Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Pasar Tunggal ASEAN 2015, Apa Kabar?

(Suatu Tinjauan dari Sudut Interpreneurship, Produktivitas dan Inovasi Teknologi)
- Selasa, 08 April 2014 14:31 WIB
635 view
Pasar Tunggal ASEAN 2015, Apa Kabar?
(Bagian 2)

Sehubungan dengan terus meningkatnya harga BBM hingga mendekati akhir tahun 1970-an dan sulitnya industri otomotif Amerika merubah disain produk-produknya yang boros energi tersebut, produk-produk otomotif Jepang akhirnya keluar sebagai pemenang. Dengan dukungan sistem manajemen mutu yang menyatu dengan budaya, Jepang secara intensif menerapkan berbagai konsep baru seperti quality control circle, kanban, jidoka, TPM dan lain-lain pada perusahaan-perusahaan industri manufaktur.  Kekalahan Amerika Serikat tidak hanya berakhir pada industri otomotif tetapi bahkan merambat ke industri kimia dan kemudian ke industri elektronik. Pada titik ini, publik Amerika Serikat kelihatan sudah mulai pasrah dan memperlihatkan tendensi bahwa mereka tidak termotivasi lagi untuk menyaingi Jepang. Publik, politisi bahkan para pejabat pemerintah hampir tidak berbeda pendapat bahwa ekonomi manufakturing Amerika Serikat sudah berakhir. Kini harapan mereka tinggal pada sektor tertier (perdagangan, transportasi, telekomunikasi, keuangan  dan lain-lain). Dalam sektor ini Amerika Serikat belum mendapat persaingan yang berarti sehingga mereka bertekad untuk tetap unggul. Kontribusi sektor sektor tertier ini dan sektor non-manufaktur lainnya harus terus dipacu sehingga mendominasi PDB negara tersebut.

Setelah kebijakan ekonomi yang berfokus pada pengembangan sektor tertier tersebut diterapkan beberapa tahun dan membiarkan apa adanya sektor sekunder yaitu industri manufaktur, hasil yang dicapai ternyata sangat berbeda dengan harapan. Bukan hanya sektor industri manufakturing yang menurun, pertumbuhan sektor tertier tersebut seperti keuangan, telekomunikasi, perhotelan dan lain-lain juga sulit dipertahankan apalagi ditingkatkan. Permintaan atas jasa perusahaan tersebut merosot sejalan dengan merosotnya industri-industri manufaktur.  Menghadapi situasi yang diluar harapan ini para ekonom kemudian menyadari adanya korelasi yang kuat antara pertumbuhan sektor tertier dan sektor sekunder. Mereka yang menggunakan jasa perhotelan, perdagangan, keuangan, telekomunikasi ternyata sebagian besar adalah mereka yang mengelola industri manufaktur. Manakala pertumbuhan sektor manufaktur merosot karena tidak dibina lagi maka dalam jangka waktu tidak lama sektor tertier juga menjadi merosot.

Melihat kenyataan ini, Amerika Serikat kemudian merubah arah dan berupaya untuk menumbuhkan kembali ekonomi manufakturing. Strategi yang digunakan ialah peningkatan produktivitas sumberdaya manufakturing terutama produktivitas tenaga kerja di sektor tersebut. Bahwa setiap unit sumberdaya yang digunakan harus memberikan output secara maksimum. Mereka menyadari bahwa dalam proses produksi, mereka sangat boros menggunakan sumberdaya. Tidak hanya dalam energi tetapi juga tenaga kerja yang tarifnya sangat mahal. Sekedar contoh, pada masa lalu  industri otomotif Amerika Serikat membutuhkan  rata-rata 35 man-hours untuk menghasilkan 1 unit kendaraan, sedangkan  Jerman 23 man-hours bahkan di Jepang hanya 15 man-hours. Bagaimana mungkin produk otomotif ke dua negara tersebut bersaing dengan produk otomotif Jepang?

Kampanye nasional tentang peningkatan produktivitas tenaga kerja di seluruh Amerika Serikat kemudian digalakkan tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh para politisi, lembaga-lembaga pendidikan (Perguruan Tinggi) dan tidak ketinggalan asosiasi profesi. Mereka memberikan berbagai jenis bantuan antara lain pelatihan peningatan produktivitas tenaga kerja pada perusahaan-perusahaan industri, mengadakan seminar untuk mengkaji masalah yang dihadapi, berbagai bantuan tenaga ahli dan informasi bagi perusahaan manufaktur skala kecil dan menengah dan sebagainya. Hasilnya cukup manjur, industri manufaktur Amerika Serikat terangkat kembali walaupun masih jauh dari pencapaian daya saing sebelumnya. Meroketnya pertumbuhan industri otomotif Jepang yang produk-produknya telah merambah di seluruh dunia sangat mempersulit pertumbuhan industri otomotif Amerika Serikat. Kita sering membaca berita tentang masih banyaknya industri perakitan milik GMC yang ditutup sehubungan dengan kenaikan harga bahan bakar.

Pengalaman Amerika Serikat ini tentu memberikan pengetahuan yang cukup bernilai tentang apa yang akan terjadi di perekonomian Indonesia jika de-indusrtialiasi kita biarkan berlangsung terus. Sektor perdagangan, keuangan, perhotelan juga diperkirakan akan merosot apabila terus penggalakan perdagangan produk-produk impor terus berlanjut pada pada ujungnya perekonomian nasional akan semakin rontok. Menggalakkan pertumbuhan sektor industri manufaktur haruslah dengan cara pengolahan produk-produk sektor primer domestik menjadi produk-produk industri yang memiliki nilai tambah (value added) yang lebih tinggi. Strategi ini juga sangat efektif  dalam membuka lapangan kerja baru. Sangat tidak berdasar untuk meninggalkan sektor sekunder karena sektor ini  karena Indonesia sangat kaya dengan produk-produk sektor primer dapat digunakan sebagai bahan baku sektor manufaktur.
Pengalaman Amerika Serikat sungguh sangat berharga untuk dipelajari. Menjadi pedagang atau menggalakkan perdagangan akan sangat tepat apabila komoditas yang diperdagangkan tersebut sebagian besar adalah produk-produk industri manufaktur domestik. Oleh karena itu pertumbuhan sektor industri manufaktur harus digalakkan dan dijadikan sehingga akan ekonomi manufakturing menjadi kebanggaan nasional seperti halnya dengan Jepang yang sangat bangga dengan ekonomi manufakturingnya. Mereka lebih bangga bekerja di kilang-kilang pengolahan dari pada bekerja di kantor-kantor, perhotelan atau lantai bursa. "Production is the real wealth", demikian kata mereka. Jepang sungguh merupakan sebuah model dalam hal bekerja yang sangat pantas ditiru terutama oleh masyarakat di negara sedang berkembang seperti Indonesia.

Inovasi Teknologi

Peran teknologi dan inovasi dalam membangun daya saing suatu bangsa telah lama disadari dan diungkapkan dalam berbagai kesempatan. Menurut World Bank,  kontribusi inovasi dan teknologi dalam membangun daya saing suatu bangsa masing-masing 45 % dan 20 %, sisanya ialah 25 % merupakan kontribusi dari kemampuan membangun dan memanfaatkan jejaring (network) dan 10 % kontribusi dari sumberdaya alam. Ke tiga faktor inovasi, teknologi dan kemampuan memanfaatkan jejaring terkait dengan kualitas sumberdaya manusia.

Inovasi pada dasarnya adalah suatu kegiatan yang bersifat pioner (pioneering activity) yang berakar utama pada kompetensi internal perusahaan untuk mengembangkan dan memperkenalkan produk baru ke pasar untuk pertama kalinya (Kim, L & Nelson, R.R.). Daya inovatif suatu negara akan terlihat dari banyaknya produk-produk baru atau produk-produk lama yang telah dikembangkan yang diperkenalkan ke pasar).  Pasar-pasar Indonesia memang semakin padat dengan produk-produk baru, tetapi sebagian besar berupa barang impor sementara ekspor bahan baku dari daerah ini tetap mengalami pertumbuhan yang tinggi.

Tingginya komposisi ekspor bahan baku dari Indonesia memastikan bahwa sebagian besar potensi nilai tambah dari sumberdaya alam Indonesia dinikmati oleh negara-negara importir seperi India, China, Jepang dan lain-lain.  Negara-negara Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong yang dikenal sebagai negara yang sangat miskin dengan sumberdaya alam berhasil membangun daya saing sektor industri manufaktur  mereka melalui proses inovasi dan pemanfaatan teknologi secara intensif.Hongkong merupakan salah satu negara yang berhasil membangun budaya inovasi dan teknologi (innovation and technology culture) melalui pembentukan ITC (Innovation Technology Center). ITC setiap bulan menyelenggarakan Innotech Month yang meliputi berbagai aktivitas yaitu exhibitions, seminars, guided tours, workshops, talkshow, technology competitions dan industry conference dengan tujuan membangkitkan daya inovasi dan teknologi masyarakat. ITC Hongkong berdasarkan pengalamannya mengatakan bahwa inovasi dan teknologi merupakan penggerak (driver)  pertumbuhan ekonomi dan kunci dalam membangun daya saing global bagi produk-produk industri Hongkong.

Tranformasi Ekonomi  Kearah Dominasi Sektor Manufaktur

Cukup banyak alasan mengapa sistem ekonomi negara seperti Indonesia yang kaya bahan baku yaitu produk sektor primer (pertanian, peternakan, perikanan dan pertambangan / penggalian) harus bergerak menuju ekonomi manufakturing. Kita semua menyadari bahwa  tidak sedikit keunggulan sektor manufakturing terhadap sektor pertanian dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Jika perekonomian Indonesia tetap berbasis pada sektor pertanian maka tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, peningkatan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat akan terus berjalan lambat karena produk-produk yang dihasilkan hanya memiliki nilai tambah yang rendah.

Ada dua teori yang dapat kita gunakan untuk tetap optimis dalam membangun konversi ekonomi nasional kearah ekonomi manufakturing yaiturelated and supporting industry theory dan demand condition theory. Menurut teori pertama yaitu related and supporting industry theory, ketersediaan input (bahan mentah / bahan baku) yang terjamin akan mendorong munculnya industri manufakturing dan industri lain yang berkaitan dengannya. Di Italy dan Spanyol misalnya, potensi besar bahan baku kulit yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan peternakan di kedua negara tersebut tidak hanya mendorong tumbuhnya perusahaan-perusahaan industri penyamakan kulit tetapi juga menumbuhkan industri mesin-mesin pembuatan produk-produk dari bahan kulit, sekolah-sekolah kejuruan pengolahan kulit dan lembaga-lembaga pelatihan pembuatan rancangan (design) produk-produk dari kulit. Hal ini membuat ke dua negara tersebut berhasil membangun / memiliki komoditi unggulan pada tingkat internasional dalam produk-produk kulit.

Teori kedua yaitu demand condition theory, besarnya permintaan terhadap produk tertentu sangat potensial untuk mendorong tumbuhnya industri dan kegiatan ekonomi lainnya untuk menghasilkan komoditi tersebut. Tingginya permintaan atau besarnya daya tarik masyarakat Jepang terhadap barang-barang elektronik dan kelistrikan telah mendorong para enterpreneur negara tersebut membangun dan mengembangkan industri elektronika dan produk-produk kelistrikan lainnya. Kedua jenis produk tersebut kemudian tumbuh menjadi komoditi unggulan Jepang.   

Situasi yang demikian ternyata tidak terjadi di Indonesia. Kendati ragam dan volume bahan mentah dan bahan baku yang dihasilkan  sangat besar, Indonesia hingga saat ini belum memiliki komoditi unggulan. Komodoti unggulan (leading commodity )ialah komoditi yang seluruh input dan proses produksi yang didukung oleh penelitian pengembangan yang handal dikuasai sepenuhnya oleh negara tersebut. Indonesia memiliki cukup banyak komoditi andalan yaitu komoditi yang dominan dalam pembentukan GDP tetapi kurang kuat dalam menghadapi persaingan. Dari sudut demand condition juga menunjukkan hal yang serupa. Maraknya produk-produk makanan dari bahan coklat misalnya merupakan potensi besar untuk tumbuhnya indutri bahan makanan yang mengolah biji coklat produksi dalam negeri. Tingginya produk-produk makanan dari coklat menunjukkan hal tersebut tidak terjadi.

Belajar dari pengalaman negara-negara lain yang telah berhasil membangun daya saing ekonomi mereka, tiba saatnya Indonesia mengambil langkah-langkah strategis dalam menciptakan perekonomian Indonesia bergerak ke arah ekonomi manufakturing. Strategi yang perlu diadopsi sebenarnya telah banyak dibahas walaupun hingga kini masih terkesan sebagai wacana. Pembangunan cluster industry berbasis sumber daya lokal seperti kelapa sawit, karet, hasil-hasil pertambangan disertai dengan pengembangan dan penyebarluasan hasil-hasil R&D sudah saatnya diimplementasikan sebagai salah satu langkah strategis dalam rekayasa sektor industri. Pembangunan cluster industry memiliki multiplier effect yang tinggi karena efektif untuk mendorong tumbuhnya produk-produk baru dan juga pertumbuhan sektor-sektor (related and supporting industry theory) .

Kunci dari transformasi tersebut terletak kepada keberhasilan Indonesia dalam pembudayaan  inovasi dan peningkatan enterpreneurship, pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas tenaga kerja nasional.  Keempat faktor di atas harus sejalan dan dibangun secara serentak. Pengalaman Hongkong  yang mendirikan ITC (Innovation and Technology Center) untuk membudayakan dan memasyarakatkan inovasi dan teknologi dan Amerika Serikat dalam menumbuhkan produktivitas tenaga kerja perlu dipelajari dan ditiru   sesegera mungkin. Pembangunan ITC Indonesia dapat dimulai dengan melakukan kerjasama antara perusahaan-perusahaan industri, dengan lembaga-lembaga penelitian ilmiah dan Perguruan Tinggi. Peran Perguruan Tinggi secara khusus  juga tidak kalah penting dalam memasyarakatkan inovasi dan teknologi. Perguruan Tinggi yang mengelola pendidikan teknik perlu lebih memfokuskan kurikulum pada muatan yang semakin dekat dengan rekayasa manufaktur dan pengembangan inovasi dan teknologi pengolahan sumber daya alam Indonesia.

Penulis:  Sukaria Sinulingga, Guru Besar USU dalam  bidang ilmu Production Control, dan mengasuh mata pelajaran Productivity Engineering dan Quality Engineering di Departemen Teknik Industri, dan juga tenaga pengajar dalam mata pelajaran Business Environment di Program Magister Manajemen USU/c )

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru