Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Digital Dapat Menjauhkan Naposo Gereja dariNya

- Minggu, 21 Februari 2016 18:59 WIB
527 view
Digital Dapat Menjauhkan Naposo Gereja dariNya
St UTH Sinambela
Medan (SIB)- St UTH Sinambela menyimpulkan, kemajuan teknologi digital telah mengubah tatanan dan pandangan orang-orang muda pada gereja. Misalnya, Alkitab konvensional perlahan-lahan ditinggalkan karena ada nats digital. Ke gereja sudah tak menjinjing kitab suci tapi mengantungi tablet digital. “Revolusi digital memosisikan naposo gereja lebih pintar dari pengemuka gereja, mulai dari pendeta dan perangkatnya, yang di dalamnya Guru Huria, Bibelvrou termasuk Sintua. Tetapi dengan lebih pintar tersebut membuka kemungkinan naposo gereja menjauh dariNya,” ujar sesepuh Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) Resort Khusus Sampurna Medan itu, Jumat (19/2).

Alasannya, dengan kualitas lebih dari seluruh perangkat gereja membuat anak-anak merasa lebih dari lainnya hingga andrenalin egonya semakin bertahta. Kondisi itulah yang membuat anak-anak muda semakin jauh dariNya. “Untuk mencegah kondisi tersebut semakin runyam, pihak yang mengklaim sebagai bekerja di ladangNya harus menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi digital tersebut,” tegas pria yang baru usai syukuran Gold Wedding 50 Tahun Pernikahannya dengan Rospita Silitonga di MICC Medan, Senin (1/2), itu.

Menurut pria kelahiran Parsinggulan, Doloksanggul pada 31 Agustus 1941 sebagai anak pasangan Samuel Sinambela (Op Jhoni) - Br Banjarnahor tersebut, untuk pembinaan naposo gereja harus ada revolusi mental. “Yang paling mendasar adalah penanaman dan pemupukan sense of belonging dalam jiwa naposo itu.
Menyusul langkah tersebut, para pekerja gereja meningkatkan kualitas SDM mulai dari pemahaman Injil yang lebih termasuk penguasaan perkembangan teknologi digital,” papar St UTH Sinambela sambil mengatakan meski idealisme gereja tradisi lebih sempurna tapi tetap harus membuka diri atas kemajuan.

Bila tidak mengisi diri, naposo gereja mengingkari kehadirannya di rumah Tuhan. Misalnya, karena khotbah membosankan, anak muda membuka smartphonenya dan berselancar di dunia maya atau membuat status di jejaring sosial. “Ini harus dihindari!”

Ia membuka pengalaman pribadi dalam menggalang naposo gereja agar betah di lingkungan rumahNya. “Naposo itu harus memiliki homesick secara batin dengan gereja dalam arti luas. Sense of belonging pada rumah Tuhan yang harus diupayakan. Bila sudah ditanam, mudah-mudahan upaya pengisian bobot moral religius semakin mudah,” ujarnya sambil mengatakan di sanalah diperlukan pengamalan adat yang kuat dari rumah. “Orangtua harus tetap berbahasa Tuhan dan tidak meninggalkan adatnya bila berkomunikasi dengan orang muda!”

Menunjuk pada langkah Punguan Naposo Bulung HKI Sampurna, St UTH Sinambela mengapresiasi langkah edukasi Pendeta Rio Pendi Nababan STh pada generasi muda gereja yang peletakan batu pertamanya tahun 1995 oleh Ephorus HKI Pdt H Simangunsong BD MTh itu. “Naposo gereja didekatkan dengan kegiatan gerejawi yang mengadopsi teknologi. Selain itu para pemuda yang berbakat disalurkan tanpa berjarak dengan aktivitas rumahNya,” jelasnya.
Sebelumnya Pdt Rio Nababan mengutarakan, sejumlah naposo gereja — seperti Nia Silitonga,  Putri Nababan, Karunia Silalahi dan Ruly Silitonga — dilatih memiliki tanggung jawab gerejawi. (R9/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru