Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Berlatih Untuk Terampil

* Oleh: Upa. Rudiyanto Tanwijaya
- Sabtu, 25 Juli 2015 17:13 WIB
852 view
Berlatih Untuk Terampil
Dalam tulisannya, motivator terkenal kelas dunia Anthony Robbins pernah menulis sebuah kalimat bagus, yaitu "repetition is the mother of skills", yang arti harafiahnya adalah pengulangan adalah ibu dari keahlian.  Benarkah?

Guru agung, Buddha Sakyamuni, dalam kisah pelayanan Dharma-Nya, juga sejak dari awal sudah mengingatkan bahwa ajaran yang disampaikan-Nya harus dipraktikkan, di samping untuk diketahui dan dipahami.

Praktik harus dilakukan secara konsisten dan rutin bukan musiman atau angin-anginan. Demikianlah menjadi umat Buddha yang tangguh, baik secara fisik maupun spiritual.

Untuk itu, dalam setiap melakukan puja bakti, kita senantiasa diajak untuk merenungkan apa yang pantas dilakukan dan apa yang patut untuk dihindari. Perenungan ini kita bacakan sebagai tanda bahwa kita mengetahuinya dan kemudian diminta untuk mempraktikkannya. Sebab, perenungan yang dilakukan berulang kali akan menjadi sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk karakter. Salah satu yang sering kita lafalkan adalah lima aturan kemoralan untuk umat awam (Panca Sila).

Sebagai umat Buddha,  dituntut untuk mampu mempraktikkan kemoralan (sila). Sila, dalam perspektif Buddhis, merupakan salah satu kondisi yang sangat mendukung praktik latihan. Untuk hal ini, Krishnanda Wijaya-mukti - salah satu tokoh pemikir agama Buddha di Indonesia, pernah mengumpamakan bahwa untuk menanam padi di sawah, maka lahan harus dibersihkan terlebih dahulu dari rumput, agar benih padi yang disemai dapat tumbuh dengan baik dan memberikan hasil maksimal. (Wacana Buddha Dharma, 2003; hal.181).  Jadi sebelum praktik lebih lanjut, sila akan membersihkan kekotoran bathin yang timbul dari interaksi indra fisik dengan fenomena yang ada.

Aturan kemoralan utama untuk umat awam dalam agama Buddha terdiri dari lima, yaitu (1) menghindari pembunuhan; (2) menghindari pencurian; (3) menghindari perbuatan asusila; (4) menghindari kata-kata dusta/tidak bermanfaat; dan (5) menghindari makanan yang menimbulkan ketagihan dan menghilangkan kesadaran.

Kelima latihan utama ini bukan hanya diketahui atau dihafalkan melainkan yang terpenting adalah dipraktikkan setiap saat. Mengapa ini penting? Buddhisme melihat praktik sila ini bukan saja memberi manfaat secara individu melainkan juga mendorong terwujudnya kehidupan yang harmonis antar sesama manusia bahkan makhluk di alam semesta ini. Praktik berkelanjutan akan membuat umat Buddha menjadi malu dan takut untuk berbuat hal yang tidak pantas.

"Bagai seorang gembala dengan tongkat mengawasi ternak-ternaknya sehingga mereka tidak berkeliaran dan merusak tanaman orang lain," demikian Buddha menjelaskan manfaat sila. (Mahaparinirvana-pacchimovada-sutra).

Dalam kehidupan nyata, tentu banyak halangan yang timbul dalam kesuksesan menjalankan sila.  Halangan ini bisa menjadi kuat apabila kita tidak memahami apa tujuan kita menjalankan latihan ini.

Sesungguhnya tujuan utama latihan sila adalah untuk membantu manusia melepaskan diri dari roda penderitaan. Dengan sila, manusia akan memiliki nama terhormat, bebas dari kegelisahan, dan memiliki hubungan yang baik dengan sesama.

Dalam pandangan Buddhisme, orang yang tekun dan konsisten menjalankan sila akan bebas dari penyesalan (Anguttara Nikaya V,1). Juga dicintai, dihormati serta disayangi oleh orang lain (Majjhima Nikaya I, 33).

Diakui praktik sila bukan semudah membalikkan telapak tangan. Butuh pemahaman, kesadaran serta tekad untuk bersedia menjalankannya secara rutin, sebagai bagian praktik keseharian kita.

Sebagaimana yang ditulis  Robbins, jika telah menjadi rutinitas serta dilakukan berulang terus secara kontinyu, maka kita akan terampil. Terampil untuk menyelesaikan halangan-halangan yang mampu menghambat kemajuan bathin. Dan tentu saja, terampil dalam mengamalkan nilai-nilai Buddhis, sehingga kelahiran kita sebagai manusia akan lebih bermakna, yaitu mampu memberi manfaat bagi seluruh makhluk di seluruh penjuru semesta alam. Semoga! (*) Penulis merupakan pengurus Media Komunikasi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Sumatera Utara/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru