Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

Banjir, 1.270 Hektare Lahan Pertanian Rusak di Sejumlah Kabupaten

Redaksi - Jumat, 13 November 2020 20:23 WIB
907 view
Banjir, 1.270 Hektare Lahan Pertanian Rusak di Sejumlah Kabupaten
Foto Istimewa
Ilustrasi 
Medan (SIB)
Kepala UPT (Unit Perlindungan Tanaman )Pangan dan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara, Marino mengatakan, sejumlah kabupaten di Sumut mengalami bencana alam banjir menyebabkan tanaman mengalami kerusakan.

"Adanya kerusakan lahan pertanian tersebut berdasarkan hasil monitoring petugas kami ke beberapa kabupaten ," ujar Marino, Kamis (12/11).

Disebutnya, bencana alam banjir itu terjadi di antaranya Kabupaten Humbang Hasundutan, Serdang Bedagai dan Asahan .
Di 3 kabupaten ini kerusakan pada tanaman padi sawah dan bawang merah dengan rincian Humbang Hasundutan terkena seluas 2,5 hektar di antaranya puso dengan umur tanaman antara 32-38 hari setelah tanam dengan varietas Ciherang.

"Kerusakan tanaman diakibatkan curah hujan yang tinggi sehingga meluapnya Sungai Aek Silang dan bronjongan jebol, akibatnya tanah sawah terkikis" ujar Marino.

Kemudian, katanya, di Kabupaten Serdang Bedagai terjadi bencana alam banjir seluas 610 hektar di Kecamatan Sei Bamban di antaranya di Desa Sei Belutu 100 hektar, Suka Damai 260 hektar Bakaran Batu 150 hektar dan Kecamatan Tebing Tinggi di Desa Paya Bagas seluas 150 hektar. Rata-rata umur pertamaman 7-30 hari setelah tanam dengan varietas Inpari 32, Mekangga, dan Ciherang yang diakibatkan curah hujan tinggi.

Marino mengatakan berbagai upaya telah dilakukan antara lain dengan menginstruksikan kepada seluruh Pengamat Hama Penyakit (PHP) agar meningkatkan pengamatan untuk melihat perkembangan dampak perubahan iklim terhadap pertanaman petani.

Kemudian mengajak petani membersihkan parit-parit agar segera airnya mengalir dan membuka klep pembuangan air yang masih berfungsi. Diakuinya belum ada bantuan pisik yang diberikan kepada petani.

Ketika ditanya apakah petani yang lahannya terkena bencana tersebut sudah menjadi peserta AUTP ( Asuransi Usaha Tani Padi), Marino mengaku tidak.

Sumber SIB mengatakan, jumlah peserta asuransi khususnya AUTP masih minim. Mereka enggan menjadi peserta karena menganggap tanaman mereka aman dari bencana.(M2/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru