Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Reaktualisasi Madilog Tan Malaka Sebagai Paradigma Kritis di Era Disrupsi Digital

Oleh: Benyamin Nababan SH SPd MM
Redaksi - Selasa, 31 Maret 2026 12:24 WIB
161 view
Reaktualisasi Madilog Tan Malaka Sebagai Paradigma Kritis di Era Disrupsi Digital
harianSIB.com/Dok
Benyamin Nababan SH SPd MM.

(harianSIB.com)

Madilog, singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika, adalah karya Tan Malaka yang ditulis pada 1943 (Malaka, 1943). Buku ini lahir untuk membebaskan cara berpikir masyarakat Indonesia dari dominasi kepercayaan mistik dan dogma yang menghambat kemajuan sosial, politik, dan ekonomi. Tan Malaka menekankan bahwa perubahan masyarakat harus dimulai dari pemikiran rasional, berbasis fakta, dan mampu menilai realitas. Madilog mengajarkan penilaian terhadap fakta, hubungan sebab-akibat, dan nalar logis untuk memahami fenomena sosial, budaya, politik, dan teknologi (Poeze, 1999).

Sejarawan Poeze (1999) menilai Madilog sebagai puncak pemikiran Tan Malaka, yang menggabungkan gagasan revolusioner dengan tujuan membangun karakter bangsa yang kritis dan rasional. Poeze menunjukkan bahwa buku ini memberi rakyat kemampuan untuk menilai realitas sosial-politik Indonesia dengan mendalam. Tan Malaka menekankan pentingnya menolak informasi yang tidak berdasar, sehingga masyarakat dapat membedakan klaim yang valid dan tidak valid.

Filsuf dan pendidik Hidayat (2025) menegaskan bahwa prinsip Madilog dapat diterapkan dalam pendidikan modern. Pendidikan yang mengadopsi prinsip ini membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, menilai klaim berdasarkan bukti, dan membangun kesadaran untuk menyaring informasi. Pendidikan seperti ini penting karena era digital menghadirkan volume informasi yang sangat besar, tidak semua sumber dapat dipercaya.

Sosiolog Soemardjan (1998) menunjukkan bahwa Madilog membebaskan masyarakat dari pola pikir yang masih terpengaruh logika mistik. Tan Malaka menekankan pentingnya menilai fenomena budaya, sosial, dan teknologi berdasarkan fakta dan logika, sehingga kemampuan berpikir kritis menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:
Sejarawan Anderson (1999) menyebut Tan Malaka sebagai intelektual revolusioner yang menggabungkan pemikiran Marx dengan kondisi lokal Indonesia. Pemikiran ini bukan sekadar ideologi, tetapi strategi memahami kolonialisme, ketertinggalan ekonomi, dan dinamika sosial. Hal ini membuat Madilog relevan untuk memahami perubahan masyarakat modern yang semakin kompleks.

Pakar sosial-politik Budiardjo (2005) menegaskan bahwa pemikiran Tan Malaka membentuk karakter kepemimpinan yang rasional dan refleksif. Kepemimpinan seperti ini mampu merumuskan kebijakan yang responsif, mengatasi konflik, dan menyeimbangkan aspirasi rakyat dengan kebutuhan pembangunan.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
DAP Aksi Sosial Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis
Marak Politik Uang, Wakil Ketua MPR: Lapangan Demokrasi Kita ˋBecekˊ
Panwascam Bandar Sosialisasi Pengawasan Pemilu
Mantan Anggota DPR Fayakhun Divonis 8 Tahun, Hak Politik Dicabut
Jelang Pemilu 2019, Banyak Elite Terjebak Politik Olok-olok
Ini Penyebab RI Kurang Modal Buat Genjot Pertumbuhan Ekonomi
komentar
beritaTerbaru