Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 07 September 2026

Dr Rita Evalina Rusli MKed: 4 Cara Pencegahan HIV pada Anak

- Jumat, 27 Oktober 2017 10:29 WIB
392 view
Dr Rita Evalina Rusli MKed: 4 Cara Pencegahan HIV pada Anak
Medan (SIB) -Sebanyak 90 persen infeksi dan penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) terjadi kepada anak karena penularan dari ibunya. Retrovirus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menimbulka Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). "Di RSUP H Adam Malik ditemukan kasus baru setiap bulannya untuk kasus tersebut," kata dokter spesialis anak, dr Rita Evalina Rusli MKed (Ped) SpA(K) kepada SIB di Medan, Rabu (25/10).

Menurutnya, sebanyak 20 hingga 50 persen ibu yang positif HIV dan hamil akan menularkan virus tersebut kepada bayi yang dikandungnya. "Kasus HIV anak di Medan dan Sumatera Utara cukup banyak. Mereka kontrol dan mendapatkan obat secara teratur di RSUP Haji Adam Malik. Hampir setiap bulan, di RS ini ditemukan kasus baru. Anak HIV yang rutin kontrol dan mendapat ARV  teratur, sejauh ini kualitas hidupnya cukup baik," ujarnya.

Ia mengatakan, ada empat sumber penularan utama HIV yang perlu diwaspadai, yakni pasangan yang berganti ganti, pengguna narkoba suntik, transfusi darah dan dari ibu ke anak. Penularan dari ibu kepada bayinya sudah terjadi sejak saat dalam kandungan, yakni sebesar lima hingga 10 persen lewat plasenta.
Sedangkan selama proses melahirkan sebesar 10 hingga 20 persen dan dalam proses menyusui dari ASI ibunya penularannya sebesar lima hingga 20 persen.

"HIV tidak ditularkan melalui bersalaman, berpelukan, bersentuhan atau berciuman, penggunaan toilet umum, kolam renang, alat makan atau minum secara bersama ataupun gigitan serangga seperti nyamuk. Untuk mencegah terjadinya HIV pada anak harus dicegah penularan HIV kepada wanita usia produktif," ungkapnya.

Ia menyebutkan, ada empat cara yang harus dilakukan untuk pencegahan HIV pada anak. Di antaranya, pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi, pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan positif HIV, pencegahan penularan HIV dari ibu yang positif HIV dan sedang hamil kepada bayi yang dikandungnya. Lalu terakhir pemberian dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu dengan HIV beserta anak dan keluarganya.

"Dengan melakukan upaya tersebut disertai pengobatan jangka panjang, teratur dan disiplin dari ibu hamil yang positif HIV, maka penularan dari ibu ke anak bisa diturunkan hingga menjadi satu hingga dua persen," jelasnya.

Bila seorang ibu hamil dicurigai terinfeksi HIV, sambungnya, maka ibu harus diperiksa untuk memastikan positif atau negatif. Jika terbukti positif, segera diberikan obat Anti Retro Virus (ARV) supaya perkembangan virus bisa ditekan sehingga kemungkinannya menular ke anak lewat plasenta bisa diminimalisasi.

Begitupun pada anak, setelah anak lahir, maka segera dipastikan tertular HIV atau tidak. Jika positif maka juga harus diberikan ARV. Pada kondisi tidak hamil, bila seorang wanita terbukti positif HIV,  pemberian ARV tergantung sampai sejauh mana kerusakan sistem imun yang sudah terjadi.

"Biasanya anak terinfeksi HIV datang dengan keluhan sering demam, gizi buruk, sering diare, pembesaran kelenjar getah bening, tuberculosis, mulut berjamur dan radang paru. Pada kondisi ini, dokter mulai curiga kemungkinan terinfeksi virus tersebut," terangnya.

Untuk itu, ia mengimbau perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan. Bila terbukti infeksi, maka ARV harus diberikan. Sampai sekarang belum ada bukti bahwa pemberian ARV bisa dihentikan pada seseorang, artinya ARV akan dikonsumsi seumur hidup. "Diharapkan dengan mengkonsumsi ARV teratur, pola hidup sehat, Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) dan Anak Dengan HIV AIDS (ADHA) dapat hidup normal seperti orang atau anak-anak lainnya," cetusnya. (A17/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru