Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 26 Februari 2026

Mewujudkan IPM sebagai Panglima Pembangunan Nasional Indonesia

Oleh: Benyamin Nababan SH MM
Redaksi - Kamis, 26 Februari 2026 06:30 WIB
140 view
Mewujudkan IPM sebagai Panglima Pembangunan Nasional Indonesia
harianSIB.com/Dok
Benyamin Nababan SH MM

Pembangunan nasional sejatinya bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, maupun stabilitas fiskal, melainkan terpusat pada peningkatan kualitas manusia sebagai subjek dan tujuan utama pembangunan. Dalam konteks ini, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi indikator paling menyeluruh untuk menilai keberhasilan pembangunan, karena menggambarkan capaian masyarakat dalam pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi. Menempatkan IPM sebagai panglima pembangunan nasional adalah strategi tepat untuk memastikan pembangunan Indonesia berorientasi pada manusia.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan IPM Indonesia pada 2025 mencapai 75,90, naik dari 75,40 tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan perbaikan umur harapan hidup, rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah, dan pengeluaran riil per kapita. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan antarwilayah. Provinsi DKI Jakarta dan DI Yogyakarta memiliki IPM di atas 80, menunjukkan kualitas layanan publik yang tinggi, akses pendidikan luas, dan kesejahteraan masyarakat relatif stabil. Sementara itu, provinsi di timur Indonesia, seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, masih di bawah 70, menandakan keterbatasan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi produktif.

Baca Juga:

Kondisi ini menekankan bahwa peningkatan IPM bukan sekadar soal pertumbuhan nasional, tetapi juga pemerataan pembangunan manusia.

Perbandingan secara global, Indonesia masih berada di bawah negara dengan IPM sangat tinggi. Negara maju seperti Finlandia, Norwegia, Swiss, dan Jepang memiliki IPM tinggi karena sistem pendidikan unggul, layanan kesehatan universal, dan ekonomi berbasis inovasi. Di ASEAN, Singapura, Malaysia, dan Thailand mencatat IPM lebih tinggi dibanding Indonesia, sementara negara dengan IPM rendah seperti Laos dan Kamboja menghadapi keterbatasan signifikan di sektor pendidikan dan kesehatan. Di lingkup G20, negara seperti United States, Germany, dan Japan konsisten berada di kategori IPM sangat tinggi. Analisis ini menegaskan bahwa meski Indonesia menunjukkan kemajuan, masih ada tantangan besar dalam pemerataan kualitas hidup antardaerah dan peningkatan daya saing internasional.

Konsep kebijakan nasional terbaru, penguatan pembangunan manusia memiliki dasar hukum yang kuat. UU Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 menempatkan pembangunan manusia unggul sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. RPJPN mengarahkan transformasi sosial pada peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sistem kesehatan, peningkatan produktivitas tenaga kerja, dan percepatan pengentasan kemiskinan. Seluruh aspek ini adalah komponen utama IPM, sehingga indikator ini menjadi ukuran kemajuan bangsa jangka panjang.

Sistem perencanaan pembangunan nasional menempatkan IPM sebagai indikator strategis di pusat dan daerah. UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional tetap berlaku sebagai dasar hukum perencanaan, menegaskan bahwa setiap rencana pembangunan harus berbasis indikator kinerja terukur. Dengan demikian, IPM menjadi ukuran utama dalam dokumen pembangunan seperti RPJMN, RKP, RPJMD, dan RKPD, merepresentasikan keberhasilan pembangunan manusia secara menyeluruh.

Di tingkat daerah, capaian IPM terkait langsung dengan mandat UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang mewajibkan pemerintah daerah menyediakan pelayanan dasar di pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial. Ketiga sektor ini merupakan penyusun utama IPM, sehingga capaian IPM daerah mencerminkan kualitas tata kelola pemerintah, efektivitas penggunaan APBD, dan keseriusan kepala daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Contohnya, DKI Jakarta dengan IPM 82,20 menjadi daerah maju, sementara Papua dengan IPM 67,40 masih tertinggal.

Daerah dengan IPM tinggi umumnya memiliki tata kelola pembangunan yang baik, investasi konsisten di sektor pendidikan dan kesehatan, serta ekonomi lokal stabil. Daerah dengan IPM rendah sering menghadapi keterbatasan fiskal, kualitas layanan publik yang rendah, dan konektivitas ekonomi lemah. Peningkatan IPM tidak bisa dilepaskan dari kualitas kebijakan daerah dan prioritas anggaran terhadap pembangunan manusia.

Baca Juga:

Hubungan antara pembiayaan pembangunan dan IPM sangat erat. APBN dan APBD memainkan peran penting dalam membiayai pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan program pengentasan kemiskinan. Namun, rendahnya IPM tidak selalu disebabkan oleh kurangnya anggaran, melainkan efektivitas pengelolaan. Teori pembangunan manusia menekankan bahwa investasi pada pendidikan dasar, layanan kesehatan preventif, dan perlindungan sosial berdampak besar pada kualitas manusia. Jadi, prioritas dan efisiensi penggunaan anggaran sama pentingnya dengan jumlahnya.

Dukungan masyarakat Indonesia juga memegang peranan penting. Masyarakat menyambut positif arah kebijakan pembangunan pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dengan keyakinan bahwa IPM nasional dan daerah akan terus meningkat. Dukungan publik ini memperkuat legitimasi pemerintah dalam melaksanakan program pembangunan, sehingga Indonesia akan mampu bersaing di tingkat global. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat memastikan peningkatan IPM bersifat merata, berkualitas, dan berkelanjutan.

Pembangunan utk masa mendatang, masyarakat Indonesia pasti akan memberikan dukungan kepada pemerintah pusat dalam memperkuat kebijakan pembangunan manusia, termasuk pemerataan kualitas pendidikan, peningkatan layanan kesehatan primer, penguatan perlindungan sosial adaptif, dan penciptaan lapangan kerja produktif. Pemerintah daerah harus memastikan peningkatan IPM menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan. Dengan landasan regulasi kuat, dukungan masyarakat, dan pengelolaan anggaran efektif, menjadikan IPM panglima pembangunan nasional bukan sekadar gagasan, tetapi kebutuhan strategis. Konsistensi semua pihak dalam menjadikan IPM indikator utama akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam memperkuat daya saing manusia, mengurangi ketimpangan wilayah, dan mewujudkan pembangunan inklusif serta berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.(Dosen UNITA)

Baca Juga:
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Apresiasi Integritas dan Kinerja, Bupati Humbahas Ganjar 11 Kepala Sekolah dengan Piagam Penghargaan
Dinkes Medan Temukan 16.866 Kasus TB, Capai 130 Persen Target 2025
DPRD Medan Usul Revisi Perda Kesehatan, Soroti Layanan IGD dan Hak Pasien
Gaji PNS di Singapura Naik Hingga 9 Persen
Penanganan Kesehatan di Tapteng Berjalan Optimal
Terkait Ratusan Siswa di Dairi Keracunan, Dinkes Sumut: Hasil Uji Lab Temukan Mikrobiologi pada Sampel MBG
komentar
beritaTerbaru
Jaksa Agung Kunker ke Sumut

Jaksa Agung Kunker ke Sumut

Medan(harianSIB.com)Jaksa Agung RI, ST Burhanuddin melanjutkan kunjungan kerja (kunker) ke Sumatera Utara (Sumut) untuk beberapa hari ke