Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 24 April 2026

Pemahaman Kaum Ibu Tentang ASI Eksklusif Masih Rendah di Medan

Redaksi - Selasa, 21 Januari 2020 13:27 WIB
150 view
Pemahaman Kaum Ibu Tentang ASI Eksklusif Masih Rendah di Medan
Foto SIB/Desra Gurusinga
Jelaskan : Anggota DPRD Medan D Edy Eka Suranta S Meliala menjelaskan tentang pemberian ASI kepada bayi, Minggu sore (19/1) saat menggelar sosialisasi Perda No.6 Tahun 2009 tentang KIBBLA di Jalan Ngumban Surbakti Lingkungan II Kelurahan Sempakata Kecamat
Medan (SIB)
Di Kota Medan pemberian ASI eksklusif kepada bayi masih rendah. Masih banyak kaum ibu menyusui yang kurang memahami kualitas air susu ibu (ASI) eksklusif.

Padahal, ASI harusnya menjadi kebutuhan dasar bayi yang baru lahir hingga berusia 6 bulan, ujar Anggota DPRD Medan D Edy Eka Suranta Meliala (Dico), Minggu sore (19/1) saat menggelar Sosialisasi Perda No.6 Tahun 2009 tentang Kesehatan Ibu, Bayi baru lahir, Bayi dan Anak Balita (KIBBLA) di Jalan Ngumban Surbakti Lingkungan II Kelurahan Sempakata Kecamatan Medan Selayang yang dihadiri ratusan warga.

Dalam kesempatan itu, beberapa warga bertanya seputar kesehatan ibu dan ASI. Nd Jenetta Sebayang menyatakan biasanya setelah melahirkan 1 jam, ASI belum keluar, sementara disebutkan sebaiknya anak yang baru lahir 1 jam hendaknya diberi ASI. Apakah hal ini bisa diatasi secara medis atau bagaimana.

Warga lainnya, Tika Wulandari memertanyakan, kenapa ibu yang melahirkan secara caesar atau operasi bedah tidak bisa langsung memberi ASI kepada anaknya. Ibu lainnya, Yuniarti menyarankan sebaiknya ibu-ibu hamil diajarkan senam hamil agar memermudah proses persalinan. "Apakah Dinkes dan DPRD Medan bisa membiayai senam bagi ibu hamil ini," tanyanya.

Menanggapi itu, perwakilan Dinkes Medan, Murni dan dokter dari Puskesmas Medan Selayang menyatakan tidak semua ibu bisa mengeluarkan ASI setelah 1 jam melahirkan. Namun biasanya kalau yang normal, bisa segera keluar ASI nya.

Disebutkannya, sebelum wanita melahirkan ada yang sudah mengeluarkan ASI. Kalau yang lambat keluarnya, biasanya gara-gara si ibu kurang mengonsumsi sayur. Padahal daun katu, kelor, tauge dan daun berwarna hijau sangat baik untuk memerlancar keluarnya ASI, ujarnya. Selain itu, ASI yang pertama kali keluar usai melahirkan sangat baik untuk Balita karena mengandung kolestrum yang berwarna kekuning-kuningan.

Terkait ibu yang melahirkan operasi caesar memang tidak bisa langsung memberikan ASI kepada anaknya karena masih ada pengaruh bius. Terkait senam hamil, memang sangat bagus untuk ibu yang akan dan pasca melahirkan.

Dalam pemaparannya, Politisi Gerindra yang akrab disapa Dico itu menyebutkan Pemko Medan menyediakan pelayanan kesehatan dan pelayanan gizi yang maksimal kepada masyarakat, sehingga mampu menghasilkan generasi baru yang pintar, bijak dan berkualitas. Pemenuhan gizi tersebut dimulai dari ibu-ibu hamil dan menyusui.

Disebutkannya, KIBBLA merupakan salah satu indikator utama tingkat kesejahteraan suatu bangsa dan khususnya suatu daerah yang dapat diukur dari angka kesakitan dan kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan Balita. "Sehingga pemerintah sebagai pelaksana pelayanan kesehatan dan swasta agar lebih berpihak kepada masyarakat sehingga mencapai tujuan pembangunan, ujar Wakil Ketua Komisi IV DPRD Medan ini.

"Untuk itu, penyedia jasa pelayanan kesehatan sesuai pasal 9, wajib memberikan pelayanan KIBBLA yang sesuai dengan standar pelayanan dan mengutamakan pelayanan dalam kondisi darurat tanpa status ekonomi dan jaminan uang muka. Dan bagi fasilitas swasta yang melayani KIBBLA sebagaimana dimaksud pada point b pada Perda tersebut akan mendapat penggantian biaya dari pemerintah daerah jika keluarga tersebut dinyatakan tidak mampu," ujarnya.

Saat ini Dinkes sudah membuat program senam untuk ibu hamil. Masyarakat bisa membuat kelompok dengan beranggotakan 15 orang dan didaftarkan ke Puskesmas terdekat. Dinkes akan memasilitasi kelompok ini, pungkasnya. (M13/d)


SHARE:
komentar
beritaTerbaru