Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 Juli 2026
Sikapi Pernyataan Presiden Soal Besarnya Pengeluaran BPJS Kesehatan

Pengamat Minta Pemda Serius Ajari Masyarakat Pola Hidup Sehat

- Jumat, 09 November 2018 16:45 WIB
434 view
Medan (SIB) -Presiden RI Joko Widodo mengatakan, anggaran untuk membayar biaya BPJS Kesehatan mencapai Rp17 triliun. Hal tersebut diakibatkan  kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga pola hidup sehat.

"Perlu saya informasikan posisi pengeluaran BPJS yaitu untuk jantung Rp9,5 triliun uang kita harus keluar, kanker Rp3 triliun, ginjal Rp2,2 triliun, katarak Rp2,6 triliun dan angka yang lainnya, angka tidak sedikit," kata Jokowi saat menghadiri peresmian pembukaan Pertemuan Kabupaten/Kota Sehat Tahun 2018 di  Kota Tanggerang, Minggu (4/11).

Jokowi mengungkapkan biaya sebesar itu seharusnya tidak dikeluarkan jika masyarakat sadar akan pola hidup sehat. Ia pun meminta masyarakat untuk mengajarkan bagaimana pola hidup sehat ke anak-anaknya, bukan hanya pola hidup enak.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Kesehatan Sumut Destanul Aulia SKM MBA Mec PhD menyebut pernyataan Jokowi itu suatu signal kepada rakyat Indonesia. Artinya, sampai kapan pun rakyat tidak memerbaiki pola kesehatannya, anggaran BPJS Kesehatan akan terus membengkak.

Yang harus dilakukan untuk jangka panjang yaitu membangun paradigma kesehatan masyarakat yaitu fokus kepada program pencegahan dan promosi kesehatan.

"Program itu harus didengungkan  pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta insiatif dinas kesehatan kabupaten/kota se Sumut," kata Destanul kepada wartawan di Medan, Selasa (6/11).

Ia meminta jangan sampai program membangun paradigma kesehatan itu sifatnya simbolis dan tidak memberikan inovasi. Memang, pemerintah pusat terus membuat berbagai program eskalasi, salah satunya pendekatan Indonesia Sehat dengan keluarga," ujarnya.

Destanul meminta Puskesmas harus turun gunung menjemput data rumah ke rumah warga dan melibatkan profesi kesehatan masyarakat (kesmas).

Memang, menurutnya, SDM di Puskesmas kebanyakan profesi dokter, perawat dan bidan. Padahal, profesi Kesmas lebih mengetahui bagaimana menyosialisasikan kesehatan kepada masyarakat.

Profesi Kesmas, dokter, perawat dan bidan dilibatkan turun  dari rumah ke rumah warga guna melakukan pencegahan primer, seperti promosi kesehatan, pendidikan/penyuluhan kesehatan, konsultasi pranikah, pemberdayaan masyarakat, pemberian gizi disesuaikan fase perkembangan kehidupan.

"Menyosialisasikan perlindungan khusus seperti pemberian imunisasi tertentu, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, kesehatan kerja, perlindungan dari kecelakaan, penggunaan nutrisi tertentu, menghindari zat carcinogenik dan menghindari zat alergen," sebutnya.

Selanjutnya, sosialisasi pencegahan sekunder seperti diagnosa dini dan pengobatan, penemuan kasus, skrining individu dan massal, mencegah penyebaran penyakit menular, mencegah komplikasi.

"Melakukan membatasi kecacatan seperti pengobatan yang memadai untuk menghambat proses penyakit dan mencegah komplikasi lebih lanjut, membatasi kecacatan dan mencegah kematian," ungkapnya. (A17/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru