Medan (SIB)- Prof Dr Syawal Gultom MPd menjadi Rektor Unimed Periode 2015-2019 karena berhasil mengalahkan rivalnya Prof Selamet Triono MSc PhD, Prof Dr Abdul Hamid K MPd dan Prof Dr Ibnu Hajar Msi.
Ayah 4 anak ini merupakan guru besar Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Medan, lahir di Tapanuli Utara, 3 Pebruari 1962. Pendidikan formal tingkat Sekolah Dasar dan SMP dilalui di daerah kelahirannya Tapanuli Utara, sedangkan tingkat SMA ditamatkan di SMA Pematang Siantar pada 1981. Kemudian tingkat sarjana S1 tamat di IKIP Medan pada Prodi Pendidikan Matematika pada 1986. Program Magister tamat di IKIP Yogyakarta pada 1992 dan Program Doktor tamat di UNJ pada 2009.
Sejak 1987 ia telah menjadi dosen tetap PNS di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA IKIP Medan. Pengalaman kerja diberbagai posisi sudah sangat mapan, diantaranya pernah menjadi staf pengajar di UMSU pada 1986-1996. Sebagai Staf Ahli Pembantu Rektor I IKIP Medan pada 1993-1998. Sebagai Pimpinan Proyek IKIP Medan/Unimed pada 1999-2003. Sebagai Pembantu Rektor II Unimed periode 2003-2007. Sebagai Rektor Unimed periode 2007-2011. Sebagai Tim Seleksi KPU Sumut periode 2008-2013. Sebagai Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kemendikbud RI pada Maret 2011–2015.
Saat berbincang dengan SIB,katanya dulu tidak pernah membayangkan akan tugas ke Jakarta. Namun oleh Mendikbud Prof M Nuh, dia diajak .Semula Syawal ingin tetap di kampus, tetapi kata M Nuh,mengabdi itu tidak mesti dari kampus, tetapi darimana saja bisa. “O iyalah pakâ€, kata Syawal dan jadilah ke Jakarta, sebagai Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kemendikbud RI pada Maret 2011–2015.
Dalam proses perjalanan itu, terjadi pergantian menteri dari M Nuh kepada M Nasir .Lalu diikuti pergantian di eselon I, dan rekrutmennya berubah , lewat lelang dan Syawal tidak mengikutinya.Lalu, teman-temannya di Unimed bertanya kenapa tidak kembali ke kampus, terlebih ada pemilihan rektor? Karena dulu sebelum ke Jakarta, Syawal juga telah terpilih untuk periode ke 2, namun belum sempat dilantik, dan ditarik ke Jakarta oleh Prof M Nuh.
Pengalaman semasa di Jakarta, menurut Syawal tentu banyak, termasuk masalah manajemen dalam mengelola jumlah orang yang besar, karakteristik organisasinya dan orangnya juga macam-macam. Pengalaman yang banyak itu membuat Syawal akan lebih arif dan bijaksana menghadapi tugasnya yang kembali jadi Rektor Unimed.
Lalu, soal wawasan, karena dari Jakarta itu terlihat persoalan pendidikan yang sesungguhnya dari SD sampai pendidikan tinggi. Lebih leluasa melihat dan wawasannya jauh bertambah.Kalau dulu, sebelum ke Jakarta berkutat di sekitar pendidikan tinggi saja.
Soal kesinambungan program pendidikan ,katanya mulai SD sampai Pendidikan Tinggi. Persoalan pendidikan kita yang utama itu, adalah kualitas tenaga kependidikan yakni guru, kepsek dan pengawas. Kalau kualitas guru tentu terkait dengan Unimed. Mestinya standar keterampilan (skill), pengetahuan teori. Dua hal ini yang mendukung profesi guru. Karenanya perlu diperbaiki program akademiknya. Ada ketidaknyambungan lulusan LPTK dengan situasi lapangan .Maksudnya tantangan guru di lapangan itu sangat kompleks. Misalnya dalam menilai skill, pengetahuan dan sikap. Sementara selama di Unimed tidak dinilai dengan cara seperti ini, dominannya pengetahuan . Lalu sebagai guru disuruh menilai seperti itu sehingga kewalahan.
Karenanya program Unimed harus ditata ulang dalam akademik. Skill lulusan Unimed itu harus kita pastikan, kalau tamat S1 skillnya apa saja, lalu pengetahuan teori yang bisa mengembangkan skill itu apa, lalu penguasaan tentang system informasi dan data apa saja. Lalu tanggungjawab terhadap pekerjaan dan institusinya seperti apa?.
Memastikan apakah punya skill atau tidak maka harus berubah system penilaian Unimed.Tidak boleh hanya soal pengetahuan seperti selama ini, mestinya ada juga tentang skill dan keterampilan. berarti tambah sulit lulus dari Unimed?
Dijawabnya, mahasiswanya harus tambah cerdas, tambah giat belajar. Dan untuk itu kurikulum akan diperbaiki.
Saya renungkan saat di Jakarta, katanya, permasalahan pendidikan kita ternyata, guru-guru yang kita terjunkan ini belum memiliki skill yang seharusnya bisa dia terapkan. Contohnya begini, dia menguasai metode mengajar, sementara tantangan di lapangan bukan hanya itu.Muncul tantangan lain, anda bisa tidak buat siswa kreatif. Bisa tidak dibuat anak itu jadi pembelajar yang tangguh. Karena tugas guru bukan hanya menyampaikan ilmu saja. Demi kesinambungan ilmu, harus ditata mulai SD,SMP, SMA sampai perguruan tinggi.
Banyak lulusan dari jenjang pendidikan tertentu, tapi tidak mencapai standart kompetensi yang dipersyaratkan,kata Syawal yang beristerikan Rasita Malades Samosir dan telah dikaruniai 4 putra-putri yakni Atikah Putri Adrilia Gultom (mahasiswi UI), Diotama Arrizky Gultom (UI), Rafly Aqsha Gultom (SMAN I Medan) dan Ilza Aditha Rahma Gultom (SD Pertiwi Medan).
(A01/k)