Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 14 Februari 2026

Dampak Abu Erupsi Sinabung Petani Karo Kembangkan Tanaman Bawang Prei

- Kamis, 19 November 2015 19:22 WIB
752 view
Dampak Abu Erupsi Sinabung Petani Karo Kembangkan Tanaman Bawang Prei
SIB/Dok
DIALOG: Petani bawang prei Dewan Sembiring didampingi Yosa Ketaren, Selasa (17/ 11) diwawancarai SIB di perladangannya di Desa Surbakti Kecamatan Simpangempat.
Tanah Karo (SIB)- Mengantisipasi dampak abu dari erupsi Sinabung yang  merusak berbagai tanaman hortikultura di Tanah Karo, sejumlah tanaman selektif  mulai dikembangkan petani. Di antaranya tanaman bawang merah dan bawang prei. Bawang prei selama ini produksinya dan kualitasnya terkenal  dari Desa Merdeka (dulu disebut Desa Keling-red) dan Jaranguda Kecamatan Merdeka (dulu Kecamatan Simpangempat-red), kini mulai dikembangkan di wilayah perladangan Surbakti Kecamatan Simpangempat dan wilayah Kecamatan Tiganderket dan Payung.

Demikian diungkapkan  Dewan Sembiring dan sejumlah petani lainnya didampingi Yosa Ketaren kepada SIB, Selasa (17/11).

“Produksi bawang prei di Karo tidak ada bandingnya dari Desa Merdeka dan Jaranguda. Baik besar dan tingginya batang,  aroma, hijaunya daun serta kuantitasnya. Kalau produksi dari perladangan Surbakti Kecamatan Simpangempat ini mutunya jauh berbeda dengan produksi dari Desa Merdeka dan Jaranguda. Kalau di Merdeka dan Jaranguda, bisa berproduksi 23-25 ton/ha, sedangkan di sini bisa mencapai produksi 20 ton/ha,” ujar  Dewan yang mengaku  berasal dari Desa Merdeka.

Pengembangan bawang pre dan bawang merah dari Desa Merdeka dan Jaranguda, karena faktor abu vulkanik Sinabung. Bawang prei dan bawang merah lebih tahan terhadap abu vulkanik. Sedangkan umumnya tanaman lain, tidak tahan terhadap abu vulkanik.

Disinggung SIB tentang nilai jual bawang prei saat ini, Yosa mengakui sangat diminati pasar. Harga Rp6000/kg. Keuntungan lumayan baik untuk membantu perekonomian keluarga dan biaya anak sekolah. (BR2/ r)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru