Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 24 Oktober 2026

Budidaya Buah Naga Mulai Dikembangkan di Karo

- Rabu, 13 Januari 2016 18:29 WIB
3.015 view
Budidaya Buah Naga Mulai Dikembangkan di Karo
SIB/Theopilus Sinulaki
BUAH NAGA: Budidaya tanaman buah naga kian terus berkembang di Karo, tampak areal pertanian sistem organik yang dikembangkan oleh petani buah naga milik Hermantan Perangin-angin di Desa Perbulan Kecamatan Lau Baleng Kabupaten Karo.
Tanah Karo (SIB)- Budidaya tanaman buah naga terus mengalami perkembangan, baik dari segi luas tanaman dan sistem pertanian moderen yang dilakukan melalui pertanian organik di Desa Perbulan Kecamatan Lau Baleng Kabupaten Karo.

Dari hasil tinjauan SIB ke beberapa lahan pertanian buah naga secara terpisah di Kecamatan Lau Baleng dan Mardingding, termasuk ke areal perkebunan buah naga Hermanta Perangin-angin SPd di Desa Perbulan yang luasnya mencapai 2 hektare, diperkirakan luas areal pertanaman buah naga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara khusus, budidaya buah naga di Desa Perbulan terus mengalami peningkatan. Menurut catatan, Desa Perbulan saat ini merupakan desa penghasil buah naga walaupun luas areal pertanamannya masih dalam puluhan hektare. 

Hermanta Perangin-angin (42) penduduk Desa Perbulan, seorang petani yang tengah mengembangkan sistem pertanian organik pada tanaman buah naganya, di lahan seluas 2 hektare, secara kalkulasi dapat menanam 6.200 batang dengan 2.800 tiang penopang batang primer. Menurut Hermanta, tanaman buah naga yang ia tanam pada Mei 2015 lalu, kini sudah memasuki fase pembentukan cabang buah pada tunas baru. Hal itu dilakukan untuk menciptakan bentuk atau ukuran dan rasa buah yang berkualitas. Memang diakui, tanaman buah naga miliknya sudah mulai berbuah walau belum pada waktunya karena masih berusia 7 bulan.

Menurutnya Kecamatan Lau Baleng dan Mardingding salah satu daerah di Kabupaten Karo yang berada di dataran rendah (kondisi tanah kering) sangat cocok untuk budidaya buah naga. Selama ini petani sering gagal panen akibat kemarau, tapi tanaman buah naga merupakan salah satu tanaman yang tahan hidup di tanah kering. Struktur tanaman yang hidup di tanah kering lebih konsisten dengan sistem pertanian organik, apalagi dengan pemberian pupuk kandang dari kotoran kambing tanaman buah naga akan memberikan hasil dan kualitas buah berkualitas.

“Budidaya buah naga sistem pertanian organik, akan memberikan hasil dan kualitas buah serta citra rasa yang berbeda dengan daerah lain. Sementara produksi buah naga selama ini hanya untuk kebutuhan permintaan pasar di kota Kabanjahe dan Berastagi, dengan pertanian organik ini tahun 2016 akan menembus pasar eksport,” katanya. 

Terkait dengan pangsa pasar buah naga, Hermanta mengatakan bahwa harga jual buah naga dari petani dibandrol sebesar Rp 25.000/Kg, sementara harga eceran di pusat pasar mencapai Rp 35 ribu/Kg. Menurutnya, buah naga merupakan salah satu komoditas buah yang kian hari semakin banyak digemari. Karena kandungan dan manfaat buah naga merah sangat terkenal bahkan bermanfaat untuk ibu hamil. Dengan kandungan serat pada buah naga merah yang tinggi dan kaya fiber, tubuh dapat melawan dan mencegah beberapa jenis penyakit seperti serangan jantung, stroke, serta penyakit kardiovaskular lainnya. Kandungan betakarotennya yang tinggi juga mampu mengaktifkan kinerja Vitamin A sehingga dapat memperbaiki kualitas penglihatan, reproduksi serta metabolisme tubuh. (B02/q)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru