Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Coretan Pendek

* Karya : Aprilianju Kristesia Purba SMK Bintang Timur Pematangsiantar
- Minggu, 20 Maret 2016 16:19 WIB
598 view
Garis panjang tanpa arah, kotor terlihat mata. Garis yang tak berarti membuat sebuah kertas terlihat berisi. Berisi ejekan yang tak terpuji. Tulisan tiada arti. Pengisahan yang tak tertebak. Coretan yang kadang terlihat abstrak. Melengkung tiada makna. Tebal tanpa warna.

Hidupku seperti coretan yang kuutarakan pada selembar kertas buram. Tanganku mulai bergerak menggerakkan pena di atasnya. Kupimpin pena agar lebih semangat menari di atas selembar kertas. Lurus, melengkung dan belok tak menjadi permasalahan bagi penaku. Yang penting sudah mengikuti jejak-jejak yang ingin ku tulis.

Aku lelah. Tulisan pertama yang ditulis sang pena pada selembar yang sudah berisi garis-garis panjang yang tak berarti. Emotion marah, lelah juga terlihat dalam selembar kertas itu. Warna berbeda yang diberikan sang pena terlihat lebih berwarna. Kuarahkan pena membuat lubang-lubang kecil di tengah-tengah kertas. Semakin terlihat lebih sempurna.

Kertas yang semula berwarna itu kini berubah menjadi warna warni yang berbeda. Kertas yang semula terlihat buram kini sudah terisi dengan garis-garis yang tak bermakna. Sulit! tulisan besar tepat di pertengahan kertas itu.

Kertas itu terlihat berkesan. Terlihat lebih menarik.Tidak seperti kertas kosong tanpa makna. Biarkan pena mengisi kertas. Terserah! Terserah sang pena ingin menulis apa. Biarkan dia mencoret-coret kertas. Biarkan! Walau kadang dia lelah, biarkan dia terus menari di atasnya. Jangan larang dia! Jangan larang dia untuk berbuat apapun di atas kertas yang tak bermakna itu.

Penuh dengan tulisan yang tak bermakna. Tak punya makna! Itu hanya coretan pelampiasan yang tidak perlu dihiraukan. Biarkan dia penuh dengan kotoran pena yang tak memiliki arti sama sekali. Biarkan dia terisi garis-garis yang tak berarti. Biarkan dia terisi ejekan-ejekan yang sama sekali juga tak berarti. Tak usah hiraukan dia. Dia hanya secarik kertas yang tak berarti. Tak usah kau merasa kasihan terhadapnya. Dia hanya kertas! Kertas.

Meski kertas putih itu tidak dapat lagi ditulis, tetap tulis. Coret dengan garis tebal panjang. Biarkan penuh dengan coretan -coretan yang tak berarti. Aku kertas putih yang kau coret-coret. Ambil aku lagi. Tuangkan semuanya kedalamku. Aku akan menerima semua jenis garis yang kau tuangkan untukku.Akan kubiarkan kau melampiaskan semua yang kau alami. Coret aku. Lebih tebalkan lagi penamu. Jangan hiraukan aku. Aku bahkan lebih senang ketika semua amarahmu tercantum didiriku. Jika kau masih belum puas aku rela kau cabik-cabik.

Aku kertas putih yang kau coreti rela dipenuhi kata-kata murahan yang kau tuangkan untukku. Aku tak akan bisa berkata-kata jika kau hanya diam membisu dan saling bertatapan pada tembok yang juga sebenarnya sangat ingin membantumu. Jangan hiraukan meja yang selalu kau tumbuk jika kau merasa belum puas padaku. Aku, meja, tembok dan semua benda yang ada didekatmu tidak akan pernah berkata sepatah katapun. Karena kami akan merelakan apapun demi kepuasanmu,

Aku yang selalu menjadi bahan pelampiasanmu. Aku tidak apa-apa. Aku senang bisa mengetahui semua masalahmu. Walau goresan luka ada pada diriku, aku tak akan membuatmu lebih kecewa.Tulis aku, coret aku jika kau perlu.Lampiaskan semua amarahmu padaku. Biarkan! Biarkan aku kesakitan demimu.
Aku tahu masalahmu, aku mengerti akan segala hal tentangmu. Aku mengerti arti garis panjang melengkung, arti garis lurus dan arti garis belok yang kau tuangkan didiriku. Aku mengerti arti coretan yang tak bermakna itu. Aku juga mengerti arti kata yang murahan itu.

Jangan hiaraukan putihku.Jika kau masih belum puas ambil aku lagi.Coret aku lagi dengan garis-garis yang ingin kau lontarkan. Jangan risau aku tak akan pernah hilang darimu. Aku akan menerima semua curhatmu. Menerima semua keluh kesalmu, menerima semua susah senangmu.Aku ingin kau melontarkannya hanya padaku. Bukan di BBM, Facebook, Twitter atau sosial media manapun.

Aku yakin mereka tidak akan mengerti masalahmu. Karena mereka publik. Mereka akan membagikan semua masalahmu ke orang-orang yang sudah dan belum mengenalmu. Hanya aku yang bisa menjaga rahasiamu. Jangan sangsikan aku. Aku tak seperti mereka. Ayo! Lontarkan garis-garis panjang itu lagi. Tuliskan padaku tentang  masalahmu. Cabik aku jika itu membuatmu lebih puas. Lemparkan aku jika itu bisa membuatmu senang.

Bukan hanya karena aku  selembar kertas yang tak berharga bagimu. Tapi aku adalah kertas yang selalu mengerti dirimu. Aku memang benda mati yang tak bisa mendegarkan dan berbicara langsung padamu.

Lihat! Ketika kau melontarkan kata-kata murahan padaku. Apa aku pernah bilang  untuk tidak mengatakan itu lagi. Tidak kan!  Aku akan tetap berpihak padamu. Satu tulisan yang sangat berharga bagiku ketika kau menuliskan "Aku akan hidup dengan baik. Memecahkan masalah tanpa masalah akan kulakukan "Ini pujian yang sangat berarti bagiku.

Coretan pendek itu sangat berarti bagiku dan bagimu.Aku bahkan lebih senang melihat coretan pendekmu tentang itu padaku. Walau diantaranya lebih banyak coretan panjang yang tak berarti, kata-kata murahan yang menusuk hati. Bahkan garis panjang dan tebal yang membuatku kotor dan terlihat sedikit jorok.

Ku yakin coretan pendek  yang kau tuangkan padaku memang sangat kau jalankan. Aku yakin kau bukan orang yang gegabah. Kau pasti bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, walau kau mencoretiku. Coretan pendek ini pasti akan kau bawa kemanapun kau akan berada. Coretan pendek yang bermakna membuat hidupmu juga lebih bermakna. Inilah maknanya aku sebagai kertas. Aku bukan hanya untuk tempat menulis saja.

Aku hanya selembar kertas yang kau manfaatkan untuk mengatasi masalahmu. Coretan pendek tanpa makna. Coretan pendek yang tak berarti. Aku hanya coretan pendek, coretan pendek yang mampu mengatasi masalah. Masalah yang kini tak kunjung selesai. Aku hanya coretan pendek dengan garis lurus dan garis tebal. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru