Persoalan korupsi yang terjadi di tengah-tengah kehidupan bangsa ini telah mencapai stadium kronis. Hal itu telah berlangsung lama dan terjadi hampir di semua lini, baik di tengah-tengah lembaga publik dan tidak terkecuali lembaga keagamaan. Sebelumnya, orang Batak hidup dalam ketaatan akan aturan yang ketat dan cermat sebagaimana diperlihatkan dalam pelaksanaan ritual-ritual yang dihidupi. Pertanyaan yang diajukan, apakah sahala dan sejauh mana tindakan korupsi memengaruhi kehidupan orang Batak? Sedikitnya, terdapat tiga faktor yang sangat dominan memengaruhi pemahaman Batak tentang sahala, yakni: "Pengaruh Islam, Kehadiran Missionaris dan Pemerintah Kolonial Belanda" pun menjadi tidak terabaikan. Hal itu yang coba dilihat dari perspektif baru.
Sebelum kekristenan hadir di tanah Batak, orang Batak telah mengenal dan menghidupi agama Batak, yang akar-akarnya masih dapat ditemukan dalam agama Parmalim. Pemahaman terhadap agama Batak itu diperoleh dari mitos-mitos Batak yang sangat kaya akan filosofi yang menjadi kerangka dasar dan membentuk teologi Batak. Teologi Batak itu berbicara tentang Tuhan, manusia dan alam semesta. Adapun pemimpin agama Batak terdiri dari: Datu, Sibaso, Raja, Pangulubalang. Di sini, beberapa nama disebut sebagai pemimpin agama Batak, yakni: Raja Uti, Raja Sisingamangaraja, Jonggi Manaor, Ompu Palti Raja, Sorimangaraja, Ompu Babiat Situmorang.
Ekspresi dan pengakuan terhadap tokoh-tokoh pemimpin agama Batak, masih dapat ditemukan hingga saat ini dalam ritual-ritual keagamaan Parmalim di Sumatera Utara. Sebagai informasi, di samping itu, terdapat juga beberapa ritual tertentu, yang kadangkala berlangsung di beberapa daerah tertentu, khususnya di Pulau Samosir, seperti di Sianjurmulamula, Silalahi dan beberapa tempat lainnya. Oleh karena itu, pengamatan dan penelusuran lebih jauh melalui penelitian lapangan ke kalangan Parmalim dan beberapa ritual Batak menjadi sangat perlu dilakukan.
Sisingamangaraja dan para pemimpin agama Batak lainnya berupaya melakukan patik dan uhum dengan sangat ketat. Terdapat beberapa sifat dasar yang membentuk karakter para pemimpin agama dan menjadikan mereka menjadi orang-orang penuh sahala. Keberpihakan Sisingamangaraja dalam membela orang-orang yang lemah, kecil dan tertindas, melepaskan orang yang berhutang dan hampir dibunuh, melerai orang yang bertikai dan lain-lain menegaskan karakternya yang mengayomi. Semua itu memperlihatkan Sisingamangaraja seorang yang menjunjung nilai-nilai luhur kemanusiaan keadilan, kesejahteraan dan pembebasan bagi banyak orang. Tema pembebasan iniah yang diusungnya sampai mati, meski harus mengorbankan dirinya sendiri dan bahkan keluarganya. Membuatnya disanjung sebagai Maha Guru di tanah Batak dan sekaligus tragis memang.
Masa transisi dari agama Batak menuju agama Kristen di mana orang Batak menjadi simpul dan pelaku dari kedua masa itu terjadi ketika kekristenan pertama kali masuk ke tanah Batak. Pembaptisan pertama orang Batak masuk menjadi Kristen berlangsung pada tahun 1861. Bersamaan dengan itu, hadir pula pemerintah kolonial Belanda dan menjadi faktor yang menguntungkan bagi penyebaran kekristenan di tanah Batak. Perlahan-lahan Nommensen mulai menemukan cara untuk menaklukkan hati orang Batak, di mata orang Batak Nommensen pun mulai marsahala.
Sisingamangaraja sebagai pemimpin agama Batak penuh sahala berhasil dikalahkan oleh pemerintah kolonial setelah melalui perang Batak yang berkepanjangan selama 30 tahun dan berakhir tahun 1907. Hal itu sekaligus memberi legitimasi kepada pemerintah kolonial untuk menghancurkan semua ritual-ritual pemujaan yang utama sebagai bagian dari pemujaan dalam agama Batak. Jalan baru bagi kekristenan terbuka lebar.
Nommensen dalam pelayanannya berupaya menerapkan hukum kasih, melindungi, menjaga dan mengayomi hidup orang-orang Batak yang miskin dan terpasung. Mengajarkan tentang kebersihan, kesehatan dan Firman Tuhan. Untuk mempercepat penginjilan, maka gagasan cemerlang yang ditempuh oleh Nommensen adalah mengirim anak-anak dari pemimpin agama Batak yang terkemuka untuk masuk sekolah Pendeta dan pada waktunya membantu penginjilan. Langkah strategis ini berhasil cemerlang, dan hasilnya dapat dirasakan dalam sejarah penginjilan. Dengan demikian, tokoh-tokoh perintis penginjilan pertama merupakan para Datu, Sibaso, Raja dan keturunan-keturunan mereka, hingga kemudian lahir pemimpin agama Kristen yang besar, yang jejaknya dapat diamati dalam rentang sejarah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Beberapa nama disebutkan, yakni: Ingwer Iudwiq Nommensen sebagai missionaris utama, Pdt. Henock Lumbantobing, Pdt. Kasianus Sirait, Pdt. Justin Sihombing, DS. G.H.M Siahaan, Mangaradja Hezekiel Manullang dan lain-lain. Para pemimpin agama ini juga menghidupi sifat-sifat dasar yang menegaskan sahala mereka.
Benang merah yang diperoleh dari pengamatan atas kedua agama berkaitan dengan sahala, disimpulkan: sahala merupakan Spiritualitas (Spirituality) Unggul, Kualitas (Quality) Unggul, Karakter (Character) Unggul. Dari beberapa tokoh yang diamati, baik pemimpin agama sebelum dan sesudah Kekristenan di Tanah Batak, maka dapat disebutkan terdapat beberapa karakter dasar, antara lain: Pendoa (sipartangiang), dapat dipercaya (haposan), visioner (panatapan tu jolo), mengayomi (marorot), berintegritas. Semua karakter dasar ini menegaskan sahala mereka. Karakter dasar yang dimiliki para pemimpin agama Batak dan pemimpin agama Kristen, dalam kenyataannya, secara teologis memiliki pijakan dan terkait erat dengan teologi yang dihidupi masing-masing pemimpin agama baik agama Batak maupun agama Kristen.
Secara teologis, penggunaan panggilan Ompung, sebelumnya dikenakan kepada Sisingamangaraja sebagai pemimpin tertinggi di dalam agama Batak. Istilah tersebut berasal dari tradisi teologi agama Batak yang percaya kepada Mulajadi na Bolon. Penyebutan itu sesungguhnya menunjuk pada Debata Mulajadi na Bolon dengan sifat-sifat keilahian yang dimiliki yakni kudus dan mulia, keras hati bagai juara. Istilah itu juga dikenakan kepada Ephorus Nommensen sebagai pemimpin agama Kristen, pada awalnya untuk mengalihkan perhatian Batak dari Sisingamangaraja sebagai pemimpin tertinggi menjadi Ephorus gereja Batak. Dan oleh HKBP, istilah itu digunakan terus sampai sekarang. Kata Ompu i digunakan dengan menyebut kata tunjuk seperti Bapa i, namun dalam percakapan sehari-hari disebut Ompung. Sepatutnya, istilah itu juga tidak dapat dilepaskan dari makna yang melekat dalam panggilan Ompung, karena jika tidak jabatan tertinggi itu pun akan menjadi dipahami secara sosiologis.
Penulis tiba pada kesimpulan bahwa agama Batak maupun agama Kristen memiliki potensi yang sama untuk menghasilkan sahala pemimpin agama. Namun demikian, kendala utama dari terpeliharanya sahala sejauh yang diamati adalah struktur gereja dan uang. Di dalam gereja, terutama aturan gereja tahun 1881, yang sejak awal telah membuat ketidakadilan. Aturan gereja itu cenderung hanya menempatkan Tuan Pandita sebagai pejabat struktural dan Pendeta Batak di jajaran fungsional. Kenyataan ketidakadilan itu berlanjut terus hingga sekarang. Hal yang sangat terasa dalam struktur gereja Batak adalah Pendeta laki-laki cenderung dikondisikan dalam jabatan struktural, sedang Pendeta perempuan dikondisikan dalam jabatan fungsional.
Kondisi demikianlah yang berlangsung sejak dahulu dan semakin bertambah sekarang. Dengan demikian, sebenarnya ketimpangan yang terjadi sekarang dalam gereja Batak, HKBP khususnya bukanlah semata-mata soal jenis kelamin yang berbeda (gender) -- dulu karena ras yang berbeda -- tetapi sejatinya, ini adalah soal pembentukan karakter. Roh materialisme yang merajalela mengakibatkan roh penguasaan diri, terutama berkaitan dengan hal-hal yang berbau materi, uang dan perolehan jabatan sangat rentan. Format aturan gereja yang tidak menghidupkan sedemikian masih juga tetap diberlakukan di gereja HKBP dan belakangan menjadi semakin runyam dalam hal kekuasaan. Kekuasaan pun menjadi sangat liar dan buas. Korbannya yang terutama adalah jemaat dan pelayan perempuan. Faktanya, korupsi potensi utama merusak sahala.
Pergantian penetapan pimpinan di tengah-tengah masyarakat dari sistim pemilihan atas kehendak na torop (bottom up) menjadi didrop dari atas ke bawah oleh pemerintah kolonial (top-down), di mana masyarakat/jemaat gereja menjadi simpul dari keduanya. Hal yang terjadi adalah orang Batak berusaha bertahan (survive) dari semua situasi yang ada. Pemimpin agama sebagai bagian dari masyarakat juga mengalami proses internalisasi, eksternalisasi dan objektivikasi.
Alhasil, secara teologis, sahala yang tadinya sangat menekankan nilai-nilai luhur yang dihidupi, menjadi cenderung dilihat secara sosiologis. Akibatnya, kehidupan beragama terlihat menjadi sangat usang. Jemaat menjadi korban dari semuanya. Kristus teraniaya dan disalibkan berkali-kali.
Pertanyaan mendasar, masih adakah masa depan gereja? Jawabnya, Ada! Ketika para pengurus gereja, bahkan tidak dapat berdoa bagi kehidupan gereja, maka saatnya jemaat (ruas) yang harus berdoa dipimpin oleh Sintua. Perubahan besar akan terjadi di tengah-tengah gereja, jika jemaat bangkit dan bergerak sebagai jemaat yang missioner. Pengalaman ketertindasan yang berlangsung selama puluhan tahun, sebagaimana hal itu juga nyata di hadapan jemaat (ruas) gereja telah membangkitkan gerakan jemaat missioner. Kuasa doa menjadi sangat radikal. Sejarah gereja Batak sudah membuktikan ini. Karenanya dipahami, gerakan jemaat missioner adalah gerakan doa. Saatnya jemaat bangkit. Kebangkitan jemaat adalah kebangkitan gereja. Bila gereja adalah tubuh Kristus dan jemaat adalah tubuh Kristus. Maka, kebangkitan jemaat, adalah kebangkitan gereja. Kebangkitan jemaat menandai pemulihan bagi gereja sedang dinyatakan oleh Yesus Kristus, Pemilik sejati gereja itu sendiri. Hanya dengan kekuatan iman seperti itu, kuasa Roh Kudus sedang berlangsung. Jayalah gereja. Pemikiran ini bagian dari disertasi penulis. (Penulis adalah seorang Pendeta HKBP yang pada tanggal 13 Agustus 2016 yang lalu, baru memperoleh gelar Doktor Theologia, di STT-HKBP, Pematangsiantar/q)