Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 07 April 2026

Telan Dana Rp5 M, Gereja St Yosef Pandan Berdiri Megah dengan Simbol Batak

- Senin, 28 Desember 2015 18:28 WIB
1.833 view
Telan Dana Rp5 M, Gereja St Yosef Pandan Berdiri Megah dengan Simbol Batak
Gereja Santo Yosef Pandan
Pandan (SIB)- Dengan arsitektur unik dan modern, Gereja Santo (St) Yosef Pandan tampak megah berdiri di pusat Kota Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, tepatnya di Jalan Kartini Aek Tolang. Pembangunan gereja bernuansa "villa" yang sekarang memasuki tahap finishing itu, dipadu dengan simbol ke-Batak-an karya Pastor Paulus Posma Manalu Pr.

Memasuki gedung gereja, pengunjung terlebih dahulu "disuguhi" ornamen lantai teras dengan simbol buah apel dan ular dari batu yang dicor. Simbol itu bermakna awal keberdosaan manusia pada zaman Adam. Sementara bagian dinding  depan tepatnya di atas pintu, ada batu bercorak 2 ikan dan 5 roti, simbol pelayanan Yesus di dunia yang memberi makan 5000 orang. Pada bagian bawah ada ukiran huruf  "AO" yang diartikan alfa omega atau yang pertama dan terakhir.

Ada juga ukiran lilin menyala yang diartikan sebagai pembawa cahaya yang menerangi jiwa dan pikiran setiap orang masuk  gereja. Selain itu, terlihat nama Maria dan Jesus yang dicetak dari cor beton. Huruf tersebut menandakan ruang khusus untuk ibu yang masih menyusui dan ruang khusus untuk pelaksanaan ekaristi atau ruang imam. Hanya saja huruf nama Maria dan Jesus tersebut sangat halus, hanya mampu dilihat orang yang memiliki jiwa seni tinggi.

Pada sisi jendela bagian depan dipasang jerjak besi berornamen kalender (parhalaan) Batak. Bagi pengunjung yang ingin mengetahui hari dalam kalender Batak bisa datang ke gereja, dan bertanya pada Pastor Paroki."Memang semua hari yang diciptakan Allah itu  baik, namun tidak ada salahnya kita mempelajari hari Batak yang diciptakan nenek moyong kita dulu, itu adalah ilmu," kata Pastor  Paulus Posma.

Sedangkan pada bagian dalam bangunan ada rancangan lantai berlapis keramik bermakna "Suhi ni Appang na Opat” yang diapit segitiga bermakna Dalihan na Tolu. Dalam adat Batak, makna tersebut sangat penting pertanda keluarga dekat. Sedang Dalihan na Tolu untuk mengetahui kedudukan dalam kekerabatan.

Lantai keramik dipasang rapi dengan warna hitam dan merah,  bermakna keberdosaan, mengajak setiap umat yang masuk gereja untuk merenung bahwa dirinya seorang berdosa yang akan menerima penyucian diri. "Dalam hidup manusia tidak terlepas dari dosa, dan kita harus mengakui itu supaya kita beroleh penyucian diri," ungkapnya.

Tepat di tengah gereja ada lantai bercorak delapan penjuru mata angin sebagai simbol perpaduan orang yang datang dari seluruh penjuru (desa na ualu).
Sementara dari lantai ke puncak salib dibangun setinggi 33 meter yang diartikan umur Yesus melayani di bumi selama 33 tahun. Di bagian atas altar tampak 12 jendela yang menandakan 12 rasul Yesus.

Sedang bentuk altar sendiri ditata menyerupai mata yang dimaksudkan  mata Allah yang selalu memperhatikan dan memandang manusia. Altar diukir dari batu berkapasitas 12 ton yang dimaknai sebagai simbol kekokohan gereja sebagai batu karang. Batu tersebut diukir Bruder Martinia. Ada juga 2 tiang bercorak piala yang selalu mengingatkan umat pada perayaan ekaristi.

Jika memasuki balkon lantai II,  harus menaiki 12 anak tangga yang menandakan simbol 12 suku Israel, dan di bagian atas ada 8 anak tangga yang bersimbol "sol mi sa si", ciri khas umat Kristiani pandai bernyanyi. "Setiap orang yang naik ke balkon harus mengingatkan kita 12 suku Israel dan sol mi sa si. Ya, untuk menuntun kita belajar bernyanyi," jelasnya.

Pastor mengatakan pembangunan gereja itu sudah berlangsung 7 tahun dan   menghabiskan dana sekira Rp5 miliar. (E05/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru