Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 05 Maret 2026
Panitia Natal Oikumene Beraudiensi ke Kantor SIB

Natal Sumut: Bersedia Hidup Berbagi, Tapi Menentang Budaya Kerakusan Melalui Spiritualitas Keugaharian

- Minggu, 13 Desember 2015 16:28 WIB
601 view
Natal Sumut: Bersedia Hidup Berbagi, Tapi Menentang Budaya Kerakusan Melalui Spiritualitas Keugaharian
SIB/Leo Bastari Bukit SSos
FOTO BERSAMA: Penjab Harian SIB Drs Victor Siahaan SH foto bersama Ketua Umum Panitia Natal Oikumene Sumut 2015 Japorman Saragih beserta Sekum Pdt Enida Girsang MTh, Ketua Pelaksana Panitia St Jumpatuah Saragih, Bendahara Umum Suriana, Seksi Acara Pdt Mar
Medan (SIB)- Perayaan Natal Oikumene Sumut 2015 akan dilaksanakan di Gedung TD Pardede Hall Medan, Senin (28/12). Meski di dalam suasana keprihatinan dan tidak ada  anggaran ditampung dalam APBD, Natal tetap dilaksanakan, karena yakin Tuhan akan memampukan dalam segala hal.

“Biarlah kasih mengalir di antara kita dan dalam kondisi Sumut seperti ini kita harus tetap berdoa  ke depan akan lebih baik lagi,” ucap Ketua Umum Panitia Natal Oikoumene Sumut 2015, Japorman Saragih ketika beraudiensi ke kantor SIB, Jumat (11/12) diterima Penjab Drs Victor Siahaan SH MHum atas nama Pemred GM Immanuel Panggabean BBA.

Japorman Saragih didampingi Sekum Pdt Enida Girsang MTh, Bendahara Suriana, Ketua Pelaksana St Jumpatuah Saragih, Pdt Marhasil Hutasoit, Pdt Lucia Tobing, Bambang Saragih, Nielrida Purba, B Eyden Sumbayak dan Jamson Tampubolon. Dikatakan, thema Natal Oikumene Sumut tahun ini diangkat dari Kejadian 9:16: “Hidup bersama sebagai keluarga Allah” dan Subtema: “Dengan semangat Natal, mari kita hidup rukun bersama dalam kepelbagaian bersedia hidup berbagi dan berjuang bersama menentang budaya kerakusan melalui spiritualitas keugaharian.

Sekum Pdt Enida Girsang MTh mengatakan, spiritualitas keugaharian artinya berani mengatakan cukup. Inilah cara untuk membentengi diri dari keserakahan dan kerakusan. Ada ketidakadilan yang ditandai dengan kemiskinan di Indonesia, kususnya Sumut karena ditengarai oleh sikap-sikap ketamakan. “Karena itu, panitia Natal Sumut tidak hanya bernatal, tapi juga berbagi kasih kepada pengungsi Sinabung, dan  menyampaikan pesan-pesan moral agar menentang budaya kerakusan,” ucapnya.

Menurut Sekum PGI Wilayah Sumut ini, tindakan penggundulan hutan dan mengeksploitasi tambang adalah pertanda kerakusan dan ketamakan manusia. Tuhan Yesus mengatakan dalam doanya “Berilah kepada kami makanan kami yang secukupnya,”. Itu tandanya Tuhan Yesus mengajak pengikutNya untuk berani mengatakan cukup dan keluar dari kebiasaan tamak. Tidak hanya cukup untuk diri sendiri tapi juga cukup untuk orang lain. Selain itu  di dalamnya ada dibangun sikap untuk berbagi, perduli kepada orang lain agar ikut dicukupkan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Lebih lanjut dikatakannya, bumi ini dijadikan sebagai rumah bersama terhadap sesama makhluk hidup. Bukan hanya manusia, tapi juga hewan dan tumbuh-tumbuhan, karena manusia tidak dapat hidup tanpa lingkungan seperti hewan dan tumbuhan, tapi hewan dan tumbuhan bisa hidup tanpa manusia. “Melalui tema perayaan Natal Oikumene Sumut tahun ini umat Kristen diajak mencintai lingkungan sekeliling, hidup bersama keluarga Allah, hidup bersama dengan yang berbeda agama, suku dan adat istiadat. Orang Kristen harus bisa mengasihi sesamanya walaupun berbeda dalam kebhinekaan di Sumut ini,” terangnya.

Victor Siahaan mengatakan, Harian SIB mendorong warga Kristen agar merayakan Natal dengan kesederhanaan. Perayaan Natal yang dilaksanakan  instansi, kelompok marga maupun organisasi, hendaknya sederhana. Karena sesederhana apapun perayaan Natal itu tidak akan mengurangi maknanya. Yang penting umat Kristiani mengucap syukur karena diberi Tuhan berkat  karunia serta keselamatan  dari dosa lewat penebusan Kristus yang  kita rayakan di hari Natal ini,” tuturnya. (A12/ r)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru