Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Tidak Kiamat

* Karya: Kristina Napitupulu SMA N 2 Rantau Selatan - Rantauprapat
- Minggu, 06 Maret 2016 16:24 WIB
419 view
Sebelum aku mengenal dia, aku tak pernah memikirkan kapan kiamat. Memang tak ada satu orang pun yang tau kapan kiamat itu datang kecuali Tuhan. Tapi sekarang, entah mengapa aku selalu berpikir kalau kiamat itu sebentar lagi akan datang. Penyebabnya adalah Ratu Sovi. Menurutku dia hampir sama dengan malaikat pencabut nyawa, bahkan lebih kejam. Kalau malaikat pencabut nyawa itu datang hanya untuk mencabut nyawa, tapi kalau Ratu Sovi datang dia akan menyiksa dengan semua peraturannya yang tidak boleh dilanggar.

Ratu Sovi adalah guru di kelompok ku. Dia salah satu dari dua orang guru, yang hobinya menyiksa siswa dengan semua tugasnya dan segala peraturannya yang tidak boleh dilanggar.

Dulu aku merasa bimbingan belajar itu sangat menyenangkan tapi sekarang sangat menyebalkan. Semua itu berubah karena dua orang pembimbing tadi. Ratu Sovi adalah satu-satunya pembimbing yang tak pernah memikirkan betapa stresnya semua remaja yang dia ajari, termasuk aku. Aku merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menjadi korban dari semua kegilaannya. Padahal bimbingan adalah pelajaran yang sepele, karena tidak perlu menguras otak untuk menjawab soal-soalnya. Dan menurutku pelajarannya tidak begitu penting.

Dalam satu minggu ada tujuh hari, dua hari dari ke tujuh hari itu adalah hari yang sangat mematikan. Karena pada dua hari itu kedua pembimbing sama-sama masuk ke dalam kelasku di hari yang sama. Meskipun ada lima hari lagi yang tidak bertemu dengan keduanya, tapi tugas-tugas mereka menyita semua waktuku yang ada sehingga membuatku jenuh.

Seperti itulah hari-hari yang harus kujalani. Rasanya seperti keluar masuk neraka, secara bolak balik.

Makin lama Ratu Sovi makin gila dengan semua peraturannya, yang tidak boleh dilanggar. Saking gemetarnya, aku terlambat hadir. “Tok...tok... akupun mengetuk pintu. 

“Yang terlambat tidak boleh masuk,” sambarnya. 

“Maaf, bu” jawabku dengan wajah penuh dengan penyesalan. 

“Yang terlambat tidak boleh masuk!”

Aku pun berdiri di depan pintu, menunggu jam bimbingannya selesai. Meskipun aku dihukum tidak boleh masuk ke dalam kelas, aku pun merasa senang karena terbebas dari neraka. Sekarang adalah hari di mana aku harus masuk lagi. Dan ini adalah akhir dari riwayatku, karna aku tidak mengerjakan semua tugas-tugas yang diberikan Ratu Sovi.

Hatiku berdebar dengan cepat ketika melihat Ratu Sovi berjalan menuju kelasku.

“Pimpin doa Kamil,” perintah Ratu Sovi kepada salah satu temanku.

“Oke, bu” jawab Kamil.

“Baik, pagi semuanya ?” kata Ratu Sovi.

“Pagi Bu” jawab kami satu kelas.

“Siapa yang tidak mengerjakan tugas ! Siap-siaplah kalian.”

Hati ku semakin tak karuan dan ini berarti kiamat. Tamatlah sudah riwayatku hari ini,

“Sekarang yang tidak mengerjakan tugas silahkan maju. Kamu harus tahu diri. Di situ bukan tempatmu karena kamu tidak pantas ada di situ,” kata Ratu Sovi.

Aku mengambil tempatku di depan ruangan. Aku pun duduk di lantai. Ratu Sovi menyebut tempat yang aku duduki adalah kafe lima watt. Kafe lima watt adalah tempat orang-orang yang tidak mengerjakan tugas. Tapi sekarang beda, semua siswa yang ada di kafe lima watt mendapat minus yang sangat banyak, daripada nilai yang kudapat saat belajar bahasa Indonesia.

“Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas,” tanya Ratu Sovi.

“Maaf Bu, semalam sudah saya kerjakan tapi lupa saya bawa!” jawab ku dengan penuh rasa takut.

“Tidak usah kamu mencari alasan untuk membenarkan diri!”.

Aku pun merasa bersalah karena aku tidak mengerjakan tugas. Nilaiku pun menjadi minus pada akhirnya. Sekarang aku baru mengerti apa maksud dan tujuan dari Ratu Sovi. Mengapa dia menyiksa siswa dengan semua tugasnya dan peraturannya yang tidak boleh dilanggar. Karna menurut Ratu Sovi itu semua hanya akan membuat siswa terus mencari-cari alasan untuk membenarkan diri atas kesalahannya.

Ternyata Ratu Sovi tidak sama dengan malaikat pencabut nyawa, tetapi Ratu Sovi sama dengan malaikat penolong, yang suka menolong siswanya. Untuk mampu menjalani hidupnya ke depan pada saat nanti dia melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru