Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Tekad Kuat Dalam Kebajikan

* Oleh: Upa.Rudiyanto Tanwijaya
- Sabtu, 26 September 2015 16:36 WIB
1.550 view
Tekad Kuat Dalam Kebajikan
Dalam satu kesempatan, seorang umat mengeluh. Menurut pengakuannya, ia sering berbuat baik tapi mengapa kehidupannya begitu banyak hambatan? Ia seolah menyalahkan bahwa ternyata berbuat baik tidak berguna.

Umat di atas mungkin tidak sendiri. Sepertinya banyak diantara kita yang juga pernah mengalami hal yang sama. Sudah berkeinginan baik, ujung-ujungnya malah hidup penuh rintangan.

Sebelum dijelaskan, kita - sebagai umat Buddha hendaknya melihat pada kisah hidup Buddha Sakyamuni sendiri. Kita semua tahu bahwa Buddha, sebagai Yang Sempurna dan Yang Terberkahi, dengan Maha Welas Asih yang luar biasa, merupakan sosok yang tiada henti ingin membebaskan kita dari penderitaan. Beliau dengan tekun dan sabar yang sempurna, membimbing manusia dengan ajaran-Nya yang penuh dengan kedamaian. Tapi apakah semua berjalan mulus?

Kita pernah membaca bahwa sepupu Buddha sendiri, Devadattha, pun tak berhenti ingin mencelakakan-Nya. Atau Cinca yang menuduh Buddha menghamili dirinya. Termasuk juga Buddha harus menghadapi gajah liar yang mengamuk dan hampir membunuh diri-Nya. Apakah Buddha gentar dengan semua itu? Tidak. Ia menghadapinya dengan tenang dan damai, sebagaimana kekuatan Cinta Kasih yang terpancar dari batin-Nya.

Dalam sejarah perkembangan agama Buddha yang lebih kontemporer, seorang pemikir Buddhis yang sangat terkenal, Nagarjuna, bertekad untuk mengabdikan hidupnya untuk kebaikan hidup semua makhluk. Ternyata ini juga tidak mudah. Ketika Nagarjuna menetap di Rajagrha untuk bermeditasi dalam rangka

mewujudkan tekad-Nya tersebut, serentetan kejadian menyeramkan melanda dirinya. Dituliskan bahwa pada hari pertama, makhluk-makhluk sejenis setan yang berkekuatan tinggi membuat gempa dahsyat. Hari kedua, makhluk setan tersebut menimbulkan banjir. Hari ketiga dan keempat, memunculkan badai besar. Hari kelima, turun hujan senjata. Hari keenam, disusul hujan batu. Dan pada hari ketujuh, para setan tersebut menampakkan dirinya dan melemparkan apapun yang ada di sekitar mereka kepada Nagarjuna. Tapi Nagarjuna tetap tenang dalam meditasinya. Singkat cerita, kumpulan makhluk setan tersebut kemudian menjadi pengikut dan pelindung Nagarjuna dalam tekadnya untuk membahagiakan semua makhluk. (Guru Pewaris Jalan: 40-43).

Jadi, Guru Agung seperti Buddha ataupun Nagarjuna sekalipun tak lepas dari rintangan-rintangan kehidupan. Juga banyak sekali sesepuh kita lainnya. Tak jarang mereka juga mengalami ancaman nyawa bahkan ada yang kehilangan nyawa sekali pun. Tapi apakah mereka lantas mundur dari tekad mulia mereka? Tidak, tentunya.

Ajaran Buddha telah mengingatkan kita bahwa semua membutuhkan proses yang sangat kompleks. Hidup kita tak lepas dari sebab, untuk itu kita akan menuai akibat. Semuanya saling berhubungan erat. Bukan sepihak dan dipermudah.

Buddha tidak pernah mengajarkan bahwa dengan berbuat baik maka semua keinginan kita akan tercapai. Tidak. Kita tidak diajarkan untuk bermental opportunistis. Bahwa kalau kita berbuat baik maka apa yang kita minta akan terwujud begitu saja.

Berbuat baik harus tulus dan bebas kepentingan. Dalam berlatih kebajikan tidak seperti berlaku bisnis yang selalu mengukur dari neraca untung dan rugi.

Kita harus memahami bahwa perbuatan baik yang kita lakukan akan menimbulkan satu akibat. Sedangkan rintangan yang kita alami adalah buah akibat dari sebab yang lain. Kita tidak bisa melihatnya sebagai satu kesatuan karena masing-masing aksi perbuatan akan menimbulkan akibat tersendiri.

Setiap satu tekad maka akan terbentang satu jalan, demikian kata kalimat bijak dari Tiongkok. Maka kita jangan keburu melemah, putus asa atau frustrasi. Jalanilah dengan penuh kesadaran tanpa pernah menyerah.

Yang terpenting adalah kita jangan pernah bosan berbuat kebajikan. Hanya dengan kebajikan maka kita akan menyelamatkan diri ini sekaligus juga makhluk lain.
Berbuat bajik harus dilakukan secara konsisten dengan penuh kebijaksanaan. Jangan tunggu hasilnya, karena itu akan memudarkan motivasi mulia kita. Kita percaya, bahwa apa pun yang kita perbuat akan mengundang akibat. Tak perlu ditunggu karena cepat atau lambat akan segera dipetik hasilnya. (Penulis adalah Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Sumut/h)
 


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru