Peran Penad, tambahnya, saat ini tidak hanya sebagai corong informasi, tetapi juga sebagai garda depan dalam menjaga reputasi dan membentuk opini publik yang sehat.
Di era digital dan derasnya arus informasi saat ini, kehadiran penerangan menjadi sangat strategis dalam membendung hoaks, meluruskan disinformasi, serta menyebarluaskan nilai-nilai positif TNI AD kepada masyarakat.
"Tugas ini tentu tidak ringan. Diperlukan sinergi, kreativitas, kecepatan, dan keberanian untuk bersuara dengan benar, di waktu yang tepat, dan dengan cara yang tepat. Penerangan harus hadir tidak hanya di ruang-ruang formal, tetapi juga di ruang publik digital, dengan gaya bahasa yang mengena, narasi yang membangun, dan visualisasi yang menggugah," sebutnya.
Atas pencapaian yang telah didapat, ia berharap ke depannya Penad, dari pusat hingga satuan paling bawah, untuk terus meningkatkan kapasitas, adaptif terhadap teknologi, dan tidak pernah lelah belajar.
"Kita harus siap menjadi penjaga wajah TNI AD yang kredibel, humanis, dan membangun harapanserta mempertahankan posisi kepercayaan publik di tingkat teratas. Penad harus menjadi mitra strategis pimpinan, menjadi jembatan informasi yang akurat, sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat luas," sambungnya.
Ia menegaskan, TNI harus mampu menghadirkan narasi yang menyejukkan di tengah hiruk pikuk sosial media, menjadi agen edukasi yang menguatkan moral publik, dan menjadi pelita dalam setiap krisis komunikasi.
Editor
: Wilfred Manullang