Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 05 Agustus 2026

Eskalator RS Pirngadi Dua Tahun “Mati Suri”

- Rabu, 27 Mei 2015 10:54 WIB
690 view
Eskalator RS Pirngadi Dua Tahun “Mati Suri”
SIB/Leo Bukit
Eskalator RS Pirngadi yang tidak diaktifkan selama dua tahun. Foto dipetik Selasa (26/5).
Medan (SIB)- Pembangunan gedung berlantai 8 RSUD dr Pirngadi Medan terkesan tidak memiliki konsep dan perencanaan yang baik. Buktinya, eskalator yang dibangun menghabiskan anggaran besar untuk mempermudah pasien menuju ke lantai 2, sudah sekitar dua tahun ini tidak diaktifkan alias ‘mati suri’.

Kasubag Hukum dan Humas RSUD dr Pirngadi Medan Edison Perangin-angin SH MKes MH membenarkan eskalator tersebut sudah dua tahun tidak lagi diaktifkan. "Sudah lama, sekitar dua tahun sejak ibu Direktur Dewi, eskalatornya sudah tidak diaktifkan," kata Edison kepada SIB, Selasa (26/5). Dia berdalih, tidak diaktifkannya eskalator tersebut demi efisiensi karena tidak ada lagi pasien yang sakit di lantai 2. "Dulu, di lantai 2 memang untuk pasien dan ruang Poli. Sekarang Poli dan ruang pasien sudah dipindahkan ke lantai 1. Lantai 2 itu sekarang untuk kantor Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), ruangan keperawatan dan lainnya," jelasnya.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Komisi B DPRD Medan Bahrumsyah menyayangkan tidak diaktifkannya eskalator tersebut. "Itukan diadakan dengan biaya yang besar untuk mempermudah masyarakat berurusan di rumah sakit, jadi harus diberdayakan, dimaksimalkan," tuturnya.

Bahkan politisi PAN ini juga menilai, tidak diaktifkannya eskalator adalah hal yang mubazir apalagi pembiayaannya memakai dana APBD. "Kita tidak tahu itu tidak berfungsi atau tidak difungsikan. Perencanaannya tidak sesuai dengan yang ada di lapangan," ujarnya.

Walaupun dengan alasan efisiensi sehingga eskalator tidak diaktifkan, menurut Bahrumsyah, bukan berarti efisiensi untuk penghematan, tetapi ada sesuatu program atau mata rantai yang terputus.

Dengan tidak diaktifkannya lagi eskalator, Bahrumsyah menilai adanya perencanaan yang salah dari awal, rencana strategis yang tidak matang sehingga terkesan hanya bermental proyek.

Sementara salah seorang warga, Taufik (40) yang mendampingi saudaranya berobat di satu ruang Poli di lantai 1 menilai tidak diaktifkannya lagi eskalator, merupakan hal yang sia-sia. "Sayangkalilah. Berapa dananya untuk buat eskalator, tapi sekarang tidak difungsikan," kata Taufik yang mengaku tinggal di daerah Tembung. (A21/q)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru