Ruangan Kelas XI A, SMU Tunas Kencana, kini telah lengang. Siswanya telah berbaur di lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Hari ini Pak Pardosi akan mengajari teknik-teknik lari Estafet. Dengan tekun, siswa mendengarkan penjelasan dari guru berkumis tipis itu.
Saat bersamaan didalam ruangan seorang siswa terduduk termenung. Untuk menghalau pikirannya yang tengah berkecamuk dia meraih novel karya Enyd Blyton “Lima Sekawan Dalam Sarang Penculikâ€.
Tengah menikmati klimaks inti cerita tentang petualangan anak tersebut, sebuah batuk kecil mengagetkannya. Matanya beralih kearah suara. Jantungnya berdebar kencang saat melihat sebuah senyum simpul dari bibir seorang cowok.
“Aduh...mati aku’ Senyumnya itu kiyut banget gumam Tiur sambil pura-pura membolak-balikkan buku novel tersebut.
“Hmm...! Tiur...kok gak olahraga?â€
“Malas saja, sahut Tiur tanpa berani menatap cowok yang kini hanya berjarak semeter dari duduknya.
“Olahraga gak bolehmalas loh. Untuk menjaga metabolisme tubuh.â€
“Hmmm...gaya bicaranya sungguh menusuk jantung,†guman berbunga-bunga.
“Maaf saya boleh duduk di sini?â€
“Oh...my God! Mimpi apa aku semalam ya, hati Tiur bukan main girangnya. Wajahnya senyum. Tidak menyangka cowok paling ganteng di sekolah ini akan menyapa dia dan kini duduk bersama dengannya.
Tomi nama cowok yang tengah duduk dekat dengan Tiur. Badannya tinggi. Bodinya six pack. Rambutnya RBT, Rambut Belah Tengah, Bibirnya merah. Padahal tidak pernah pakai lipstick. Hidungnya bangir. Kulitnya hitam manis. Pokoknya Tomi adalah cowok paling sempurna di mata cewek seantero sekolah ini. Atau barangkali dibanding cowok di sekolah lain Tomi tiada duanyalah.
“Kamu sendiri kenapa tidak olahraga? Mentang-mentang tubuhmu sudah atletis, kamu malah cabut. Ntar Pak Pardosi marah...â€
“Kalau kita berdua sama-sama dimarahi, gak apa-apa!
“Hust ntar ada yang cemburu.
“Cemburu? Tomi menggeleng setelah berdiam sebentar.
“Siapa yang cemburu, saya belum ada teman spesial.
“Cowok seganteng kamu belum ada teman special? Apa kata dunia? suara Tiur terdengar lantang. Lalu mereka berdua tertawa kuat-kuat.
“Hei. Diam kalian berdua. Di dalam ruangan pacaran. Tertawa terbahak-bahak. Hingga ruangan sebelah sangat terganggu. Kau, Tomi! Kenapa kamu tidak olahraga? Biar bisa pacaran sama Timur? suara Ibu Suminah guru matematika menggelegar bagai petir. Membuat Tomi pucat bagai tape.
“Maaf...maaf bu...!
Akan saya lapor sama Pak Pardosi dan Guru BP.â€
“Bu, saya dan Tiur bukan pacaran...â€
“Beraninya kamu membantah. Go out! “Ibu Suminah bertubuh gendut itu kelihatan bergetar karena emosi. Tomi semakin ketakutan. Meskipun wajah ganteng kalau sudah berurusan dengan BP tetap membuat dia ketakutan.
***
Bagai api yang menjalar di lalang kering, kejadian Tomi dan Tiur cepat tersebar hingga ke pojok sekolah. Siswa Kls XI A sebagian iri, sebagian senang atas peristiwa tersebut. Hingga istirahat pertama, Tomi masih mendekam dalam ruang BP.
“Tomi...kenapa kamu cabut saat jam saya? Tanya Pak Pardosi dengan logat Batak yang teramat kental. Kumis tipisnya bergerak-gerak.
“Kawan-kawanmu berkeringat dilapangan. Eh kamu malah enak-enak...marhalleti di dalam ruangan. Kalau dengan si Agnes Monika tidak apa-apa,†suara Pak Pardosi meledak ledak bagai petasan.
“O...o.ooo..jadi dia tidak ada permisi kepada bapak? tanya Ibu Via guru BP yang terkenal paling galak.
Pak Pardosi geleng kepala. Lalu katanya “Entah kenapa, belakangan ini dia menjadi pelamas.â€
“Tenggorokanku sudah kering berkoak-koak tadi, Bah...! Saya mau minum tuak dulu,†canda Pak Pardosi membuat Tomi tersenyum.
“Jangan tersenyum! Sudah salah pakai senyum-senyum segala,†bentak Ibu Via.
“Bu,...maaflah bu, atas kejadian yang tadi. Kok saya saja yang dihukum Tiur, kenapa tidak?
“Kamu belum tahu, kalau si Tiur itu sudah dapat dispensasi saat jam olahraga?
“Maksud ibu?
“Si Tiur itu tidak boleh olahraga, karena dia mengidap kanker tulang di kakinya. Jadi orangtuanya sudah minta dispensasi saat pelajaran olahraga,†jelas Ibu Via, membuat Tomi bagai mendengar guntur di siang bolong.
“Jadi...mata Tomi terbelalak. Namun wajah gantengnya kelihatan semakin manis.
“Apanya yang jadi...jadi? bentak Ibu Via kesal.
“Maaf Bu...saya baru tahu kalau...
“Sudahlah itu tidak perlu kita bahas. Sekarang kamu keluar dan besok orangtuamu harus datang. Kamu sudah melakukan kesalahan besar,†Ibu Via menyodorkan surat panggilan kepada orangtua Tomi.
Malam mulai menyapa. Angin sepoi berbisik pelan. Didalam kamar, Tomi terlentang menerawang ke langit-langit rumah. Hatinya gundah. Tiba-tiba peristiwa dua minggu lalu terbayang di pelupuknya. Peristiwa yang tidak direncanakan, tetapi dia merasa bersyukur mengalami kejadian tersebut.
Suara Ibu Suminah yang menggelegar saat itu terbayang, hingga dia dibawa ke ruang BP. Setelah itu tersibak kalau ada rahasia yang disimpan Tiur selama ini. Anehnya, semua yang dialami Tiur menjadikan hatinya merasa kasihan, iba tetapi suka.
Dengan refleks Tomi meraih pulpen dan selembar kertas.
“Untuk mu Timur...
Rasa penasaranku timbul, saat setiap pelajaran olahraga. Diantara teman-teman sekelas yang tengah asyik bermain olahraga, saya selalu kecarian akan dirimu. Setiap Pak Pardosi mengabsen, namamu selalu dilangkahi. Saya semakin penasaran. Lalu suatu hari saya memergoki kamu tengah membaca di ruangan saat pelajaran olahraga. Tengah kita terbahak-bahak. Kita tidak tahu ternyata kelas lain menjadi terganggu. Dan dengan marah Ibu Suminah memarahiku lalu masuk ruangan BP. Tanpa kusadari, Ibu Via menyibak rahasiamu, ada rasa kasihan bercampur rindu sejak saat itu.
Tiur...! Aku tidak begitu paham rasa apa yang tengah berkecamuk. Hingga malam menjelang, mata selalu sulit merapat. Wajahmu terbayang membayang. Senyummu sungguh merontokkan hatiku yang selama ini sangat sulit jatuh cinta. Namun kini kusadari, cinta tidak memandang rupa. Cinta memandang hati. Tiur, dengan cinta penyakit dapat sembuh, yakinlah Tiur. Malam ini aku hendak bertanya pada bintang di langit. Apakah bintang bintang itu setuju jika aku mencintaimu?
Tiur...aku ingin berkirim sapa salam hangat lewat angin malam, maukah kamu menerima hatiku ini?
Tiur..! ILove...You...!
(Dari Tomi Hasiholan)
Dengan senyum Tomi melipat surat itu. Besok dia akan menitipkan surat itu kepada Bella sahabat Tiur. Malam makin merangkak jauh. Tomi terlelap.
Keesok harinya Sekolah Tunas Kencana gempar. Seorang siswa mengalami kecelakaan tidak jauh dari gerbang sekolah.
“Makanya kalau bawa kereta jangan ngebut-ngebut! “Karena kesal satpam memukul lelaki berewok pengendara kareta yang mencoba melarikan diri. Keretanya hancur lebur. Setelah menabrak seorang siswa, kereta itu menabrak dinding gerbang hingga peyot. Seorang siswa terkapar bersimbah darah. Kakinya remuk. Saat itu juga siswa dilarikan ke rumah sakit terdekat. Segala usaha telah dilakukan dokter, namun nyawa siswa itu tidak dapat diselamatkan.
Suasana haru seketika menyelimuti Kelas XI A Isak tangis meledak. Tiur telah pergi. Sangat cepat. Namun semua kehendak Yang Maha Kuasa. Di antara siswa yang paling remuk adalah Tomi. Dia meraih sebuah surat dari sakunya lalu merobek-robeknya kesal. Tangisnya pecah. Air mata itu membasahi keeping-kepingan surat yang tengah dirangkainya untuk Tiur.
(t/p/l)