Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Revolusi Mental Bisa Dibangun Lewat Pendidikan Sejarah

- Senin, 31 Agustus 2015 14:38 WIB
205 view
 Revolusi Mental Bisa Dibangun Lewat Pendidikan Sejarah
Jakarta (SIB)- Komisi X DPR RI Puti Soekarno Putri mengatakan, pintu masuk untuk membangun revolusi mental bangsa ini adalah mengetahui sejarah bangsanya, melalui pendidikan sejarah.

"Dan guru-guru sejarah adalah agen perubahan dalam membangun revolusi mental menurut saya," tegas Puti, dalam Seminar Nasional Pendidikan Sejarah bertajuk," Pengejewantahan Nawacita Dalam Pembelajaran Sejarah di Sekolah," di UNJ, Jakarta, Kamis (27/8).

Puti  mengungkapkan, bahwa sejarah bangsa ini belum diungkapkan secara jujur, dan terbuka dalam dunia pendidikan.

"Dan yang terjadi sebaliknya, yang dikedepankan adalah dendam sejarah antara zaman Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. Hal inilah yang harus diubah," ungkapnya.

Menurutnya, esensi dari revolusi itu adalah perubahan sosial budaya, seperti yang dilakukan Soekarno melakukan revolusi adalah mendobrak, dan melakukan perubahan, dari mental terjajah yang bergaya hidup kebarat-baratan yang dilakukan elit pemimpin bangsa ketika itu. Bergaya seperti penjajah Belanda.

"Jadi apa yang dikemukakan Soekarno sama dengan Presiden Joko Widodo, walaupun zamannya berbebeda," tutur Puti.   

Lebih lanjut Puti sangat prihatin dengan kondisi bangsa ini. Pasalnya, terjadi degradasi moral terhadap bangsa ini, dengan semakin menurunnya ideologi Pancasila dipahami berbagai khalayak. 

"Tapi ketika saya berpidato di salah satu Universitas di Jepang, mereka mengakui bahwa ideologi Pancasila adalah salah satu nilai-nilai yang dapat mempersatu bangsa, bukan hanya untuk bangsa Indonesia, tapi juga bagi negara-negara lain. Jadi aneh saja kalau bangsa ini meninggalkan ideologi Pancasila," ungkap cucu Soekarno ini. 

Puti mengimbau, agar peran guru-guru sejarah tidak hanya menghafal tahun-tahun kepada peserta didiknya, tapi bagaimana memahami pergumulan yang terjadi dimasa itu.

Hal senada, Guru Besar Pendidikan Sejarah UNJ Diana Nomida Musnir mengakui, bahwa pelajaran sejarah di masa lalu dijadikan alat kekuasaan. "Tapi kita akan bangun sebagai alat pendidikan itu yang akan kita lakukan bahwa sejarah harus objektif, dan bukan karena keinginan penguasa," ujarnya. (SP/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru