Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

DPRD SU: Harga Pupuk Melonjak, Cabai Murah, PukulanTelak Bagi Petani

Firdaus Peranginangin - Senin, 13 April 2026 12:05 WIB
153 view
DPRD SU: Harga Pupuk Melonjak, Cabai Murah, PukulanTelak Bagi Petani
Foto harian SIB.com/Firdaus
Viktor Silaen SE MM Frans Dante Ginting.

Medan(harianSIB.com)

Petani di Sumut kembali menjerit, setelah "dihantam" anjloknya harga cabai dan kini mereka harus menghadapi "pukulan telak" akibat melonjaknya harga pupuk yang kian tak terkendali di saat memanasnya tensi geopolitik global, khususnya konflik Iran–Amerika Serikat.

Penegasan itu disampaikan anggota Komisi D DPRD Sumut Viktor Silaen SE MM dan anggota Komisi B Frans Dante Ginting kepada wartawan, Senin (13/4/2026) di DPRD Sumut menanggapi kenaikan harga pupuk dan pestisida tanaman, sehingga kondisi ini semakin menekan kehidupan petani.

"Ini pukulan berat. Saat harga hasil panen jatuh, biaya produksi justru melonjak naik. Lonjakan harga pupuk ini dipicu memanasnya tensi geopolitik global, khususnya konflik Iran–Amerika Serikat," ujar Viktor Silaen sembari mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib petani di Sumut saat ini.

Menurut Viktor, adapun harga-harga pupuk yang melonjak naik saat ini, yakni pupuk NPK non-subsidi kini menembus Rp15.600 per kilogram, naik kisaran Rp5.000 per kilogram, pupuk KCL melonjak drastis dari Rp10.000 menjadi Rp13.000 per kilogram.

Baca Juga:
Bahkan pupuk urea non-subsidi, tambah Frans Dante Ginting, meroket tajam dari Rp7.000 menjadi Rp11.000 per kilogram, sehingga kondisi ini membuat biaya produksi petani membengkak semakin tak terkendali.

Melihat fakta ini, lanjut Viktor Silaen, sangat jelas kehidupan petani semakin terjepit. Jika harga pupuk terus merangkak naik, sementara harga hasil pertanian justru ambruk, maka petani berada di posisi yang sangat merugikan.

"Bagaimana petani bisa bertahan kalau biaya tanam semakin mahal, tapi harga jual hasil panen justru jatuh ke titik terendah. Ini bisa membuat petani rugi besar, bahkan terancam gagal melanjutkan usaha taninya," tegas Viktor.

Seperti diketahui, tambah Frans Dante, di lapangan saat ini, harga cabai di tingkat petani mengalami penurunan harga ke titik terendah hanya sekitar Rp8.000 per kilogram. Angka tersebut jauh di bawah harga keekonomian, sehingga petani dipastikan tidak bisa menutupi biaya produksi, apalagi memperoleh keuntungan.

Ditambahkan Frans Dante anggota dewan Dapil Karo, Dairi dan Pakpak Bharat ini, situasi ini sangat berbahaya jika terus dibiarkan. Petani bisa kehilangan semangat untuk menanam, bahkan berpotensi meninggalkan sektor pertanian karena tidak lagi menjanjikan.

"Kalau kondisi ini berlanjut, jangan heran jika ke depan produksi pertanian menurun. Petani bisa kapok menanam cabai karena selalu merugi. Ini bukan hanya soal petani, tapi juga menyangkut ketahanan pangan daerah," ujar Frans Dante yang juga politisi Partai Golkar Sumut ini.

Berkaitan dengan itu, Viktor juga mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret, mulai dari pengendalian harga pupuk non-subsidi, pengawasan distribusi pupuk bersubsidi, hingga intervensi harga komoditas di tingkat petani agar tidak terus jatuh.

Menurut Viktor, diperlukan kebijakan penyangga harga agar petani tidak selalu menjadi pihak yang paling dirugikan dalam rantai distribusi pangan.

"Negara harus hadir. Jangan biarkan petani berjuang sendiri di tengah tekanan global dan permainan pasar. Kalau petani tumbang, sektor pangan kita ikut terancam," pungkas Viktor senada dengan Frans Dante Ginting.(*).

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Aksi Penembakan Brutal di Dua Kota Amerika Serikat, 4 Tewas
KPK Terima Pengembalian Rp8 Miliar dari Suap Anggota DPRD Sumut
Anggota DPRD Sumut Muhri Fauzi Hafis Minta Drainase Jalan Sukarno-Hatta Binjai Timur Diperbaiki
Perusahaan Amerika Serikat Suntik Modal PT INKA Rp 440 Miliar
4 Tersangka Suap Anggota DPRD Sumut Menyusul Segera Disidang
Petani Gambir di Pakpak Bharat Menjerit, Harga Anjlok Rp35.000/Kg
komentar
beritaTerbaru