Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

IDI Medan Dukung KPK Bongkar Aliran Dana dari Pabrik Obat ke Para Dokter

* GP Farmasi Sumut: Pabrik Obat di Sumut Tak Pernah Kerjasama dengan Dokter
- Minggu, 18 September 2016 09:43 WIB
239 view
IDI Medan Dukung KPK Bongkar Aliran Dana dari Pabrik Obat ke Para Dokter
Medan (SIB)- KPK menemukan adanya aliran dana dari perusahaan farmasi atau obat-obatan ke beberapa dokter mencapai Rp800 miliar. Menyikapi hal itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Medan sangat mendukung temuan tersebut dan segera dibongkar.

"Kalau memang ada, supaya dibongkar saja. Jangan sampai nanti menjadi polemik," tegas Ketua IDI Cabang Kota Medan, dr Ramlan Sitompul SpTHT-KL kepada SIB di Medan, Sabtu (17/9).

Menurut dokter spesialis THT (telinga, hidung dan tenggorokan) itu, hal yang menjadi celah bagi sebagian dokter untuk melakukan permainan jual beli obat karena dalam lima tahun, setiap dokter harus dapat memenuhi 250 Satuan Kredit Partisipasi (SKP).

Bahkan, menurutnya lagi, biaya yang dibutuhkan si dokter tidaklah sedikit untuk sebagai syarat melayani masyarakat. "Untuk mendapatkan SKP itu biayanya tidak sedikit. Rata-rata dibutuhkan lebih dari Rp20 juta untuk dokter spesialis, dan lebih sedikit untuk dokter umum," ungkapnya.

Hal inilah, jelas Ramlan yang kerap dimanfaatkan perusahaan farmasi untuk bisa memasarkan produk obat mereka.

"Tetapi ini kembali kepada personal dari masing-masing dokternya. Namun salah satu yang menjadi alasan dari sebagian dokter memang untuk memeroleh biaya SKP mereka," terangnya.

Seharusnya, lanjut Ramlan, permainan obat itu dapat diatasi apabila pemerintah mau menanggung biaya SKP para dokter dari kas APBN. Bukannya, para dokter dibebankan untuk mencari dana tersebut sendiri. "Jadi siapa yang bertanggung- jawab?. Kalau negara mau membiayainya, tentu ini tidak akan menjadi peluang," ujar Ramlan lagi.

Terpisah, Ketua Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Sumut Drs T Amin Wijaya saat dikonfirmasi SIB menyatakan, untuk pabrik obat yang ada di wilayah Sumut tidak pernah melakukan kerjasama dengan pihak dokter.

Karena, untuk di sini obat yang diproduksi merupakan obat generik, obat bebas, serta jenis obat paten yang pemasarannya hanya ditujukan kepada apotik. Kalau di Medan saya jamin tidak ada pabrik yang menjual obatnya kepada dokter. Tapi kalau dari luar hal itu mungkin saja," sebutnya.

Untuk mencegahnya, diakui Amin, sangat sulit dilakukan, karena permainan yang dilakukan petugas  sales medical representative dengan dokter dikatakannya sulit diketahui. "Jika ada yang bermain, memang tidak bisa terendus," bebernya. (A18/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru