Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 14 Februari 2026

Jembatan Gantung Parjalihotan Menganga dan Lapuk, Akses 2 Desa Terisolir Terancam Putus

- Selasa, 17 November 2015 19:08 WIB
627 view
Jembatan Gantung Parjalihotan Menganga dan Lapuk, Akses 2 Desa Terisolir Terancam Putus
SIB/Jan Piter Simorangkir
MENGANGA DAN LAPUK: Pelajar SD dari Dusun Sipiningpining Desa Parjalihotan Kecamatan Pinangsori, Tapteng Senin (16/11), berhati-hati melintasi Jembatan Parjalihotan yang menganga dan lapuk. Akses ke dua desa di seberang sungai itu terancam putus dalam wak
Tapteng (SIB)- Akses jalan penghubung ratusan warga yang tinggal di dua  desa terisolir yakni Dusun Sipiningpining Desa Parjalihotan dan Desa Danau Pandan Kecamatan Pinangsori, Tapanuli Tengah, terancam putus akibat jembatan penghubung (jembatan gantung/rambing) sepanjang 90 meter kondisinya menganga dan lapuk.

Jembatan yang mengalami kerusakan cukup parah dalam seminggu terakhir telah menyulitkan ratusan penduduk. Ratusan petani yang beraktifitas di areal perkebunan di seberang sungai juga mangalami kesulitan. Saat mengangkut hasil-hasil pertanian ke ibukota  Pinang Sori, terpaksa harus menggunakan beko sorong, melewati lantai jembatan yang menganga di atas derasnya arus Sungai (Aek) Lumut.

Noato Herefa, Kepala Desa Parjalihotan menerangkan, kondisi jembatan semakin parah, terutama setelah hujan tiga hari lalu. “Warga yang melintas saat ini sangat khawatir dan angkutan barang beca pengakut kelapa sawit tidak lagi bisa melintas. Sudah sekitar 6 meter badan jembatan putus. Padahal, jembatan ini menjadi akses penghubung kurang lebih 700 Kepala Keluarga," kata Harefa.

Pantauan SIB, Senin ( 16/11), kondisi jembatan saat ini tidak lagi layak dilewati. Yang paling parah, keselamatan pelajar yang setiap hari melintasi jembatan menuju sekolah di pusat ibukota Pinangsori. Anak-anak dari dua desa harus melewati jembatan menuju SD, SMP dan SMA di Pinangsori.

Sebelum jembatan rusak, hasil pertanian seperti karet dan sawit diangkut dengan beca sampan atau betor. Tetapi saat ini, dengan kondisi sebagian besar lantai jembatan sudah menganga dan lapuk, warga terpaksa mengangkut hasil pertaniannya dengan beko sorong.

“Seminggu lalu pun, beca terperosok saat melewati jembatan, karena lantai jembatan  sudah lapuk dan tiga hari lalu sejumlah penduduk yang melintasi  jembatan juga mengalami hal yang sama.  Sekarang sepedamotor pun tidak bisa lagi lewat, hanya yang bernyali besar dapat melewati. Kondisi paling berat ketika malam tiba, penduduk harus ekstra waspada saat melintas,” ujar Paul Douglas Banjarnahor, warga yang tinggal di sekitar Sungai (Aek) Lumut Pinangsori.

Warga lainnya, A Situmeang mengatakan, kondisi jembatan yang putus ini sangat mengancam jiwa ratusan pelajar yang melawati jembatan. ”Lihatlah anak-anak di sana, mereka harus melintasi jembatan saat menuju dan pulang sekolah,” ucapnya.

Dia mengatakan, jembatan tersebut sebenarnya baru direnovasi setahun lalu oleh kontraktor bermarga  Tobing. ”Kita prihatin dengan hasil pekerjaan ini, papan yang baru dipasang sudah lapuk, dan saya dengar dananya dari APBD Tapteng,” ucapnya.

Sementara Riswandi, petani karet yang beraktifitas di seberang sungai juga mengkhawatirkan hal yang sama. "Ratusan petani harus melintasi jembatan ini setiap hari, hasil pertanian juga diangkut melewati jembatan ini. Maka dengan swadaya kita menutup lantai yang berlobang dengan papan, namun kekuatan papan itu kita ragukan,” ucapnya.

Selain jembatan yang rusak, jalan menuju kedua desa juga saat ini sudah cukup parah. Letak kedua desa tersebut hanya sekitar 3 - 4 kilometer dari Bandara FL Lumbantobing Pinangsori. (E06/y)   



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru