Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Nia Matondang, Putri Wartawan SIB Ingin Seperti Susi Susanti

- Senin, 26 Februari 2018 19:12 WIB
838 view
Nia Matondang, Putri Wartawan SIB Ingin Seperti Susi Susanti
SIB/Dok
FOTO BERSAMA : Putri Wartawam SIB Labura Nurul Tetra Junia Br Matondang foto bersama pemain bulu tangkis dunia Susi Susanti usai mengikuti audisi bulu tangkis di Kudus, Jateng beberapa waktu lalu.
Aekkanopan (SIB) -Nurul Tetra Junia boru Matondang yang lahir di Aekkanopan Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumut 24 Juni 2007 mempunyai impian ingin menjadi pemain bulu tangkis dunia seperti Susi Susanti yang meraih emas pada Olimpiade Barcelona 1992.

Nia, sapaan sulung dari empat bersaudara yang semuanya perempuan. Kakaknya tertuanya bernama Nurul Annisa Matondang, masih kuliah di USU Medan mengambil program studi Ilmu Hukum dan pernah mendapat juara pada English Festival bertaraf  nasional yang digelar Universitas Udayana Bali untuk kategori news reading.

Kakak keduanya bernama Nurul Fitri Isnaini Matondang, pelajar kelas 2 aliyah di MAS Yayasan Islamic Centre Medan dan telah mampu menghafal beberapa juz Al-Quran dan kakak ketiganya bernama Nurul Tri Ashayudha Matondang, pelajar kelas 2 tsanawiyah di MTsN Damulipekan, Kecamatan Kualuh Selatan yang memiliki prestasi juara 2 umum di kelasnya.

Ayahnya Chairul Fahmi Matondang berprofesi sebagai jurnalis salah satu koran terlaris di Sumut  (SKH Sinar Indonesia Baru) dan juga merupakan atlet sepak bola di klub PS Kanopan Putra tahun 1990 an dan pernah membawa almamaternya juara liga mahasiswa Sumut tahun 1991. Ibunya bernama Nurasiah Nasution, juga merupakan mantan atlet bola voli di Aekkanopan pada tahun 1990 an.

Untuk mewujudkan impiannya, pelajar kelas V SDN Glantengan Kudus, Kabupaten Kudus, Provinsi Jateng mulai berlatih bulu tangkis sejak berumur 8 tahun (masih kelas III SD) di klub PB Sulhas Aekkanopan, tepanya pada Juli 2015. Berlatih mulai pagi, mulai pukul 05.30 WIB sampai pukul 06.30 WIB dan dilanjutkan pada sore hari, mulai pukul 14.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB.

Sekolahnya tetap berjalan kendati jadwal latihannya padat. " Harus pandai-pandai membagi waktu lah. Saat masih bersekolah di SD Alwashliyah 81 Aekkanopan, dia juara 3 di kelas,  tapi sebelum ikut menekuni bulu tangkis dia selalu juara 1," ujar ayahnya.

Sama halnya saat berada di Kudus, sekolah tidak terganggu, latihan bulu tangkis pagi dan sore terus ditekuni di GOR Jati Kudus dan GOR Kaliputu Kudus.
"Selaku orangtua, keinginan dan impiannya untuk menjadi pemain bulu tangkis dunia harus didukung," imbuh ayahnya.

Nia itu mempunyai karakter keras, bersemangat dan rajin berlatih. Hasilnya, setelah 8 bulan berlatih, dia berhasil meraih juara 1 pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) SD tingkat Kecamatan Kualuh Hulu dan beberapa bulan setelahnya meraih juara 1 pada kejuaraan bulu tangkis Piala Kapolres Tebingtinggi untuk kelompok umur U-11.

"Sederet prestasi tingkat nasional diraihnya dan pernah juga mengikuti kejuaraan bulu tangkis bertaraf international di Batam," jelas pelatihnya Rizky Ariamdani Munthe.

Prestasi terbaik, gadis cilik yang senang berambut pendek itu berhasil meraih juara pada Daihatsu Astec Open Pekanbaru tahun 2017 dan mendapat beasiswa berlatih di PB Djarum Kudus setelah terpilih pada audisi yang digelar PB Djarum tahun 2017. "Optimislah, impiannya menjadi pemain bulu tangkis dunia seperti Susi Susanti terwujud," jelas Ketua PBSI Labura Hotman Kosnen.

Keyakinan impian cewek penggemar film kartun itu dapat menjadi pemain dunia seperti istri Alan Budi Kesuma turut disebutkan Ketua PB Sulhas Aekkanopan Parlindungan Napitupulu. "Semangat dan kegigihan yang diperlihatkan cewek penyayang kucing itu saat berlatih dan bertanding membuat kami yakin impiannya terwujud," imbuh Parlindungan.

Optimis untuk menjadi pemain bulu tangkis dunia turut diungkapkan Nurasiah Nasution,  ibunya Nia. Dia beberapa kali gagal dalam mengikuti kejuaraan bulu tangkis dan saat gagal, cewek kecil yang jago renang itu juga beberapa kali menangis karena kesal atas kekalahannya bertanding.

"Cewek tomboi yang mudah senyum itu pernah menangis membuat saya juga ikut menangis," kata mamanya. Dia menangis karena kalah pada babak semi final  pada audis PB Jaya Raya Jakarta tahun 2016 dan saya menangis karena disebutkannya tidak bisa menjadi juara, tidak dapat membahagiakan mama dan ayah.

Gadis yang memiliki ciri khas memakai anting-anting hanya sebelah kiri itu juga menangis saat gagal pada kejuaraan bulu tangkis bertaraf international Banda Baru Jaya Open Championship 2016 di Batam, Provinsi Kepri. "Alhamdulillah, kendati gagal, bukan membuat patah semangat, tapi sepertinya dijadikan pelajaran dan cambuk untuk lebih giat berlatih," jelas mamanya.

Mohon dukungan dan doa agar Nia yang telah bergabung di PB Djarum Kudus sejak Oktober 2017 itu tetap sehat, tetap semangat dan dapat berprestasi dan akhirnya dapat terwujud impiannya menjadi pemain bulu tangkis dunia seperti Susi Susanti, harap mamanya. (F09/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru