Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

Kalangan Warga Minta Polri, Jaksa dan Hakim Perberat Hukuman Pelaku Begal

- Rabu, 07 September 2016 11:28 WIB
318 view
Kalangan Warga Minta Polri, Jaksa dan Hakim Perberat Hukuman Pelaku Begal
Medan (SIB)- Sejumlah warga Desa Laubakeri dan Desa Sampecita meminta agar sebagian alokasi dana desa (ADD) bisa disalurkan untuk pelaksanaan program ekonomi rakyat desa untuk peningkatan taraf hidup maupun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan desa sendiri.

Tokoh masyarakat Desa Laubakeri yang juga wiraswasta mandiri di bidang pengolahan hasil bumi (kebun sirsak, pepaya dan buah-buahan bahan baku minuman jus kemasan), Julius Ginting menyebutkan, kawasan Desa Laubakeri dan Sampecita belakangan ini memang sedang mengalami pergerakan dan pertumbuhan ekonomi dengan sejumlah indikator peningkatan volume transaksi pada berbagai bidang bisnis lokal.

"Ada baiknya dana ADD itu tak hanya digunakan untuk pekerjaan fisik saja, tapi bisa juga untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, karena pemerintah pusat atau Presiden Jokowi sendiri juga sudah menegaskan pentingnya peningkatan kesejahteraan rakyat dengan pemberdayaan ekonomi rakyat yang mandiri, apalagi di desa ini, seperti di desa lainnya juga, banyak warga yang punya potensi dan kemampuan bisnis yang perlu didukung pemerintah dengan modal atau fasilitas lainnya," ujar Julius kepada SIB di Perumahan Bumi Tuntungan, belum lama ini.

Sejumlah aktivitas bisnis yang menjadi indikator pertumbuhan ekonomi di desa itu adalah pertambahan jumlah warung makanan sekelas restoran ayam penyet yang kini mencapai enam unit yaitu Warung Bang Yos, Kantin Annisa, Warung Barokah, Warung Dinda, Taman Solo dan Pojok Sate. Selain itu, juga tampak bermunculan toko-toko alat sekolah, foto-copy, rental komputer, depot cuci pakaian (laundry), doorsmeer, toko swalayan, bengkel otomotif, termasuk sejumlah kedai nasi dan salon.

Sebelumnya, jenis usaha di luar pertanian rakyat lokal seperti usaha jamur tiram dan ternak ayam kampung, bisnis yang hingga kini tampak bertahan sebagai investasi lama adalah usaha peternakan (ayam petelur dan pedaging), kebun jagung dan asam jeruk, ubi kayu dan pakan ternak. Sedangkan bisnis yang sedang berkembang sebagai investasi baru di desa itu adalah properti atau pembangunan perumahan baru yaitu Perumahan Griya Tiara I hingga Griya Tiara III yang merupakan pengembangan dari Perumahan Griya Tiara Tuntungan dan Medan Hills.

Aktivitas ekonomi massal lainnya adalah pasar niaga yang beroperasi mingguan setiap hari Kamis di sekitar Blok X dan Blok I-J di komplek perumahan, yang selalu diisi para peniaga dari Kota Medan atau Pancurbatu bahkan dari Kota Binjai. Lalu, aktivitas ekonomi tradisional tampak di beberapa sungai yang menjadi lokasi pemandian umum untuk rekreasi keluarga dan remaja.

"Desa-desa sekitar ini juga menjadi lintasan para olahragawan pecinta motor balap (trail moto cross), sehingga layak direspon dengan membangun semacam halte wisata lokal yang menyajikan konsumsi para olahragawan itu, misalnya minuman-makanan khas yang sehat. Kalau Pemda bisa membangun pasar tradisionil atau pasar rakyat, tentu pasti bisa membangun halte-halte UKM yang mirip UKM Center di kota-kota," ujar Julius optimis.

Hal senada dicetuskan Amri Husni Nasution dan Andi Dawet, warga setempat selaku pemuda wiraswasta yang selama ini menjalankan usaha kolam lele dan penganan (kue-kue) serta dagang minuman sop buah. Pihaknya juga membutuhkan bantuan modal atau fasilitas untuk pengembangan usaha mereka selaku usaha kecil menengah (UKM) di desa itu.

"Banyak warga yang buka usaha kecil sudah memeroleh dan memiliki surat izin UKM di desa ini. Jadi sayang kalau surat izin ini tak dimanfaatkan, sehingga perlu dukungan juga dari pemerintah untuk penguatan modal," ujar mereka ketika akan mengajukan permohonan bantuan pembinaan usaha ketahanan pangan di kantor Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Sumut. (A04/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru