Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 12 Maret 2026

Proyek APBN Rp 6,8 Miliar Jalan Tarutung-Harean Disorot, Sisi Jalan Berbahaya Belum Tuntas Ditangani

Anwar Lubis - Kamis, 12 Maret 2026 18:39 WIB
237 view
Proyek APBN Rp 6,8 Miliar Jalan Tarutung-Harean Disorot, Sisi Jalan Berbahaya Belum Tuntas Ditangani
Foto harianSIB.com/Anwar Lubis
Kondisi beram atau sisi badan jalan proyek peningkatan Jalan Tarutung-Harean, Kabupaten Taput yang menganga sedalam hingga 30 sentimeter, Kamis (12/3/2026). Kondisi ini meresahkan warga dan dinilai mengancam keselamatan pengendara.

Taput(harianSIB.com)

Proyek peningkatan Jalan Tarutung-Harean senilai Rp6.855.616.000,94 dari APBN Murni Tahun Anggaran 2025 di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), mendapat sorotan tajam dari warga dan pemerhati pembangunan setempat karena kondisi sisi badan jalan atau beram yang dinilai masih berbahaya dan belum tuntas ditangani.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Kamis (12/3/2026), di sejumlah titik ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Siatas Barita dan Kecamatan Tarutung itu, perbedaan ketinggian antara permukaan aspal dan sisi tanah mencapai 25 sentimeter hingga 30 sentimeter sehingga mengancam keselamatan pengendara yang melintas setiap hari.

"Kalau siang masih kelihatan, tapi kalau malam gelap dan tidak ada lampu, beram sedalam itu bisa bikin pengendara terjatuh. Sudah dalam, tanahnya juga masih lepas," kata seorang warga, B Lumbantobing, kepada harianSIB.com.

Baca Juga:
Warga mengakui sebagian beram memang sudah mulai ditimbun oleh pihak kontraktor, namun penimbunan dinilai belum merata dan belum menjangkau seluruh titik yang bermasalah sepanjang ruas tersebut.

Proyek ini berada di bawah kewenangan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Utara, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dan dikerjakan oleh CV 3G STAK dengan durasi pelaksanaan 49 hari. Hal itu tercantum dalam papan informasi proyek yang terpasang di lokasi.

Pemerhati pembangunan Taput, B Tampubolon menegaskan, bahwa terlepas dari kualitas pengerjaan jalan secara keseluruhan, kondisi beram yang berbahaya adalah persoalan mendesak yang tidak bisa ditunda penyelesaiannya.

"Ini bukan soal bagus atau tidak bagusnya jalan. Ini soal nyawa. Beram sedalam itu harus segera ditimbun dan diratakan, sementara pengendara sudah terancam setiap hari," tegasnya.

Ia juga mendorong Aparat Penegak Hukum (APH) untuk tidak segan turun langsung ke lapangan melakukan pengecekan, terutama apabila ditemukan indikasi penyimpangan dalam pelaksanaan proyek yang menggunakan uang negara tersebut.

"Kalau memang ada penyimpangan, silakan kontraktornya diperiksa. Ini adalah uang negara, uang rakyat. Harus ada pertanggungjawaban yang jelas," ujar Tampubolon.

Bagi pengendara sepeda motor yang mendominasi lalu lintas di kawasan tersebut, kondisi beram yang menganga dinilai ibarat jebakan tersembunyi. Satu kesalahan kecil dalam mengendalikan kemudi, terutama saat menghindari kendaraan lain di jalan sempit, berpotensi berujung fatal.

Warga tidak menuntut proyek dihentikan maupun kontraktor langsung diproses hukum. Yang mereka minta hanya satu, kepastian bahwa sisi-sisi jalan yang berbahaya itu segera ditutup dan dipadatkan, sebelum ada korban berjatuhan.

"Kami tidak mau jadi korban hanya karena proyek belum selesai sempurna. Timbun dulu, itu yang paling penting," kata seorang warga lainnya (**)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Oknum Guru di SMAN 1 Pahae Jae Ditangkap Polres Taput
Bupati Taput Dukung UKW di Bonapasogit
Dua ASN dan Satu Honorer di Dinkes Taput Ditangkap Polisi saat Pesta Narkoba
Amblas Jalan Nasional Sidikalang Doloksanggul Nyaris Putus
Rijon Manalu Terpilih Sebagai Ketua DPC GAMKI Taput Periode 2018-2021
Gereja Pentakosta Sumatera Utara/Pinksterkerk Usul Hapus Pembahasan Sekolah Minggu di UU
komentar
beritaTerbaru