Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Harapan Warga Jemaat pada Sinode Godang HKBP

* Oleh Viktor Silaen, SE MM
- Rabu, 14 September 2016 11:08 WIB
1.015 view
Harapan Warga Jemaat pada Sinode Godang HKBP
Penyelenggaraan Sinode Godang HKBP, 12-18 September 2016 di Seminarium Sipoholon membersitkan secercah harapan baru. Terlebih karena salah satu agenda utama Sinode Godang ini adalah memilih jajaran pimpinan HKBP pada aras pusat (hatopan), yaitu Ephorus, Sekjen, Kadep Koinonia, Marturia, Diakonia, juga pimpinan pada tingkat distrik terdiri dari 30 Praeses.

Pimpinan HKBP yang akan terpilih pada Sinode Godang ini mengemban tugas selama empat tahun ke depan, 2016-2020. Para warga jemaat mengharapkan pimpinan HKBP ke depan dapat semakin meningkatkan mutu pelayanan di tengah-tengah jemaat maupun masyarakat. Bahkan harus memantapkan bahwa pelayanan gereja bertumbuh bersama masyarakat. 

Peran seluruh peserta Sinode Godang sangat signifikan dalam menentukan siapa sosok pimpinan HKBP periode 2016-2020. Karena setiap peserta Sinode Godang mempunyai hak suara untuk memilih seorang calon pimpinan HKBP pada aras pusat.

Dalam kaitan itu, kita mengharapkan para peserta Sinode Godang agar terlebih dahulu mengenal dan memahami karakter kandidat atau bakal calon pimpinan HKBP ke depan. Para peserta Sinode Godang patut pula meminta para kandidat untuk memaparkan program-programnya selama empat tahun ke depan.
Pemaparan program tersebut urgen diadakan sebelum proses pemilihan agar setiap peserta Sinode Godang dapat menyelami gagasan dan cakrawala pemikiran dari masing-masing kandidat. Setiap peserta  Sinode Godang seyogianya memilih pimpinan HKBP yang tidak banyak mengumbar janji, tetapi yang sungguh-sungguh mencintai jemaat (na martondi huria).

Berdemokrasi ala HKBP
Jauh sebelum penyelenggaraan Sinode Godang ini, beberapa pendeta telah menyatakan diri sebagai kandidat atau bakal calon pimpinan pusat HKBP periode 2016-2020. Para kandidat sering mengadakan pertemuan di beberapa rumah, gereja, balai pertemuan, restoran, hotel dan tempat lainnya.

Pertemuan-pertemuan tersebut juga dikemas dalam berbagai bentuk acara, antara lain bedah buku, mendengar aspirasi warga jemaat, kebaktian. Tetapi apapun kemasan acara yang dipublikasikan, intinya adalah mempromosikan diri dan mendulang dukungan suara.

Rangkaian pertemuan maupun kegiatan yang dilakukan setiap kandidat pasti membutuhkan biaya yang cukup besar. Hal ini mengindikasikan betapa mahal biaya berdemokrasi ala HKBP untuk memilih pimpinan HKBP. Sistem berdemokrasi ala HKBP yang juga mewujud dalam format Sinode Godang membutuhkan biaya yang sangat besar. Biaya dimaksud bukan sebatas finansial, melainkan juga energi dan modal sosial. Semua ini tidak akan sia-sia apabila bermuara pada sebuah hasil produktivitas di Sinode Godang.

Sinode Godang HKBP dapat disebut memiliki produktivitas jika mampu melahirkan pemimpin yang kapabel, jujur, bersih, berani dan mampu mengakomodasi semua kepentingan serta memperdayakan potensi-potensi para pelayan maupun warga jemaat. Produktivitas Sinode Godang juga tercermin dari rumusan program-program strategis untuk lebih mendewasakan iman jemaat dan meningkatkan taraf hidup secara sosial-ekonomis. Selain itu,  terkait dengan produktivitas Sinode Godang, kiranya Sinode Godang ini dapat memformulasikan rekomomendasi untuk disampaikan kepada pemerintah. Rekomendasi dimaksud hendaklah dengan lugas menyikapi isu-isu konkret dan aktual, seperti tentang kebebasan mendirikan rumah ibadah, memberdayakan perekonomian rakyat, pelestarian lingkungan hidup, memerangi narkoba dan HIV-AIDS, terorisme, dan lain-lain.

Harapan Bersama
Produktivitas Sinode Godang tersebut di atas hendaklah dibarengi dengan hasil pemilihan sosok pimpinan HKBP empat tahun ke depan. Berdasarkan observasi empiris dan percakapan informal bersama kalangan warga jemaat HKBP dapat diungkapkan secercah harapan bersama.

Warga jemaat mengharapkan pimpinan HKBP ke depan harus mampu melakukan terobosan baru berlandaskan suatu kajian akademis dan profesional, yang mencakup hal-hal sebagai berikut:

a.     Menciptakan prosedur dan kriteria untuk menjadi calon pimpinan HKBP secara obyektif dan terukur. Kriteria dimaksud tidak cukup hanya masa kerja dan mengandalkan gelar akademis tertentu, melainkan hendaklah disertai dengan prosedur mengikuti jenjang edukasi kepemimpinan.

b.     Mewujudkan sistem keuangan yang transparan dan mudah diakses oleh jemaat-jemaat.

c.     Menciptakan data base seluruh jemaat, bila perlu dengan sistem e-kartu tanda warga jemaat.

d.     Membuat daftar aset serta mengkalkulasi nilai harta kekayaan HKBP yang dapat dipertanggungjawabkan secara de jure dan de facto.

e.     Mengelola harta kekayaan HKBP saat ini dan mendirikan suatu badan usaha yang multinasional serta dikelola secara profesional.

f.     Menyusun rencana anggaran biaya dan rencana anggaran pendapatan HKBP selama satu periode kepemimpinan.

g.     Menetapkan program kerja atau program pelayanan selama satu periode kepemimpinan.

h.     Mewujudkan sistem sentralisasi penggajian para pelayan penuh waktu (pendeta, guru huria, bibelvrow, diakones), sehingga setiap pelayan penuh waktu tidak perlu takut ditempatkan ke daerah manapun karena penggajiannya sudah terjamin berdasarkan jenjang kepangkatan.

Tuhan telah menganugerahkan harta kekayaan yang melimpah ruah kepada HKBP. Hal ini bukan sekadar dalam bentuk aset seperti universitas, rumah sakit, percetakan, sekolah, mess atau penginapan, gedung gereja, dan lain sebagainya, tetapi terlebih lagi sumber daya warga jemaat yang memiliki pendidikan dan dedikasi yang tinggi.  Sudah saatnya HKBP mengembangkan aset yang ada, misalnya membuat mess jadi hotel, menambah jumlah rumah sakit, universitas dan sekolah. Semua ini berpeluang terwujud jika pimpinan HKBP merangkul dan memberdayakan potensi warga jemaat demi kemajuan HKBP.      

Seyogianya HKBP yang akan mencapai usia 155 tahun pada 7 Oktober 2016 dapat melakukan pelayanan yang lebih aktual sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi informasi. Ibarat suatu perusahaan dalam usia lebih dari satu setengah abad jika dikelola secara profesional akan memberi kontribusi nyata kepada masyarakat, bangsa dan negara.

Proses Bermusyawarah
Menjelang Sinode Godang HKBP kali ini terdapat empat nama pendeta yang sering disebut sebagai kandidat atau bakal calon Ephorus HKBP periode 2016-2020, yaitu Pdt David F Sibuea MTh DMin Pdt Dr Robinson Butarbutar, Pdt Saut Sirait MTh dan Pdt Dr Darwin Lumbantobing.

Menjadi pertanyaan, apakah keempat nama tersebut sudah merupakan putra terbaik HKBP saat ini yang layak memimpin HKBP untuk empat tahun ke depan? Kalau kita yakin bahwa keempat nama itu dapat memimpin dan membawa HKBP lebih maju, maka bukankah lebih elegan apabila peserta Sinode Godang dan para tokoh HKBP mengajak keempat nama tersebut menempuh proses bermusyawarah dan bermufakat?

Dasar pemikiran tentang upaya bermusyawarah itu relevan, karena dalam kepemimpinan HKBP yang bersifat kolektif terdapat lima orang unsur pimpinan, yakni Ephorus, Kadep Koinonia, Kadep Marturia, Kadep Diakonia serta Sekjen. Kita berharap para peserta Sinode Godang dan tokoh-tokoh HKBP berinisiatif memotivasi keempat kandidat tersebut untuk bermusyawarah dan bermufakat agar para kandidat berkenan menempati posisi tertentu sesuai dengan kompetensi masing-masing. Kita juga mengharapkan para kandidat bersedia dan lebih terbuka untuk mengakui kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Hal ini tentu sangat berguna dan selaras dengan makna petuah arif orang Batak: "Manat asa unang tartuktuk, jamot asa unang tarjollung".

Para pendukung masing-masing kandidat juga hendaklah aktif mendorong para kandidat untuk mengutamakan musyawarah dan mufakat ketimbang harus terjebak pada suasana persaingan atau kompetisi. Pada saat bersamaan, setiap kandidat kiranya lebih mengandalkan kuasa Roh Kudus untuk memilih pimpinan HKBP, sedangkan peran manusia biarlah hanya sebagai instrumen saja.

Memasuki tahun terakhir kepemimpinan HKBP periode 2012-2016 diadakan program "Tahun Keluarga". Spirit dari tahun keluarga ini patut kita ejawantahkan dalam tata cara pemilihan pimpinan HKBP, yaitu gelora "kekeluargaan", mengutamakan musyawarah dan mufakat.

Kita tentu dapat memahami bahwa HKBP identik dengan orang Batak. Orang Batak adalah anak ni raja, bukan anak ni raja  na parajarajahon atau na pajolojolohon. Tetapi identitas kita sebagai anak ni raja menggarisbawahi kesetaraan, kemitra-sejajaran yang saling menghormati, saling menghargai dan saling mengasihi. Suasana berdemokrasi dalam Sinode Godang HKBP hendaklah mencitrakan identitas kita sebagai anak ni raja, yang pantas jadi suri teladan bagi jemaat dan masyarakat. Sehingga suksesi kepemimpinan HKBP akan menjadi acuan dan kontibusi kita dalam upaya mematangkan kehidupan berdemokrasi dalam negara kesatuan Republik Indonesia tercinta. Semoga! (Penulis adalah jemaat HKBP/Ketua Pembangunan HKBP Sei Putih Medan/Ketua DPD AKAINDO Sumatera Utara, tinggal di Medan/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru