Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

Tim Reses VIII DPRDSU Temukan Sejumlah Desa di Kawasan Tapanuli Belum Masuk Arus Listrik

*Masyarakat Geram, Penerangan Listrik di Samosir "Melep-elep", Segera Tambah Daya
- Rabu, 19 Maret 2014 10:42 WIB
929 view
Tim Reses VIII DPRDSU Temukan Sejumlah Desa di Kawasan Tapanuli Belum Masuk Arus Listrik
Medan (SIB)- Tim Reses Dapil VIII DPRD Sumut menemukan sejumlah desa di wilayah Tapanuli belum masuk arus listrik, sehingga aktivitas penerangan masyarakat di kawasan itu hanya mengandalkan lampu teplok. Akibatnya, jika malam tiba sangat gelap-gulita, anak-anak sekolah tidak bisa belajar, masyarakat tidak bisa mengakses informasi dan hiburan melalui media televisi.

Temuan itu diungkapkan Ketua  Tim reses Dapil VIII DPRD Sumut yang meliputi Wilayah Tapanuli (Kabupaten Taput, Tobasa, Samosir, Humbahas, Kota Sibolga dan Tapteng) Tohonan Silalahi, SE MM , Wakil Ketua Oloan Simbolon, ST, Sekretaris Drs Biller Pasaribu, anggota Budiman P Nadapdap, SE, Rooslynda Marpaung dan Aduhot Simamora dan Sopar Siburian SH MH kepada wartawan di DPRD Sumut, selasa (18/3/2014).

Tohonan mencontohkan di sejumlah desa dan Dusun Naluhu Desa Hutagurgur di Kecamatan Borbor Kabupaten Tobasa hingga saat ini masih gelap-gulita. Bisa dibayangkan, di zaman modern ini aktivitas masyarakat tanpa listrik, sehingga sangat berdampak kepada semangat belajar anak sekolah sekaligus sulitnya mendapat informasi melalui televisi.

Selain itu, tambah Tohonan yang juga Sekretaris F-PDS ini, Tim VIII  menemukan Desa Lumban Binanga Kecamatan Uluan masih belum mendapatkan penerangan listrik, sehingga masyarakat sangat mengharapkan agar lembaga legislatif mendesak PT PLN segera memasok listrik ke desa mereka, demi menghindari “gelap-gulita” sekaligus meningkatkan aktivitas belajar bagi anak-anak sekolah.

Hal yang sama juga ditemukan di Desa Sanggaran 2 Kecamatan Onan Ganjang Kabupaten Humbahas (Humbang Hasundutan) yang berpenduduk 164 KK (kepala keluarga), tambah Sopar Siburian,  masih “langganan” gelap-gulita dan sudah sangat lama mendambakan pembangunan sarana listrik masuk desa, sehingga besar harapan masyarakat kepada Pempropsu  dan PT PLN untuk memprioritaskan pembangunan listrik ke desa mereka.

“Kita juga menemukan di Desa Sileang-leang, Desa Hadataran, Desa Gonting Salak Kecamatan Garoga Kabupaten Taput (Tapanuli Utara) belum masuk arus listrik, sehingga masyarakat sangat kesal terhadap ulah PT PLN yang belum memprioritaskan desa mereka. Padahal masyarakat di 3 desa tersebut sudah sangat lama mendambakan program Lisdes (listrik masuk desa), agar kampung mereka terang-benderang,” tegas Tohonan Silalahi.

Ditambahkan Sopar, yang lebih menjengkelkan masyarakat tentang listrik masuk desa ini, tiang listrik sudah didirikan dan kabel juga sudah terpasang, tapi belum dialiri arus listrik, sehingga ada anggapan masyarakat seolah-olah telah dilecehkan PT PLN. Kondisi seperti ini terdapat di Desa Topas Kecamatan Garoga Dusun Simataniari Kabupaten Taput.

Untuk menyahuti keluhan masyarakat ini, Tohonan dan seluruh Tim reses Dapil VIII mendesak PT PLN untuk segera memasok arus listrik ke sejumlah desa yang berada di wilayah Tapanuli, agar kawasan itu terhindari dari “gelap-gulita”, sebab tidak zamannya lagi masyarakat menggunakan penerangan lampu teplok, karena Sumut tidak lagi berada pada “zaman batu”, tapi sudah masuk pada zaman modern.

Listrik “Melep-elep”

Dibagian lain keterangannya, Tohonan dan Sopar Siburian juga menyampaikan kegeraman masyarakat Simanampang Desa Nainggolan Kecamatan Nainggolan Kabupaten Samosir melihat kondisi penerangan listrik di rumah-rumah penduduk yang arusnya sangat kecil, sehingga lampu listriknya sangat redup alias “melep-elep”, walaupun lampu yang hidup hanya satu atau dua.

“Masyarakat sangat geram dan kesal melihat kondisi listrik yang arusnya sangat tidak memadai. Hampir di setiap rumah penduduk mengalami redup. Anak-anak tidak bisa belajar, televisi tidak bisa dihidupkan. Desa mereka benar-benar tertinggal. Ini harus segera menjadi perhatian serius dari PT PLN untuk menambah daya listrik. Jangan biarkan masyarakat terus menderita melalui penerangan yang “melep-elep”,” tegas Sopar.

Yang paling mengkuatirkan lagi bagi masyarakat, ujar Tohonan yang juga anggota Komisi C ini, keberadaan kabel listrik yang “telanjang” setinggi 90 centi meter di atas rumah penduduk. Hal ini tentunya sangat berbahaya, sehingga masyarakat sangat mengharapkan pihak PT PLN segera mengganti kabel-kabel listrik yang telanjang tersebut.(A4/w)
 

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 19 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru