Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

Januari-Mei Tercatat 1.246 Kasus Gigitan Hewan di Sumut, 5 Tewas Rabies

- Minggu, 18 September 2016 09:42 WIB
339 view
Januari-Mei Tercatat 1.246 Kasus Gigitan Hewan di Sumut, 5 Tewas Rabies
Medan (SIB)- Sepanjang tahun 2016, Dinas Kesehatan Sumut mencatat dari Januari-Mei lalu, sedikitnya 1.246 kasus gigitan hewan yang terjadi di Sumut. Kasus gigitan paling tinggi, berada di Samosir sebanyak 184 kasus, Deliserdang 121 kasus, Tapanuli Utara 120 kasus dan Humbang Hasundutan 108 kasus.

"Bahkan untuk di Kota Medan kasus gigitan hewan yang terjadi juga tinggi. Ada 94 kasus, meskipun tidak ada yang meninggal dunia," kata Kepala Bidang PMK Dinas Kesehatan Sumut melalui Koordinator Program Tular Vektor dan Zoonosis, Teguh Supriadi kepada wartawan, Kamis (15/9).

Pada kasus ini tercatat, sejak Januari hingga Mei sudah lima orang yang meninggal dunia karena rabies. "Ada lima yang meninggal karena rabies, yakni di Sibolga satu kasus, Nias Selatan satu kasus, Humbang Hasundutan dua kasus, dan terakhir di Siantar satu kasus," ungkapnya.

Teguh menjelaskan, berdasarkan perbandingan dalam dua tahun terakhir, jumlah kasus rabies di Sumut memang kecenderungannya mengalami peningkatan. Pada 2014 lalu, kasus rabies yang terjadi 10 kasus, dan di tahun 2015 meningkat menjadi 14 kasus. "Mudah-mudahan di tahun ini kasusnya tidak terjadi peningkatan," sebutnya.

Umumnya, sambung Teguh, masyarakat yang terkena gigitan hewan memang diberi vaksin oleh pemerintah. Namun dari sejumlah kasus yang terjadi, yang terdata hanya 78%. Namun, bukan berarti, sisanya yang lain tidak diberikan vaksin. Hanya saja, hal itu ungkap dia, tidak dilaporkan. "Saya yakin ada 90% kasus gigitan yang divaksin. Sebab, angka kasus rabiesnya kan tidak tinggi," tegasnya.

Untuk itu, Teguh menambahkan, sejumlah daerah yang mengalami kelebihan vaksin akan dishare ke daerah yang kekurangan vaksin. Seperti di Nias Barat kepada Nias Selatan berjumlah 200 vial (suntikan).

"Tetapi memang kita akui beberapa kabupaten mengalami kekurangan, karena dropingnya bertahap. Kita sudah minta ke Kemenkes untuk mendropingnya langsung ke daerah, karena mereka tidak punya dana untuk menjemputnya ke provinsi, apalagi daerah sekarang sudah punya penyimpanannya," pungkasnya. (A18/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru