Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026
Perguruan Tinggi Pencetak Tenaga Vokasi Hanya 5 Persen

Perguruan Tinggi Pencetak Tenaga Vokasi Hanya 5 Persen

- Senin, 19 September 2016 21:52 WIB
243 view
Perguruan Tinggi Pencetak Tenaga Vokasi  Hanya 5 Persen
Jakarta (SIB)- Sebanyak 95 persen kebutuhan industri adalah tenaga vokasi atau kejuruan. Sayangnya, jumlah perguruan tinggi di Tanah Air yang memproduksi tenaga vokasi masih sangat sedikit, atau hanya 5 persen dari sekitar 4.000-an perguruan tinggi di Indonesia.

"Kondisi tersebut terjadi karena masyarakat kita masih memandang sebelah mata pendidikan vokasi baik itu diploma tiga maupun diploma empat," kata Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Budi Djatmiko di Jakarta, Kamis (15/9).

Perguruan tinggi sendiri pun, lanjut dia, lebih memilih menghasilkan sumber daya manusia yang nantinya menjadi peneliti dan dosen, bukan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri.

Menurut Budi, pola pendidikan yang baik, harus ada berkesinambungan antara industri dan perguruan tinggi, sehingga perguruan tinggi tidak mencetak pengangguran.

"Saya yakin ke depan, pendidikan vokasi akan menjadi pusat pendidikan di Indonesia. Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah yang membuka pintu selebar-lebarnya untuk pendidikan vokasi," cetus dia.

Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I), Isral Nurdin, mengatakan pihaknya sebagai perguruan tinggi berbasis vokasi ingin meluluskan tenaga kerja terampil.

Bukan tenaga kerja yang nantinya malah menganggur. "Sebanyak 82 persen lulusan kami sudah bekerja sebelum lulus, sisanya menunggu tapi tidak terlalu lama," katanya.

Secara terpisah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan, kualifikasi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) harus sesuai dengan kebutuhan pasar.

Untuk itu, mengetahui kebutuhan pasar kerja, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan dunia industri. Karena itu, lanjut dia, kurikulum SMK harus disesuaikan dengan dunia industri.

Kemdikbud akan membuat zona-zona dari tiap industri tersebut. "Ini merupakan hubungan yang nyata antara lapangan kerja dengan tenaga terampil menengah."
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta para pembantunya untuk melakukan evaluasi terhadap angka pengangguran pemuda.

Pada 2010 angka pengangguran pemuda sebesar 23,23 persen untuk level usai 15-19 tahun dan meningkat menjadi 31,12 persen pada akhir 2015.

Dari latar belakang pendidikan, proporsi pengangguran terbesar adalah lulusan SMK sebesar 39,84 persen, lulusan SMA justru hanya 6,95 persen, SMP 5,76 persen, dan SD sebesar 3,44 persen dari total pengangguran terbuka yang mencapai 7,56 juta orang sebesar 20,76 persen. (KJ/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru