Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Sahabatku Jembatan Cintaku

* Karya: Hotmarulitua Siagian-Teater “Coret” SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 21 Februari 2016 18:42 WIB
259 view
Semuanya tidak lepas dari kata cinta.  Menurutku cinta itu bermakna luas. Sebuah perasaan yang mengebut tiada henti yang manakala membuat perubahan begitu besar. Aku baru saja merasakan apa itu cinta. Dan sebelumnya aku pernah berpikir kalau aku hanya akan bersemedi dalam lingkaran bertuliskan kata “kagum”. 

Ya, memang belakangan ini aku sempat melirik  perempuan yang tiba-tiba dekat kepadaku. 

Namanya adalah Elsya.  Rambutnya panjang yang selalu diikat satu dan menjuntai sebatas pinggangnya.  Orangnya sangat pendiam dan tidak suka bergaul.  Walaupun tidak suka bergaul, dia tidak memiliki kunci pertikaian dengan teman sekelasnya.  Kami menjadi dekat karena bertabrakan satu sama lain. Pada saat aku berlari menuju kelas dan seseorang memanggilku dari belakang.  Seketika itu aku melihat ke belakang dan tidak melihat kalau dia lewat dari hadapanku.  Seketika itu juga tanganku sebelah kiri menyenggol kuat tangannya sebelah kiri dan kami berdua terjatuh. 

Rasa sakit tidak seberapa, tetapi rasa malu menyebar ke mana-mana.  Tanpa berpikir panjang aku langsung masuk ke dalam kelas yang tinggal beberapa langkah dari tempat kami mendarat ke lantai tanpa disengaja. Dengan wajah yang tersenyum-senyum dan perasaan malu, aku mendiam diri di kursi sambil membayangkan kejadian tadi secara detail.  Yang kudapatkan bukan hanya rasa malu tetapi ada rasa yang tak biasa dan membuat jantung ini berdegup kencang.

“Taar!” kejut Jonathan seraya membangunkanku dari angan-anganku. 

“Ada apa?” sahutku dengan lantang.

“Ngomong-ngomong! Tadi aktingmu bagus juga.”

“Dasar begok! Itu mana aku sengaja!”.

Jonathan pun mulai berceloteh mengenai cinta.  Dia mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah dilirik oleh seorang wanita.  Celotehnya tadi seolah membuktikan bahwa dia memang tidak disukai oleh wanita.

Apa sih yang kurang pada dirinya, ujarku dalam hati.  Dia dapat dikatakan tampan, orangnya juga mapan, jiwanya dermawan,  wajahnya selalu menebarkan senyuman.  Tapi apa! Para wanita malah menjauhinya. Mungkin karena postur tubuhnya bagai tiang bendera sekolah.  Sekali angin bertiup kencang, habis tulang rusuknya berserakan.  Gumamku dalam hati.

Aku sudah menganggap Jonathan sebagai teman terdekatku.  Bahkan kehadirannya melebihi sahabat dalam hidupku.  Dia selalu ada untukku dalam suka maupun duka.

Seperti biasanya, selepas pulang sekolah, aku, Jonathan  dan beberapa teman lainnya memberi waktu luang untuk bermain Wi-Fi dalam kelas pada laptop kami masing-masing.  Biasanya kami menghabiskan waktu bermain selama 2 jam.  Tapi kali ini kami menargetkan bermain hanya 1 jam.  Karena kami harus mengerjakan tugas sekolah lagi.  Setelah setengah jam berlalu, tiba-tiba Elsya masuk ke dalam kelasku bertujuan menemui Jonathan yang berada tepat di sampingku. Hati ini kembali berdegup kencang ketika melihat dia tiba-tiba datang.  Dia pun mulai mencoba berbisik dengan Jonathan.

Mata ini disengaja menatap kuat pada layar monitor di laptopku, akan tetapi hati ini ingin melihat wajahnya dengan jelas.  Berarti mereka berdua sudah saling dekat, pikirku dalam hati.  Setelah beberapa saat berbisik, dia pergi dengan buru-buru.  Dengan sigap, aku langsung menanyakan perbincangan mereka.

 â€œKalian bicara apa sih, Jo?” tanyaku. 

“Dia hanya mau bilang, kalau besok sore kami akan berdiskusi mengenai tugas fisika yang menumpuk”.

“Boleh ikutan gak?” tanyaku dengan cepat. 

“Tapi kan rumahmu jauh dibandingkan rumah kami berdua.”

“Gak apa-apa kok!” jawabku dengan senyam-senyum.

Setelah waktunya sudah tepat, kami pun pulang ke rumah kami masing-masing.  Aku pulang bersama Jonathan sambil berbincang mengenai tugas fisika yang sangat banyak. Jonathan sempat berpikir untuk menyamakan tugas Fisika dengan Kasih Ibu.  Karena keduanya sama-sama tak terhingga sepanjang masa.  Aku pun tertawa dengan celotehnya.

Setelah keesokan harinya, aku sudah sangat menunggu untuk pulang sekolah.  Karena ingin berdiskusi dengan Elsya dan Jonathan.  Lonceng pun berdering kencang dan membuat hatiku dag-dig-dug ingin bertemu dengan Elsya.  Dari awal perjalanan hingga akhir wajahku selalu saja menebarkan sejuta senyuman indah.  Setelah sampai di rumah Jonathan, ia langsung menyiapkan hal-hal yang akan diperlukan untuk belajar.  Mereka sudah memulai tetapi aku masih senyum-senyum cengengesan. 

“Kamu kenapa Mar?” tanya Elsya.

“Aku gak kenapa-kenapa kok!” tegasku sambil menahan hati yang kalang-kabut ini.  Jonathan pun heran melihat kami berdua tersenyum-senyum.
“Cie... Cie..., yang tabrakan itu!” lemparnya kepada kami. 

“Apaan sih, ngapain cobak diungkit-ungkit lagi,” jawab Elsya sambil mengelak senyumnya.  Setelah itu, kami pun memulai belajar serius sampai akhirnya aku pulang dan menyimpan penawar rasa dag-dig-dug yang ada di hatiku.  Penawar rasa itu adalah dua belas angka yang tak beraturan.

Betapa herannya aku ketika melihat dia muncul dalam kelasku ketika aku memasuki kelas pagi ini.  Dan ternyata dia mulai sering berkunjung ke kelasku untuk menemui aku, khususnya.  Dan mulai hari itu aku dan Elsya mulai dekat.  Dan lama-kelamaan kami menjalani keseharian tanpa status yang jelas.  Kami berteman, tetapi aku merasa lebih.

Alangkah terkejutnya hati ini mendapat pesan dari Jonathan bahwa Elsya mengatakan kepada Jonathan bahwa dia menyukaiku.  Tanpa berpikir percaya atau tidak, aku langsung tertawa cekikikan.  Dan yang paling mengejutkan lagi, Elsya mengirim pesan kepadaku agar aku datang bersama Jonathan ke taman bunga besok untuk menemaninya membeli bunga.  Tanpa kata, aku langsung mengiyakannya dan memberitahu Jonathan.  Jonathan pun mengiyakan pesanku.  Aku bahagia saat itu.

Keesokan harinya, kami pergi ke taman bunga untuk memilih bunga yang indah.  Aku melirik kuat kepada sebuah bunga berwarna kuning halus dan bermahkota yang indah.

“Ayo kita ke sana,” ujarku sembari menunjukkan bunga indah tersebut. 

“Maafkan aku… tetapi aku harus pergi.  Aku lupa bahwa aku memiliki satu tugas penting,” potong Jonathan.

Kami berdua pun menerimanya.  Setelah Jonathan pergi, aku dan Elsya membeli bunga yang kusarankan akan keindahannya.  Kami pun pulang setelah membeli bunga.  Setelah melangkahkan selangkah kaki keluar dari garis pembatas, handphoneku berdering tak karuan.  Aku mendapat kabar dari adik Jonathan bahwa Jonathan mengalami kecelakaan sepeda motor.  Kami pun langsung bergegas menuju rumah sakit yang diberitahukan Diau, adiknya Jonathan.

Sesampainya di rumah sakit Diau  telah menunggu kami di depan.  Dia menunjuk kamar di mana tempat Jonathan membaringkan dirinya.

Aku bergegas membuka knop pintunya.  Aku terpanjat ketika melihat Jonathan terbaring di atas tempat tidur.  Kami berdua menghampirinya. 

“Aku meminta maaf karena telah berbohong kepada kalian!” ujarnya.

Kami berdua bingung.  “Memangnya kenapa, Jo?” tanyaku.  “Sebenarnya aku tidak memiliki tugas apa-apa, dan aku tidak mau merusak suasana kalian berdua yang berbunga-bunga.  Jadi aku memutuskan untuk pulang.  Tapi inilah yang kudapat!” jawabnya dengan sendu.

Kami berdua hanyut akan kesaksiannya.

Akhirnya dia mengambil bungkusan bunga yang indah itu dari tangan Elsya dan diberi kepadaku.  Aku bingung.  Jonathan mengucap beberapa kata bermaksud agar kami berdua menyatukan perasaan kami masing-masing.  Suka sama suka, kami pun bersatu dalam kata cinta.  Dan sekarang, tiada lagi rasa dag-dig-dug, tiada lagi senyam-senyum cengengesan, tiada lagi rasa malu.  Karena cinta yang kudapat telah membuatku berubah sepenuhnya.

Di akhir cerita aku menyadari bahwa Jonathan telah menjadi sebuah jembatan yang kokoh dalam menghubungkan aku dengan Elsya.  What a beautiful ending, and I love it! (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru