP 2022” ada gerakan kesatuan hati secara bersama-sama untuk melayani dalam berbagai bidang di dalam persekutuan dengan saling beriringan semua unsur pelayanan kategorial, koinonia, marturia dan diakonia.

Ia juga mengajak semua untuk melayani dengan kerendahan hati, yang berarti memperlakukan orang lain lebih utama dari diri sendiri seperti yang terdapat dalam Kitab Filipi 2:3, “…. hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada diri sendiri…”

“Mari melayani dengan lemah lembut, melayani dengan kelemah lembutan memang tidak mudah, dengan pertimbangan karakter kita pada umumnya sangat sulit untuk mengendalikan emosi, pada kondisi-kondisi tertentu menahan diri agar tetap lemah lembut sangat sulit dengan adanya begitu banyak permasalahan-permasalahan dan tekanan yang dihadapi dalam pelayanan. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang lemah lembut seperti tertulis dalam Kitab Matius 5:5,” tandasnya. (*)

Editor
:
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru