Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 18 April 2026

Anggota Komisi III DPRD Medan Prihatin Kematian Gajah Neneng di KBM

Redaksi - Selasa, 28 Januari 2020 11:17 WIB
147 view
Anggota Komisi III DPRD Medan Prihatin Kematian Gajah Neneng di KBM
waspada.co.id
Anggota Komisi III DPRD Medan, Siti Suciati
Medan (SIB)
Kematian seekor Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis) yang bernama Neneng di Kebun Binatang Medan (KBM) Simalingkar B, mendapatkan komentar dari sejumlah anggota DPRD Medan.

Matinya Neneng yang telah puluhan tahun berada di KBM itu menjadi keprihatinan anggota dewan, walaupun disebutkan karena alasan sakit.

Anggota Komisi III DPRD Medan, Siti Suciati kepada wartawan, Senin (27/1) merasa sedih mengetahui matinya Neneng yang merupakan salah satu kebanggaan KBM. Politisi Gerindra itu mengaku kaget mendengar kabar itu. Walaupun menurut keterangan, petugas dan dokter hewan sudah berupaya merawat demi kesembuhan Neneng.

"Secara usia, Neneng sudah tua. Tak tanggung, 57 botol infus sudah masuk ke dalam tubuh Neneng. Namun, manusia cuma berusaha, tapi takdir menyatakan lain dan akhirnya Neneng mati," ujarnya.

Suci meminta kepada petugas KBM dan tim dokter agar meningkatkan pelayanan dan perawatan terhadap hewan-hewan yang ada di sana. Harusnya, seluruh binatang terus sehat dan menjadi daya pikat bagi wisatawan, baik dalam maupun luar Kota Medan.

"Saya kira, investigasi medis jenazah atau nekropsi (otopsi) untuk memeriksa sebab kematian Neneng, cukup baik dilakukan. Agar kita sama-sama tahu karena apa Neneng mati. Walaupun menurut tim dokter, vitamin dan antibiotik sudah diberikan untuk Neneng ketika sakit. Tapi, proses penyembuhannya sulit karena Neneng enggan makan,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Komisi III lainnya Irwansyah SAg SH yang ditemui terpisah kepada SIB menyebutkan, dirinya turut prihatin dengan matinya gajah di KBM. Namun politisi PKS itu menyebutkan, dirinya melihat adanya kekurangseriusan pihak manajemen dalam mengelola KBM. “Kalau lebih serius dalam mengelola KBM, setidaknya sakitnya hewan yang ada di dalamnya bisa diminimalisir,” ujarnya.

Gajah merupakan aset KBM yang cukup besar, harusnya ada perhatian ekstra dari pengelola sehingga setidaknya akibat usia yang tua lah membuatnya mati, bukan karena penyakit, ujarnya.

Selain merupakan satwa yang dilindungi, gajah perlu dilestarikan. Apalagi di KBM, gajah merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan. Untuk itu Irwansyah menyebutkan, perlu diselidiki penyebab sebenarnya kematian Neneng, sehingga semua jelas. Kalau perlu, bisa juga dilakukan nekropsi terhadap Neneng, agar jelas, ujarnya.

Saat ini, pihaknya melihat pengelolaan KBM sangat kurang. “Warga Medan banyak yang mengunjungi Kebun Binatang di Siantar, padahal di Medan pun ada dan lebih luas,” ujarnya seraya menyebutkan, kurangnya penataan, pengelolaan dan perbaikan infrastruktur baik jalan dan sebagainya, membuat wisatawan enggan berkunjung.

Disebutkannya, sebelumnya pihaknya pernah mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi III dan masalah KBM sudah dibicarakan serta diusulkan pembenahannya.

Pihaknya juga sudah merencanaka ke Bali untuk melihat cara pengelolaan kebun binatang di sana yang mampu menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat besar ke pemerintah. Di Medan, bukannya memberikan PAD besar, malah dari tahun ke tahun terus mengalami kerugian, ujarnya.

Komisi III punya harapan besar terhadap KBM agar bisa menjadi objek wisata besar khususnya satwa, sehingga bisa menyumbang PAD bagi Kota Medan. Selain itu, Irwansyah berharap Dirut PD Pembangunan dan manajemen KBM serius menangani KBM agar bisa maju. “Kalau tidak mampu, silahkan mundur saja,” pungkasnya.

Diduga Faktor Usia
Sementara itu, pihak manajemen menduga faktor kematian tersebut karena faktor usia.

"Ia kalau dugaan kita sakit karena memang faktor usia. Gajah Neneng usianya 55 tahun. Biasanya gajah kalau di alam liar usia hidup sekutar 60 tahun, ''kata Manager Taman Margasatwa Medan Zainul Nasution saat dikonfirmasi SIB Senin (27/1) sore.

Meski demikian, Zainal mengaku pihaknya masih menunggu hasil otopsi pihak BKSDA Sumatera Utara.
"Sudah diotopsi pihak BKSDA. Jadi belum keluar hasilnya," timpal Zainal.

Zainal juga mengatakan, pasca tewasnya Neneng, bangkai mamalia darat terbesar itu sudah dikuburkan pihak Medan Zoo.
Seperti diketahui, gajah Neneng yang sudah dirawat pihak Medan Zoo sejak 20 tahun lalu (setelah dipindahkan dari Jalan Brigjen Katamso) ini mengalami sakit sejak Selasa (21/1) lalu.

Perawat gajah, drh Sucitrawan menyebut Neneng mengalami sakit sejak Selasa (21/1) pagi, diawali tidak mau makan. Akhirnya, pada hari Rabu mulai diambil tindakan dengan memberikan infus larusan glukosa dan Ringer lactat.

"Tindakan yang dilakukan ini sebagai observasi awal dari tim medis hewan di Medan Zoo, dan akhirnya setelah menghabis 57 botol infus, sekira pukul 10.30 pada Sabtu (25/1) lalu Neneng mati," sebut Sucitrawan kepada awak media. (M13/M19/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Teheran(harianSIB.com)Militer Iran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup pada hari Sabtu (18/4/2026). Hal ini disampaikan komando militer