Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026
Datangkan Beras Merah Parsingguran Humbahas

GPIB Immanuel Medan Jual Sembako Bantu Ekonomi Jemaat Terdampak Covid-19

Redaksi - Rabu, 25 November 2020 18:55 WIB
790 view
GPIB Immanuel Medan Jual Sembako Bantu Ekonomi Jemaat Terdampak Covid-19
dok. Istimewa
GPIB Immanuel Medan 
Medan (SIB)
Mulai Oktober 2020, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Sumatera Utara - Aceh (SUA) memfungsikan gereja sebagai pusat niaga warga, khususnya jemaat dalam maksud membantu perekonomian yang terdampak Covid-19. Selama hampir dua bulan, beras merah dari Parsingguran Humbahas menjadi mata niaga primadona.

Demikian diutarakan Ketua Badan Pelaksana Musyawarah Pelayanan (BPMP) GPIB Sumatera utara - Aceh (SUA) Pdt Johnny Alexander Lontoh MMin MTh di Medan, Minggu (22/11). Menurutnya, peran membantu perekonomian jemaat adalah satu dari tiga tugas diakonia. “GPIB mengenal Diakonia Karikatif, Diakonia Reformatif dan Diakonia Transformatif. Soal niaga adalah bagian yang ketiga,” tegasnya sambil mengatakan yang menangani bagian tersebut adalah Ketua tim Pembangunan Ekonomi Gereja (PEG) Pdt Ridwan Hamonangan Purba.

Menurutnya, sejak pandemi Covid-19 mewabah dan berdampak di Indonesia khususnya SU-A, GPIB pun terkena imbas. Jemaat, lanjutnya, jadi sulit karena tiada pemasukan. PEG menransformatifkan di mana seluruh gereja di lingkungan GPIB memberdayakan jemaatnya untuk kreatif. Yang memiliki lahan, diolah hasilnya dipasarkan dengan bantuan gereja. Yang memiliki keahlian lain, seperti masak-memasak, juga demikian.

Khusus untuk hasil pertanian, dalam hal ini beras merah dan kopi serta tomat dikoordinir Pdt Agus Indro Sasmito SSi-Teol dari GPIB Jemaat Mitra Parsingguran Nauli di Parsingguran - Humbahas. “Pasar di Medan suka dengan beras merah organik dan tomat. Bulan lalu, permintaan melebihi produksi. Dibawa ke Medan 1,8 ton beras merah, habis bahkan kurang. Tomat juga, habis,” jelasnya.

Pdt Johnny Lontoh merinci, tiap Rabu, kompleks gereja yang berada di Jalan P Diponegoro - depan Kantor Gubernur SU dijadikan sentra niaga produk dan kreasi jemaat GPIB SU-A. “GPIB hanya sebagai media. Hasil sepenuhnya untuk jemaat. Kiranya pendapatan mereka menjadi bagian dari perpuluhan. Puji Tuhan, meski kebaktian daring, perpuluhan yang didapat GPIB melebihi ekspektasi,” tegasnya.

Yang membahagiakan, lanjutnya, apa yang dilakukan GPIB memutus rantai perkulakan yang dilakukan tengkulak di daerah. “Diskusi dengan Pdt Agus Indro Sasmito, jemaat dari gereja lain di Parsingguran Humbahas, bergabung dengan niaga dengan media gereja. Itu sebabnya mata niaga semakin meningkat,” tambahnya.

Mengenai beras merah, paparnya, diupayakan organik nonurea guna menjamin kualitas yang konon pengonsumsi akan memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2. “Di GPIB beras merah tersebut dijual Rp13,500/kg yang di pasar dijual Rp17.000/kg. Artinya, pembeli diuntungkan,” tutup Pdt Johnny Lontoh. (R10/f)
Sumber
: Harian SIB Edisi Cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru