Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Menguji Kebenaran

Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
- Sabtu, 14 November 2015 10:50 WIB
1.244 view
Menguji Kebenaran
Ajaran Sang Buddha memberikan penjelasan yang jernih tentang bagaimana kejadian dan masalah dalam kehidupan ini terjadi dan bagaimana cara menghadapinya dengan sikap terbaik. Dalam berbagai bentuk, ajaran Buddha disampaikan melalui pendekatan yang masuk akal dan ilmiah. Ajaran Sang Buddha mengajarkan kita untuk tidak menerima apa pun dengan iman yang buta. Sebelum mempercayai suatu ajaran, umat Buddha diminta berpikir kembali, menguji  dan melihat sendiri apakah benar masuk akal. Cara ini mirip seperti cara pemahaman suatu ilmu pengetahuan, yang meminta kita membuktikan hasil sebuah percobaan dengan cara mengulang kembali percobaan itu, dan hanya setelah percobaan terbukti baru hasil tersebut diterima sebagai fakta.

Dalam tulisan pada Glimpse of Reality oleh Berzin, Alexander dan Chodron, Thubten menyebutkan dalam kehidupan penuh keterbukaan saat ini, orang lebih suka membeli sesuatu barang dengan mengujinya terlebih dahulu. Demikian juga, sedikit sekali orang modern yang akan berpaling pada agama yang lain tanpa terlebih dahulu memeriksa untuk melihat apakah ajaran atau filsafat hidup itu masuk akal atau tidak. Kondisi tersebut menjadikan Agama Buddha menarik bagi banyak orang di abad ke duapuluh ini karena tidak hanya terbuka bagi penyelidikan secara ilmiah bahkan malah mengundang orang untuk menguji sebelum mempercayainya.

Ajaran Sang Buddha memiliki sikap yang sangat terbuka dalam menguji kebenaran. Ada banyak ungkapan para ilmuwan dan pemimpin agama Buddha, seperti Einstein dan Dalai Lama yang disukai dalam membahas dan menyelidiki kenyataan kehidupan ini. Buddha berkata bahwa semua masalah berasal dari ketidakpahaman kita akan kenyataan ataupun karena  kebingungan kita menghadapi kenyataan. Jika kita menyadari siapa kita dan bagaimana dunia dan kita ada, kita tidak akan menciptakan masalah dari kebingungan kita.

Untuk memberikan pemahaman yang baik bagi pengikutnya dalm memahami kenyataan kehidupan, ajaran Buddha diajarkan dengan beragam cara dikarenakan keragaman masyarakat yang ada. Tidak semua orang berpikiran sama seperti halnya dalam cara berpakaian. Jika hanya ada satu pakaian yang tersedia di kota, tentu saja tidak banyak orang yang tertarik. Di lain pihak, jika terdapat beragam pakaian dapat dinikmati dengan beragam warna dan gaya, setiap orang bisa menemukan sesuatu yang menarik sesuai pilihannya. Demikian juga, Buddha mengajar dengan cara yang beraneka ragam bagi orang-orang dengan selera bermacam-macam, supaya ajaran tersebut lebih mudah dipahami dan dapat  digunakan untuk mengembangkan dan menumbuhkan diri menghadapi realita kehidupan ini. Di atas segalanya, tujuan agama Buddha adalah mengatasi segala batasan dan masalah kita serta menyadari segala daya kita agar kita dapat mengembangkan diri sampai pada tataran kita dapat menolong diri sendiri dan setiap orang sekuat mungkin.

Dengan cara yang sama, ajaran Sang Buddha lebih mudah dipahami karena menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi dan pendekatan beragam jenis penekanan yang bergantung pada watak-watak budaya yang utama. Mengikuti cara para guru terdidik di masa lalu yang telah menyesuaikan dengan kebudayaan tiap masyarakat yang menjadi lahan penyebaran ajaran Sang Buddha, secara alami para guru di masa kini juga menyajikan agama Buddha di berbagai negara modern dengan cara yang lebih menekankan pada penjelasan yang dapat diterima akal sehat dan disesuaikan dengan kebutuhan realitas kehidupan masyarakat tertentu.

Dengan pendekatan kebutuhan umatnya, Agama Buddha kini menyebar dengan pesat di seluruh dunia. Di beberapa negara Barat yang menitikberatkan perhatian pada ilmu kejiwaan seperti Swiss dan Amerika Serikat, Agama Buddha dapat dipahami dari sudut pandang ilmu kejiwaan. Di negara-negara lain tempat orang lebih menyukai pendekatan kebaktian, seperti di banyak wilayah di Eropa bagian Selatan dan di Amerika Latin, ajaran Buddha dapat dinikmati dalam sikap kebaktian pula. Orang-orang di sana sangat menyukai lantunan, dan orang dapat melakukan hal itu dalam praktik ajaran Buddha. Akan tetapi, orang-orang di berbagai negara di Eropa bagian Utara tidak begitu menyenangi lantunan. Ajaran Buddha lebih disukai karena pola cendekia.

Sementara itu, banyak orang di Eropa Timur hidup dalam keadaan yang menyedihkan. Ajaran-ajaran Buddha sangat menarik perhatian mereka karena banyak dari mereka merasakan kehidupan yang kosong. Kerja keras atau tidak tampaknya tak ada bedanya seolah tidak ada hasil yang kelihatan. Agama Buddha, sebaliknya, mengajarkan pada mereka cara untuk bekerja bagi diri mereka sendiri, yang membawa hasil yang membuat perbedaan dalam mutu kehidupan mereka. Hal ini membuat masyarakat di sana, dan ini hampir sukar dipercaya, sangat menghargai dan bersemangat untuk melibatkan diri secara penuh dalam latihan-latihan diri.

Dalam cara ini, agama Buddha menyesuaikan dirinya pada kebudayaan dan tabiat orang-orang dalam tiap masyarakat, sekaligus melestarikan ajaran-ajaran Buddha yang utama. Ajaran-ajaran pokok tidak berubah - tujuannya adalah mengatasi masalah dan batasan kita serta menyadari daya yang kita punya. Tergantung para penganut melakukan ini dengan lebih menekankan pada pendekatan dari sisi ilmu kejiwaan, kecendekiawanan, keilmiahan, atau kebaktian, hal itu bergantung pada kebudayaannya. (r)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru