Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 22 April 2026

Kepala LPMP Sumut: Guru Merupakan Panggilan Jiwa, Bukan Ekonomi

- Senin, 03 Februari 2014 16:52 WIB
1.012 view
  Kepala LPMP Sumut: Guru Merupakan Panggilan Jiwa, Bukan Ekonomi
SIB/Ist
Cenderamata: dr Robert Valentino Tarigan SPd SH memberikan cenderamata kepada Ketua LPMP Sumut Drs H Bambang Winarji MPd disaksikan Dra Adelina Silaen (no 2 dari kanan) dan Benamuli S SSi MPd.
Medan (SIB)- Kurikulum 2013 jika konsekwen menerapkannya akan mengembalikan guru-guru serta kepala sekolah ke kesejatiannya. “Profesi guru itu merupakan panggilan jiwa, bukan panggilan ekonomi,” demikian Kepala LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) Sumut Drs H Bambang Winarji MPd, Rabu (29/1) pagi di ruang kerjanya Jalan Bunga Raya No 96 Asamkumbang, Medan.

Lebih lanjut Bambang memaparkan kepada dr Robert Valentino Tarigan SPd SH yang didampingi Kepala Sekolah BPNM 1 Dra Adelina Silaen MPd, Kurikulum 2013 akan diberlakukan efektif pada Juli 2014.

Kata Bambang, didampingi Staf LPMP Benamuli S SSi MPd, yang mendiklat guru-guru dan kepala sekolah adalah instruktur nasional. Ada tiga komponen dasar yang disajikan dalam diklat tersebut: kognitif, knowladge dan attitude. “Dana untuk itu dari pemerintah,” terangnya.

Sebelumnya, Valentino, Ketua Bidang Pendidikan Perguruan Nasrani (BPNM) Medan, menyampaikan maksudnya beraudiensi agar semua guru dan kepala sekolah di bawah naungan BPNM yang ada di empat lokasi, dilatih bagaimana menerapkan Kurikulum 2013 sehingga dapat diterapkan pada Juli 2014. Harapan itu diperkuat oleh Adelina.

Tak lupa Valentino menyampaikan salam Ketua BPNM, K Sirait yang karena sesuatu hal tidak dapat hadir.

Katanya, guru itu bukan orang yang sekadar tahu tetapi paham sehingga dapat menjelaskan apa-apa tuntutan Kurikulum 2013 kepada siswa-siswinya.”Kalau sekadar tahu yang akan disampaikan bisa sumir,” tambah Valentino yang juga Pimpinan BT/BS BIMA Indonesia berpusat di Jalan Bantam No 6 A Medan.

Menjawab hal itu, Bambang mengemukakan, keinginan tersebut dapat dilaksanakan lewat diklat pendampingan oleh yayasan bekerja sama dengan LPMP. Kalau program pemerintah, misalnya Sekolah Dasar (SD), dari tiga kelas, yang dikirim hanya satu guru saja. “Yang dua lagi dari program pendampingan,” tambahnya.

Perlunya para guru dan kepala sekolah didiklat karena yang memberikan senyum hangat ke siswa adalah guru, bukan komputer. Desain Kurikulum 2013 ini bagus, pelaksanaanya tentu memerlukan program yang tepat. “Misalnya bagaimana menerapkan agar guru memberikan senyum hangat ke siswa dan tak boleh marah. Guru mau menerima jabat tangan siswa. Manfaatnya, siswa merasakan betapa guru-guru lebih memperhatikan dirinya. Dengan jabat tangan, guru akan tahu kalau si siswa lagi demam, misalnya,” papar Bambang.

Melalui Kurikulum 2013 peranan Guru PB (Pembimbing) juga lebih ditingkatkan. “Guru BP jadi motivator bagi siswa, makanya apa-apa yang akan disampaikannya di dalam kelas harus singkron dengan wali kelas.” Untuk itu Guru BP harus menghindarkan kalimat “memang dasar bodoh”. Selayaknyalah kalimat itu diganti, “Nak, sebenarnya engkau pintar. Kau nanti bisa menjadi jenderal, hakim, dokter atau apalah”.

Begitu juga dengan Kepsek, tidaklah melaksanakan rutinitas saja, melainkan bisa melihat empat sampai lima langkah ke depan. “Jika guru bidang studi tidak datang, Kepsek dapat menggantikannya. Dengan demikian Kepsek menjadi sosok yang dikagumi oleh siswa,” tegas Bambang.

Soal nilai UN (Ujian Nasional), menurut Bambang ada kaitannya dengan seleksi masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri). “Jika seorang siswa nilai UN-nya 8 sementara nilai seleksi PTN-nya 6, siswa lainnya nilai UN-nya 7 dan nilai seleksi PTN-nya 7, kan jumlahnya sama-sama 14. Lalu siapa yang lulus? Panitia seleksi akan memilih yang nilainya 7 sama 7 bukan 8 sama 6,” pungkas Bambang. (R6/ r)






SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru