Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 29 Maret 2026

PTPH Sumut Bina Petani Tanam Bawang Tanpa Pestisida di Purba Saribu Simalungun

- Sabtu, 15 Agustus 2015 16:28 WIB
256 view
PTPH Sumut Bina Petani Tanam Bawang Tanpa Pestisida di Purba Saribu Simalungun
SIB/Mey Hendika Girsang
Tanpa Pestisida : Unit Pelayanan Teknis Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT PTPH) Dinas Pertanian Sumut bersama petani Purba Saribu Kecamatan Haranggaol Horisan Kabupaten Simalungun, usai membina petani cara bercocok tanam bawang tanpa pestisi
Simalungun (SIB)- Unit Pelayanan Teknis Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT PTPH) Dinas Pertanian Sumut membina petani cara bercocok tanam bawang tanpa menggunakan pestisida di Purba Saribu Kecamatan Haranggaol Horisan Kabupaten Simalungun, Jumat (14/8).

Langkah ini diterapkan untuk membuat petani mandiri dalam bercocok tanam bawang yang baik. Menghemat biaya dan menghasilkan produksi berkualitas tanpa residu kimia, sehingga hasil petani menjadi rebutan di pasar domestik maupun internasional.

Demikian dikatakan UPT PTPH Dinas Pertanian Sumut melalui Bidang Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Pengamat Hama Penyakit (POPT-PHP) Jhon Edi Damanik.

"Mulai awal tanam tidak ada penggunaan pestisida. Hanya menggunakan PGPR (perangsang), Trichoderma sp (mengurangi unsur hara pada tanah) dan Corynebacterium (mengendalikan hama)," katanya.

Ia menerangkan, bahan PGPR menggunakan gula putih, terasi, dedak halus dan penyedap rasa seperti Ajinomoto. Kemudian bahan itu direbus sampai mendidih selama 10 menit dan dicampur dengan akar bambu atau putri malu maupun rumput gajah. Dalam sehari diaduk selama 5 menit. Setelah 15 hari PGPR siap digunakan.

Trichoderma sp menggunakan beras atau jagung. Cara mengolahnya beras atau jagung itu dicuci bersih kemudian direndam sekira 24 jam. Setelah itu dimasukkan ke dalam plastik dan dikukus dalam dandang selama 2-3 jam. Siap itu dimasukkan isolat Trichoderma sp sekira 1 sendok teh. Setelah itu siap digunakan. Sedangkan Corynebacterium menggunakan rebusan air kentang atau air kelapa ditambah gula pasir.

"Cara menggunakannya, Trichoderma sp ditabur di bedengan tempat bibit bawang ditanam, setelah tumbuh PGPR dan Corynebacterium disemprotkan pada tanaman. Maka hasilnya akan menciptakan produksi memuaskan tanpa residu kimia," kata dia seraya mengatakan, pihaknya menerapkan hal tersebut bersama petani Purba Saribu seluas 2.000 meter.

Sementara itu, Koptan Juma Padang Purba Saribu Pius Sidauruk merasa senang terhadap binaan tersebut karena sangat membantu petani tentang cara bercocok tanam yang baik tanpa menggunakan pestisida.

"Dari segi biaya irit dan produksinya juga bagus karena nol residu kimia sehingga bisa langsung dikonsumsi. Melalui metode ini, petani juga menjadi agen hayati (ramah lingkungan) di Simalungun," ujarnya. (C09/y)





SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru