Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Dari Kekosongan Menuju Kekosongan

* Oleh Upa. Vijaya Rudiyanto Tanwijaya
- Sabtu, 22 Agustus 2015 15:10 WIB
1.107 view
Dari Kekosongan Menuju Kekosongan
Yang Mulia Biksu Hsuan Hua (1918-1995), seorang biksu terkenal yang mendirikan monasteri pertama di Amerika bernama The City of Ten Thousand Buddhas, pernah menyatakan sebuah kalimat yang kemudian menjadi terkenal. Bunyinya begini: "I came from emptiness and I shall return to emptiness. I came into the world with nothing. When I depart, I still do not want everything, and I do not want to leave any traces in the world" (terjemahan sederhananya: saya lahir dari ketiadaan/kekosongan dan akan kembali menuju kekosongan. Saya lahir tanpa membawa apa pun. Saat saya meninggal dunia, saya juga tidak ingin membawa apa-apa dan tidak ingin meninggalkan jejak apa pun di dunia ini). 

Ketika kita dilahirkan, apa yang kita miliki? Bayi-bayi lahir begitu saja dari rahim masing-masing ibunya, belum punya busana, makanan, ataupun barang-barang duniawi. Mereka begitu polos, baik dari segi jiwa maupun materi yang dimiliki. Saat itu mereka begitu tergantung pada orang lain.

Ketika kita meninggal, juga begitu. Apa yang kita miliki? Tubuh menjadi kaku dan tanpa energi kehidupan. Ketampanan dan kecantikan yang selama ini dirawat dengan susah payah akan perlahan luntur dan berganti menjadi fisik  yang memucat, untuk kemudian berubah menjadi menjijikkan.

Pakaian yang melekat pada fisik juga tidak bisa kita bawa, karena juga akan hancur bersama jasad yang membungkus energi kehidupan kita. Rumah yang kita miliki juga akan tetap berada di atas bumi, tanpa bisa ikut bersama kita. Begitu pula kendaraan, uang, perhiasan, dan sebagainya. Tak ada satu kepingpun bisa kita bawa pergi. Termasuk keluarga atau orang-orang yang kita sayangi.  Semua tinggal di dunia ini.

Sebenarnya kondisi ini telah kita ketahui bahkan alami berulang kali. Namun karena tebalnya ketidaktahuan dan kegelapan batin kita, semua ini belum berhasil menggugah kesadaran paling dalam kita. Kita masih merasa bahwa hidup ini serta apa yang kita miliki adalah milik kita selamanya. Inilah akar penderitaan kehidupan.

 Kita mungkin pernah membaca sejarah tentang kebesaran raja-raja, kaisar, panglima perang, ataupun para orang terkemuka. Dulu mereka begitu berkuasa, ternama dan berjaya. Lantas, sekarang, ke manakah semua itu?

Yang tersisa hanya karya kehidupan yang pernah diperbuat. Yang baik akan dipuji dan dinikmati oleh generasi setelahnya. Yang tidak baik akan dikecam. Bagai kata pepatah, jika harimau mati meninggalkan belang maka manusia mati hanya meninggalkan nama. Itu saja. Sangat sederhana, memang.

Sehingga, jika ada yang beranggapan bahwa dalam kehidupan adalah segala-galanya, itu adalah pemikiran yang tidak bijaksana. Sesungguhnya hidup ini tidak berarti. Apa sesungguhnya yang kita kerjakan dalam hidup ini? Makan, tidur, buang air, dan seterusnya berulang-ulang. Sampai saatnya, apa yang kita miliki di dunia ini, juga tidak akan bisa kita bawa ketika kita meninggal.

Lantas kalau kehidupan ini tidak berarti bagaimana? Nah, kita-lah yang harus membuatnya menjadi berarti. Dalam Buddhisme, yang diutamakan adalah kualitas kehidupan. Kehidupan yang berkualitas bersumber dari perbuatan yang baik dan bajik. Dan kita ketahui, kebajikan lahir dari ketulusan, yang bebas kepentingan dan tanpa pamrih. Kita melakukannya semata karena tanggung jawab sebagai manusia, makhluk yang punya akal dan budi. Bukan untuk dipuji, dielu-elukan, dimuliakan atau dicatat dalam sejarah.

Tak heran, dalam satu kisah, diceritakan tentang Kaisar Liang Wu Ti  yang bertanya pada sesepuh Zen, Bodhidharma, tentang seberapa besar pahala yang diperolehnya karena sudah banyak membangun wihara dan mencetak kitab suci. Bodhidharma hanya menjawab singkat, "tidak ada." Akibatnya, kaisar merasa marah besar atas jawaban tersebut dan mengusir Bodhidharma dari istananya. Padahal apa yang dijawab oleh Bodhidharma tidak salah. Bahwa perbuatan baik yang diikuti oleh kesombongan dan keserakahan adalah bukan perbuatan baik karena nilai kebajikannya nol. Perbuatan bajik harus bebas dari nafsu rendah.
Maka dengan demikian, apa yang dikatakan oleh Mahabiksu Hsuan Hua benar adanya. Dari kekosongan, sebetulnya, kita akan kembali menuju kekosongan.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru