Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Karakter Pemusuh Dakwah

* Oleh : Islahuddin Panggabean S.Pd
- Jumat, 10 Februari 2017 17:45 WIB
265 view
Karakter Pemusuh Dakwah
Surat Asy-Syu'ara ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Surah ini adalah surah kedua terpanjang dari segi jumlah banyaknya ayat setelah surah al-Baqarah. Namun, surah ini bukan surah yang terpanjang kedua, sebab kendati banyak ayat, namun singkat kalimat-kalimat dalam setiap ayat.
Menurut M. Quraish Shihab surah ini bertujuan utama untuk menghibur Nabi yang banyak ditentang kaumnya dengan setidaknya 7 kisah Nabi yang mencakup 180 ayat dalam surah ini.

Dinamakan Asy Syu'araa' (kata jamak dari Asy Syaa'ir yang berarti penyair) diambil dari kata Asy Syuaraa' yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, di kala Allah s.w.t. secara khusus menyebutkan kedudukan penyair- penyair. Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul; mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan.

Kedudukan penyair di masa itu- menurut para ilmuwan- kurang lebih seperti media massa sekarang. Tepatnya media penyebar hoax. Melalui mereka inilah berita-berita menyebar. Mereka memanipulasi berita dan persepsi masyarakat terhadap sesuatu maupun orang tertentu. Mereka, dengan kemampuannya, bisa dengan mudah mengangkat derajat seseorang atau sebaliknya, mendiskreditkan seseorang, terlepas dari benar atau tidaknya sudut pandang mereka.

Surah Asy-Syua'ra sendiri banyak memuat tema tentang seperti apa karakter yang memusuhi dakwah Islam. Merekalah pelaku kezaliman sejak zaman Rasulullah, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan seterusnya hingga ditutup para penyair (media) yang turut andil dalam memusuhi dakwah Islam. Sebagaimana dijelaskan bahwa ayat ini disebut sebagai penghibur hati Nabi dan orang yang berjuang di jalan kebaikan.

Allah mengangkat kisah para Anbiya sebagai bekal Rasulullah & kita ummat beliau dlm menghadapi kaum yang zalim itu dan sebagai refleksi setiap diri muslim untuk menghindari sifat-sifat tersebut. Pertama Pimpinan yang Tiran. Dalam surat dikisahkan kisah Nabi Musa yang ALLAH perintahkan berdakwah kepada Firaun yang tiran, kejam, kuat dan kaya raya serta ayah angkat Nabi Musa sendiri.

Firaun dalam memadamkan dakwah Nabi Musa, mengumbar-umbar kasus pembunuhan yang dilakukan Musa & menyebutnya sebagai orang yang tidak tahu berterimakasih pada Firaun yang telah mengasuhnya. Inilah gaya pertama penolakan dakwah; yaitu dengan propaganda. Membesar-besarkan sisi-sisi kelemahan yg dimiliki para dai.  Dengan harapan para dai akan hilang integritasnya di hadapan manusia. Dengan begitu, dakwah yang disampaikan menjadi tak didengar lagi oleh masyarakat.

Padahal propaganda itu hanyalah strategi menutupi kezaliman mereka yang lebih besar. Musa hanya membunuh dengan tidak sengaja 1 orang sementara Firaun sudah membunuh 70.000 bayi. Kebaikan Firaun kepada Musa juga tidak ada artinya karena saat yang sama, Firaun memperbudak ribuan Bani Israil.

Kedua, Masyarakat yang Kolot. Terambil dari kisah Nabi Ibrahim. Dalam surah ini, yang diangkat adalah kisah Ibrahim menghadapi kebebalan kaumnya yang menyembah berhala. Apa sebab mereka keukeuh menyembah berhala? Hanya karena ini sudah menjadi tradisi kuat dari nenek moyangnya. (26 : 74). Inilah bentuk musuh dakwah Islam berikutnya, yakni masyarakat yang kolot. Sehingga, apapun argumentasi yang demikian terang diberikan, mereka tetap keukeuh dalam kebodohannya.

Ketiga, Kaum Liberal. Berbanding terbalik dengan kaum Ibrahim, al-Quran kemudian menggambarkan umat Nabi Hud cukup mapan, kelas menengah & berpikir liberal. Umat Nabi Hud justru menyebut syariat agama Allah sebagai kebiasaan orang-orang terdahulu. (26:137). Dan salah satu ciri mereka yang liberal ini adalah datang dari kelas terpelajar yang mapan dan memiliki kekayaan cukup (26 : 132-135). Namun sayangnya ilmu pengetahuan dan kekayaan tidak disertai iman.

Keempat, Bangsawan yang Sombong. Ada lagi kaum Nabi Nuh yg sombong, datang dari kalangan bangsawan. Mereka menentang Nuh hanya karena pengikutnya dari kalangan bawah. Ada penolakan pada kebenaran, hanya karena diserukan oleh kaum proletar. Ini kezaliman kaum Nabi Nuh yang diangkat dlm surah ini (26:111)

Kelima, Pemilik Teknologi yang Merusak. Selanjutnya al-Quran menceritakan kezaliman kaum Nabi Shaleh yang memiliki teknologi tinggi di masanya. Pakar agrikultur & arsitektur (QS 26 : 147-149). Namun teknologi yang mereka miliki digunakan melampaui batas dan  merusak. Pada akhirnya, mereka melanggar perjanjian dengan Allah.

Keenam, Kaum yang Rusak Moral dan Fitrahnya. Kemudian diceritakan juga bejatnya kaum Nabi Luth yang melakukan penyimpangan moral yang bahkan belum pernah ada sebelumnya. Kezaliman homoseksual, penyimpangan moral yang tak masuk akal. Ketujuh, Pebisnis yang Curang. Dalam surah ini diceritakan kezaliman kaum Nabi Syuaib yang gemar berkhianat dalam perdagangan; merusak sistem ekonomi dan menyusahkan masyarakat banyak untuk kepentingan pribadi.

Dan kelompok di atas semuanya, dilengkapi oleh 1 golongan lagi yaitu Kedelapan, para penyair, seniman ataupun media massa penebar hoax. Ketika seseorang baik itu penyair, pekerja seni maupun pekerja di media massa masa kini- menggunakan kemampuan mereka semata hanya untuk memanipulasi kebenaran dan berpropaganda sehingga kepalsuan dianggap menjadi kebenaran, apalagi sebagai upaya memusuhi dakwah Islam, maka hal-hal seperti itulah yang dikecam al-Quran.

Demikianlah karakter kaum yang zalim dalam surah ini. Pemilik karakter tersebut yang kerap memusuhi gerakan dakwah Islam yang berisi perbaikan kebaikan. Sedangkan kezaliman bisa saja tidak dilakukan oleh musyrik saja. Sebagaimana makna zalim di sini termasuk juga munafik. Oleh karena itu, hakikatnya seorang muslim bisa saja menjadi musuh bagi agamanya sendiri jika terdapat kemunafikan dalam diri hingga mewujud pada sifat-sifat di atas seperti pemimpin yang tirani, kekolotan, sombong, liberal dan sebagainya.

Selain karakter penghalang dakwah, dalam surah Asy-Syu'ara ini juga terdapat ciri utama pejuang dakwah Islam. Itu tersirat dari ucapan yang senada yang diucapkan oleh para pemegang risalah (rasul). Ciri para mujahid itu adalah mereka yang tidak berhenti mengajak masyarakat untuk bertaqwa kepada Allah, membuktikan diri bahwa mereka terpercaya dan taat kepada arahan para nabi (kalau sekarang, ulama pewaris nabi). Serta mereka yang berjuang dengan tulus ikhlas kepada Allah tanpa meminta imbalan atas usaha tersebut.

Penutup
Surah Asy-Syu'ara setidaknya memuat karakter lawan dakwah islamiyah. Karakter-karakter tersebut hendaknya dihindari setiap muslim pada dirinya. Dalam surah ini, juga terdapat karakter pejuang dakwah Islam. Semoga terdapat dalam diri. Wallahua'lam. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru