Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Bahasa dan Keterbatasan Akses Kendala Remaja Beroleh Beasiswa ke LN

- Minggu, 20 Maret 2016 16:17 WIB
807 view
Bahasa dan Keterbatasan Akses Kendala Remaja Beroleh Beasiswa ke LN
SIB/Dok
Magang: remaja asal bona pasogit yang bakal menjalani on the job training di negara ASEAN berada di Apartemen Huber Medan, Jumat, (18/3).
Parapat (SIB)- Pembimbing bakat anak dan remaja Murni Huber-Tobing mengatakan, anak-anak bangsa khususnya etnis Batak tak kalah bersaing dengan generasi muda luar negeri (LN). Yang jadi kendala hanya faktor bahasa dan keterbatasan akses. “Soal kualitas, tak kalah. Mengenai bahasa, hanya sebentar menjadi gap. Yang diperlukan adalah akses maksimal,” ujar perempuan yang mengibarkan bendera Abadi Hijau Cita Perkasa (AHCP) dalam merekrut anak muda dari bona pasogit untuk beroleh pendidikan gratis di LN. “Tahap pertama, sesuai semangat ASEAN Economic Community (MEA - masyarakat ekonomi ASEAN) magang di negara sekawasan tapi AHCP sedang menjajaki mendapat beasiswa di 26 negara Schengen,” paparnya, Jumat, (18/3).

Negara Schengen adalah sejumlah negara di Eropa yang menghapuskan pengawasan perbatasan di antara sekawasan. Putri Murni menimba ilmu di Eropa Barat dan perempuan kelahiran Sibolga itu pernah mendapat beasiswa bidang broadcast di Jerman.

Khusus untuk meningkatkan kualitas serta memenangkan bersaing di era MEA, Murni bersama timnya melakukan seleksi langsung ke 7 kabupaten di kawasan yang mengitari Danau Toba. Cara tersebut dimaksudkannya sebagai bukti kecintaan pada leluhur dan bona pasogit. Ketika melakukan hal serupa di Yayasan HKBP SMA Parapat Sipangan Bolon, perempuan aktivis lingkungan itu menegaskan meski dari sisi kualitas generasi muda Batak tak kalah dengan rekan sebaya di LN tapi naposo Batak harus lebih unggul di bidang adap dan tata-krama mencakup mental jujur, takut padaNya dan memegang teguh adat-istiadat.

Mengenai intonasi dan gaya bahasa yang keras, tidak menjadi soal. “Di sanalah eksotiknya orang Batak yang terbuka dan blak-blakan,”
Dalam sebulan berkeliling di kawasan Danau Toba, sudah diperoleh sejumlah remaja yang segera diberangkatkan menuju negara ASEAN mengikuti program on the job training selama 6 bulan secara gratis. Karena saat ini fokusnya bidang kuliner dan industri pariwisata, AHCP beroleh dukungan dari Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Utara dan Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Sumatera Utara di bawah pimpinan Dhanny Wardana yang difasilitasi Dewi Juwita Purba. Dalam pertemuan dengan Kadispar Sumut Drs Elisa Marbun MAP, Murni meminta otoritas memberi dan membuka akses informasi semaksimalnya bagi warga yang bermukim di sekitar Danau Toba. “Ini sejalan dengan program pemerintah menjadikan Danau Toba sebagai Monaco of Asia. Begitu selesai magang di LN, generasi muda bona pasogit langsung terserap di sektor dimaksud,” tutup Murni sambil mengulang tagline yang dipopulerkannya, Tao Toba Natio Tao Nauli. (T/R9/d)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru