Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026
Ir H S Dillon PhD pada Dies Natalis ke 63 USU:

Dalam Makna Kita Belum Merdeka 100 Persen

- Jumat, 21 Agustus 2015 12:12 WIB
518 view
 Dalam Makna Kita Belum Merdeka 100 Persen
Pj Rektor USU Prof Subhilhar, Plt Gubsu Tengku Erry dan Ketua MWA Joefly foto bersama seusai mengulosi HS Dillon pada peringatan Dies Natalis ke 63 USU di Medan, Kamis (20/8).
Medan (SIB)- Ir H S Dillon PhD mengatakan, benar dalam hitungan kronologis  kita telah merdeka 70 tahun, namun dalam makna kita belum merdeka 100 persen. Bangsa kita masih terperangkap dalam mental terjajah, sehingga belum mampu melintasi kepentingan diri, keluarga, kelompok, suku maupun agama, guna mengindentifikasikan diri dengan kepentingan republik.

“Kita belum mampu menempatkan kepentingan bangsa pada tahta terhormat. Berbagai peristiwa kerusuhan antar umat beragama merupakan potret gamblang bahwa kita belum memiliki kedewasaan yang cukup untuk hidup berdampingan dan bersaudara seatap dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” kata Dillon dalam orasi ilmiah dengan topik “Perguruan tinggi menghadapi tantangan bangsa” pada Dies Natalis ke 63 USU di Auditorium USU Medan, Kamis (20/8).

Hadir pada acara peringatan Dies Natalis  tersebut Pj Rektor USU Prof Subhilhar, Plt Gubsu Tengku Erry, Pangdam I/BB Mayjen TNI Edy Rahmayadi, Dekan FH Prof Runtung Sitepu, Prof Robert Sibarani, Dekan se USU dan guru besar  serta undangan lainnya.

Dikatakan Dillon, ia sedih melihat realita yang terpapar bahwa hampir separuh saudara-saudara kita masih hidup dalam keadaan papa dimana dua pertiganya bergelut di sektor pertanian dan hanya mampu membelanjakan 2 USD per orang per hari. Petani gurem berlipat ganda dari 13,17 juta keluarga pada 2003 menjadi 26,13 juta pada 2013, sementara segelintir konglomerat menguasai lebih dari tiga juta hektar perkebunan kelapa sawit.

“Kunci kemajuan bangsa adalah mengasah talenta-talenta untuk menghidupi kearifan bangsa yang tumbuh subur dalam rahim ibu pertiwi. Universitas sebenarnya merupakan lahan subur untuk merancang gagasan-gagasan besar, menyemai benih-benih kepeloporan, kejuangan dan pengabdian demi kejayaan bangsa. Universitas harus mampu menghasilkan insan akademis yang memandu rakyat menyusuri setapak menanjak menuju gerbang kesejahteraan Indonesia, katanya.

“Hanya dengan membangun kembali jiwa proklamasi kemerdekaan kita akan benar-benar mampu melunaskan utang kepada para pejuang yang telah mewakafkan dirinya untuk merebut kemerdekaan, sembari mewariskan kepada generasi mendatang satu republik yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat,” kata Dillon yang alumni Fakultas Pertanian USU itu.

Sementara Pj Rektor USU Prof Subhilhar mengatakan, USU berdiri tahun 1952 atas prakarsa masyarakat Sumut dan Aceh, kemudian diresmikan Presiden Soekarno menjadi perguruan tinggi negeri pada 1957.

Berdasarkan data Webometrics Juli 2015, USU berada pada peringkat 26. USU menyelenggarakan 155 program studi (prodi) dengan peringkat akreditasi A sebanyak 16 atau 10,32 persen, 81 prodi berakreditasi B (52,25 persen), 30 prodi berakreditasi C (19,35 persen), proses reakreditasi 13 prodi, sedangkan 15 prodi dalam proses akreditasi.

Dikatakan Subhilhar, evaluasi terhadap kinerja USU 2015 belum mencapai hasil maksimal. Rendahnya akreditasi USU dan prodi disebabkan masih lemahnya sistem dokumentasi dan informasi kegiatan tenaga pendidik yang dibutuhkan, kurangnya kordinasi antar unit dan kurangnya dukungan fasilitas dan pendanaan. Karena itu, pimpinan universitas akan melaksanakan program percepatan akreditasi prodi seperti merevisi, membangun sistem informasi terintegrasi mulai dari prodi hingga universitas dan sesegera mungkin melakukan reakreditasi prodi yang berpotensi menjadi A.

Turut memberi sambutan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Joefly J Bahroeny dan Plt Gubsu Tengku Erry. (A01/h)





SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru