Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Aku Harus Bangun Sebelum Ibu Terjaga

* Veronica V Sinaga, SMP Budi Murni 1 Medan
- Minggu, 21 Februari 2016 18:47 WIB
197 view
Suara keras dari dapur membangunkanku dari tidur siangku. Tetapi setelah itu, tidak ada lagi suara. Sambil malas-malasan aku menggeliatkan tubuh di kasur dan hendak tidur lagi. Tetapi keingintahuanku pada suara tadi semakin tinggi.

Sambil mengosok mata, aku melangkah ke dapur. Tidak ada orang sama sekali. Tetapi, tatkala hendak balik kanan, aku mendengar suara mengaduh dari pojok ruang di kaki meja.

Ya Tuhan... ibuku mencoba senyum padaku. Namun dari wajahnya tidak dapat menyimpan rasa sakit. Langsung kupeluk ibu yang masih terjerembab.

Ia tak mau mengatakan sakit tapi Ibu cerita jatuh karena terpeleset. Terpeleset? Tidak ada air. Mungkin disebabkan kecapekan. Sambil mencoba mengangkat, ibu terus memegang kakinya.

Ketika kulihat mata kaki ibuku tergores, aku langsung menggosok-gosok tapi ibuku menolak. Dari wajahnya terlihat sekali Ibu menahan sakit.

Pelan-pelan kupapah dan aku masuk kembali ke kamar. Kami langsung masuk kamar masing-masing. Ibu di kamarnya. Dalam istirahat, aku tetap ingat ibu.

Sepanjang hari, sejak matahari bersinar hingga malam menjelang ayam berkokok, ibu terus mengurusi kami anak-anaknya. Tetapi, tetap tak pernah mengeluh.
Beda dengan kami buah hatinya. Diminta membantu saja, langsung mencari alasan untuk menolak. Andai terus didesak, segudang alasan dikemukakan untuk mengelak.

Sambil menangis, aku melangkah ke kamar ibu. Pelan-pelan kubuka. Ya Tuhan, ibu meringkukkan badannya, yang membuatku langsung memburunya.

Semua pertanyaanku tentang kenapa posisinya seperti itu, tetap tak dijawab. Ibu justru berusaha tersenyum tapi masih memegang mata kakinya.

Sama seperti tiap harinya. Seperti kuceritakan tadi. Betapun capeknya, Ibu tak pernah jemu apalagi mengeluh. Dengan kejadian kali ini membuatku merasa bersalah.

Andai aku selama ini mau membantunya, lebih rajin, pasti insiden tidak terjadi pada perempuan yang melahirkanku itu. Tidak membuat kaki ibu bengkak seperti sekarang.

Sambil memeluk ibu yang masih memegang kakinya, aku bertekad mengubah sikapku untuk lebih baik. Ingin aku mengerjakan urusan rumah sebelum ibu terjaga saat pagi hari dan masih membantunya saat orang mulai istirahat, tidur malam. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru