Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 30 Maret 2026

Banyak Anak Terlibat Geng Motor, Ini Kata Tokoh Pendidikan

Duga Munte - Senin, 02 September 2024 20:14 WIB
596 view
Banyak Anak Terlibat Geng Motor, Ini Kata Tokoh Pendidikan
(Foto: SNN/Dok)
Dr H Sakhyan Asmara MSP
Medan (harianSIB.com)

Fenomena geng motor saat ini sudah jumud atau statis, beku, tak ada perubahan. Walau sudah berulang kali terjadi, namun tidak pernah tuntas diselesaikan sampai ke akar-akarnya.

Hal itu dikatakan Dr H Sakhyan Asmara MSP, tokoh pendidikan Sumatera Utara yang juga mantan Kadis Pendidikan dan mantan Deputi Menpora, ketika dihubungi Jurnalis SIB News Network (SNN), di Medan, Senin (2/9/2024), menyikapi terjadinya bentrok geng motor di Tanjung Morawa hingga menewaskan satu orang.

Dikatakannya, terjadinya bentrok antargeng motor di Tanjung Morawa bahkan di daerah lain, yang sampai merenggut korban jiwa, jelas sangat memprihatinkan.

Alasan mendasar mengapa geng motor masih terus muncul di tengah-tengah pergaulan anak-anak muda khususnya di kalangan remaja, menurut dia, karena kurangnya perhatian, pengakuan dan kasih sayang dari para orang tua di lingkungan keluarganya masing-masing, serta lemahnya kontrol orang tua dalam mengikuti aktivitas keseharian anaknya di lingkungan sosialnya.

"Apalagi anak-anak sekarang sudah kurang tingkat kepatuhannya kepada orang tua dan guru. Banyak peristiwa kita lihat bagaimana anak melawan orang tua maupun guru. Akibatnya, lingkungan pergaulan anak tidak bisa dikontrol dan akhirnya masuk ke lingkungan pergaulan sesat seperti geng motor," katanya.

Selain itu, fenomena geng motor juga tetap tumbuh karena kurangnya wadah pengembangan diri anak-anak muda di sekolah maupun di lingkungan sosialnya. Hampir semua anak muda larut dalam penggunaan media sosial (gadget) yang dapat mengakses berbagai informasi secara tidak terkontrol.

"Bisa dibayangkan informasi apa saja yang terus ditonton oleh anak-anak muda itu atau para remaja itu dan akhirnya ingin mendapatkan identitas diri sebagai orang yang hebat, orang yang jago tapi bukan pada tempatnya," kata Sakhyan.


KURANG KOORDINASI
Dari perspektif birokratif, lanjutnya, fenomena geng motor ini tidak bisa dikendalikan karena kurangnya koordinasi aparat keamanan sampai ke tingkat basis. Babinkamtibmas dan Babinsa yang jumlahnya sangat terbatas, hanya bisa beraktivitas di tingkat kelurahan. Padahal anak anak muda itu bersosialisasi di tingkat lingkungan atau dusun.

Akhirnya aktivitas anak-anak muda atau para remaja itu tidak terpantau oleh Babinkamtibmas maupun Babinsa, sementara Kepala Lingkungan terlalu sibuk mengursi urusan adminisitrasi, sehingga aktivitas pencerahan sosial, komunikasi sosial dan difusi informasi tentang kenakalan remaja di kalangan anak-anak muda, tidak dapat dilaksanakan dan terlepas dari kontrolnya.

"Jika ada koordinasi yang baik antara aparat keamanan, orang tua, guru, pemerintah setempat dan para anggota masyarakat, khususnya para tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda, saya yakin fenomena geng motor bisa dicegah," katanya.

Dikatakannya, mengatasi geng motor, bukan sekadar menghadapi para anak-anak muda atau remaja yang hilir mudik di jalan raya dengan sepeda motor dan mengacung-acungkan senjata tajam.

"Itu adalah hilirnya. Sementara hulunya adalah di lingkungan tempat tinggal, lingkungan keluarga atau lingkungan sekolah. Di sinilah sesungguhnya upaya pencegahan fenomena geng motor itu perlu dilakukan. Jika hal itu tidak dapat dilakukan, maka menjadi penyebab mengapa geng motor sulit diberantas," tegas Sakhyan Asmara. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru