Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Kali Ini, Cuma Doa yang Kupunya

* Nia Sigiro, SMA Nasrani 2 Medan
- Minggu, 06 Maret 2016 16:24 WIB
294 view
Sepanjang bulan bahkan tahun, bapak-mamakku sibuk dengan kerjaannya. Aku terbiarkan sibuk dengan urusan sendiri. Mulai memenuhi kebutuhan sekolah dan rumah. Mereka paling hanya kontrol keseharianku dengan pertanyaan sekilas.

Aku pun terbiasa dengan jawaban datar. Maksudnya, apapun yang kulakukan, selalu kujawab beres. Padahal, belakangan aktivitasku mulai berseberangan. Aku sudah sering menghabiskan waktu bersama kawan-kawan, sepulang sekolah.

Mulai dari ngerumpi sampai chating. Kadang menggunjingkan cowok. Yang terakhir disebut memang jadi santapan utama. Begitu tahu hari menjelang malam, aku buru-buru pulang. Sampai rumah, belum makan, langsung tidur.

Tiba-tiba terbangun saat mamak-bapak pulang. Kadang aku geram sendiri. Begitu recoknya orangtuaku itu mengemasi pekerjaannya hingga membuatku terjaga. 

Tetapi lama-kelamaan aku bosan dengan aktivitasku. Apalagi setelah cowok gebetanku menyakitiku dengan berpaling ke sahabatku satu grup. Ketika aku dalam kepedihan tersebut, baru ingat mamak-bapakku. Namun aku tak berani mengungkapkan isi hatiku yang perih, hancur dikhianati.

Aku teringat pada keinginan mamakku yang ingin aku menjadi anak membanggakan. Saat aku terbangun ketika mendengar suara  keduanya, pelan-pelan aku mengintip dari gorden.

Duhai, betapa aku menyia-nyiakan semua pemberian mereka. Lihatlah jari-jemari mamakku yang sudah keriput. Kotor demi mencari sesuap nasi, untukku. Perhatikan rambut putih yang semakin menghiasi kepalanya. Rasanya bapakku lebih uzur lagi ketimbang mamak.

Rambut bapak sudah hampir seluruhnya memutih. Keriput di wajahnya makin banyak. Aku sampai takut menatap lama-lama.

Dalam pejam mataku, air mataku menetes. Hari ini, aku yang membukakan pintu untuk mamak-bapakku hingga membuat keduanya terheran. Cepat-cepat pula kuhidangkan teh dan kopi manis kegemarannya. Begitu mereka duduk bersandar ke dinding, kuberanikan mengusuk tubuhnya.

Aku pun terus berdoa, kiranya kesehatan bapak-mamakku semakin kokoh. Tetapi aku jadi khawatir. Apakah nanti aku masih dapat membahagiakan orang yang sangat berharga dalam kehidupanku? “Tuhan, jadikan aku anak yang membanggakan mamak-bapakku. Amin.” (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru