Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Januari 2026

Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Tekanan Rupiah dan Ketidakpastian Global

Oleh: Benyamin Nababan SH SPd MM
Redaksi - Kamis, 22 Januari 2026 11:32 WIB
351 view
Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Tekanan Rupiah dan Ketidakpastian Global
(Foto harianSIB.com/Dok)
Benyamin Nababan SH SPd MM

(harianSIB.com)

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kembali menguat memasuki tahun 2026 menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan serius di tengah ketidakpastian global. Fluktuasi nilai tukar yang terjadi berulang tidak lagi dapat dipandang sebagai gejolak sesaat, melainkan sebagai cerminan dari persoalan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan. Dalam ekonomi terbuka, pergerakan rupiah bukan hanya soal pasar valuta asing, tetapi juga mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi serta kualitas kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan pemerintah.

Situasi global masih dibayangi ketidakpastian tinggi. Kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan dalam waktu lama (higher for longer), konflik geopolitik, dan fragmentasi perdagangan dunia memperkuat dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong flight to quality (perpindahan dana ke aset yang lebih aman), sehingga arus modal cenderung keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam kondisi tersebut, perbedaan suku bunga domestik tidak selalu cukup kuat untuk menahan arus modal ketika risiko global meningkat.

Tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari luar negeri. Struktur ekonomi nasional masih bergantung pada impor bahan baku dan barang modal, sementara ekspor didominasi komoditas primer yang rentan terhadap gejolak harga dunia. Akibatnya, pelemahan rupiah tidak otomatis meningkatkan daya saing ekspor. Sebaliknya, biaya produksi justru meningkat dan mendorong inflasi melalui kenaikan harga barang impor (exchange rate pass-through).

Menghadapi kondisi tersebut, peran kebijakan moneter menjadi penting. Bank Indonesia melakukan stabilisasi melalui intervensi pasar valuta asing, penguatan instrumen lindung nilai (hedging), serta menjaga stabilitas pasar surat utang negara. Langkah ini bertujuan meredam gejolak berlebihan dan menjaga ekspektasi inflasi. Namun, secara kebijakan, bank sentral memiliki keterbatasan. Stabilitas nilai tukar, kebebasan arus modal, dan independensi moneter tidak dapat dijaga secara bersamaan sepenuhnya (policy trilemma). Artinya, stabilitas rupiah tidak bisa hanya dibebankan pada kebijakan moneter tanpa dukungan fiskal yang kuat.

Baca Juga:
Tekanan nilai tukar membawa dampak langsung terhadap APBN 2026. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan pangan, menambah biaya pembayaran utang luar negeri, serta mempersempit ruang fiskal. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, kondisi ini dapat mengganggu keberlanjutan fiskal (fiscal sustainability) dan meningkatkan persepsi risiko terhadap keuangan negara. Karena itu, APBN 2026 harus diposisikan sebagai instrumen stabilisasi ekonomi, bukan sekadar rencana belanja tahunan.

Kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal menjadi faktor penentu. Konsistensi pengelolaan defisit, disiplin utang, dan kualitas belanja negara sering kali lebih penting daripada besaran defisit itu sendiri. Belanja negara perlu difokuskan pada sektor-sektor yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi, seperti ketahanan pangan, energi, logistik, dan pengembangan sumber daya manusia. Reformasi subsidi juga perlu dilakukan secara bertahap agar tidak terus menjadi sumber tekanan ketika nilai tukar bergejolak.

Di tingkat daerah, tekanan rupiah turut memengaruhi APBD 2026. Kenaikan harga impor mendorong inflasi dan meningkatkan kebutuhan belanja daerah untuk menjaga stabilitas harga serta pelayanan publik. Namun, kemampuan fiskal daerah tidak selalu memadai. Ketergantungan yang tinggi pada transfer pusat membuat APBD rentan terhadap guncangan eksternal, terutama di daerah dengan struktur ekonomi yang sempit. Oleh karena itu, APBD harus berperan sebagai alat stabilisasi ekonomi lokal, bukan sekadar administrasi keuangan.

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Pengendalian inflasi pangan, kelancaran distribusi barang, serta dukungan nyata terhadap UMKM menjadi langkah utama. Di sisi lain, penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pajak yang adil, pengelolaan aset daerah, dan profesionalisasi BUMD diperlukan untuk membangun ketahanan fiskal daerah (fiscal resilience).

Pada level mikro, pelemahan rupiah berdampak langsung pada pelaku usaha dan rumah tangga. UMKM yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi kenaikan biaya produksi tanpa kemampuan menaikkan harga secara proporsional (pass-through). Kondisi ini menekan margin usaha dan berpotensi mengurangi kesempatan kerja. Sementara itu, inflasi menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah, sehingga efektivitas belanja perlindungan sosial pemerintah menjadi sangat menentukan.

Kebijakan ekonomi pasca-2026 memerlukan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Hilirisasi industri, pengurangan ketergantungan impor strategis, serta pendalaman pasar keuangan domestik tidak lagi dapat ditunda. Semakin kuat struktur produksi dalam negeri dan pembiayaan domestik, semakin kecil dampak gejolak nilai tukar terhadap APBN dan APBD.

Tekanan terhadap rupiah merupakan ujian kualitas kebijakan ekonomi nasional. Stabilitas ekonomi tidak dapat terus dijaga hanya dengan instrumen moneter. Tanpa dukungan fiskal yang disiplin dan reformasi struktural yang konsisten, biaya ekonomi dan sosial akan semakin besar. Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memastikan bahwa APBN dan APBD benar-benar berfungsi sebagai alat antisipasi, bukan sekadar respons jangka pendek.

Pemerintah pusat dan daerah tidak lagi memiliki ruang untuk menunda keputusan strategis. Reformasi subsidi, penajaman belanja produktif, penguatan basis pendapatan, dan percepatan transformasi ekonomi adalah syarat utama ketahanan ekonomi. Ketahanan Indonesia tidak diukur dari seberapa lama rupiah dipertahankan pada level tertentu, tetapi dari keberanian menjadikan kebijakan fiskal sebagai alat perubahan struktural. Jika langkah ini ditempuh dengan konsisten, tekanan global justru dapat menjadi momentum memperkuat fondasi ekonomi nasional. Semoga! (Penulis dosen praktisi FE Unita)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
HBB Sambut Pencabutan Izin PT TPL, Desak Pemulihan Lingkungan dan Penegakan Hukum
Pemprov Sumut Klaim Capaian Lima Misi Pembangunan, Fokus SDM hingga Pemulihan Ekonomi
Integritas Ekonomi Menguat, KPPU Dorong Lahirnya Organisasi Masyarakat Untuk Persaingan Usaha di ASEAN
Pasar Modal Hadir Sebagai Salah Satu Solusi Finansial Relevan
Di Tengah Penyesuaian Fiskal, Bank Sumut Perkuat Peran Pembangunan Daerah
Bertahan Tanpa Menjadi Keras, Krisis Kepercayaan dan Ketahanan Mental di Indonesia Awal 2026
komentar
beritaTerbaru