Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Paskah Terindah di Teras Kos

* Karya Julkifli Ginting, Batam
- Minggu, 27 Maret 2016 16:49 WIB
281 view
Ngekos bukan hal baru bagiku. Sejak SMA, aku sudah berpisah fisik dari keluarga. Itu sebabnya, ketika harus menjauh lagi untuk mengadu nasib setamat sekolah, adalah mudah. Bedanya, kali ini aku harus berada di seberang lautan.

Soal keseharian, ya... sama juga. Bedanya, sekarang fokus tujuannya  pendapatan. Soalnya, di tanah orang, isi kantung harus full. Kan malu jika sudah merantau jauh dan kerja namun masih minta kiriman dari kampung halaman.

Mungkin saja sih masih dapat bantuan tapi syaratnya harus punya alasan jelas. Misalnya, kebutuhan bulan ini di atas rata-rata dan mendesak.  Andai argumennya masuk logika nyokap dan bokap, alamat cepatlah dikirim. Jika tidak, ya... sebaliknya. Kalaupun dikabulkan, pasti harus melewati masa waktu. Bisa seminggu atau nunggu bulan depan.

Kalau dulu, segala keperluan dipenuhi. Soalnya, masa itu  kan judulnya mencari ilmu. Sekarang jusru aku yang harus sebaliknya. Jika ada lebih, diusahakan dikirim ke kampung halaman.

Saat gaji pertama kuterima, nazarku kutunaikan. Rasanya, bahagia sekali mengirim gaji pertama kepada orangtua. Dalam pembicaraan, kujelaskan rinci berapa pendapatan pertama. Ada tunjangan jabatan namun ada potongan asuransi dan segala macam.

Ketika nyokap tahu yang kukirim separo dari pendapatan pertama, ia terkejut. Alasannya, apakah sisa gajiku cukup untuk memenuhi kebutuhanku sebulan ke depan. Menjawab pertanyaan itu, aku tertawa saja.

Soalnya, aku ingat joke yang menjurus ledekan kawan-kawan. Tahu aku sudah kerja, rata-rata minta ditraktir gaji pertama. Di wall akun pribadi media sosialku, penuh dengan permintaan itu. Sampai muak aku membacanya dan tak satupun kutanggapi.

Apalagi bulan ini. Kebutuhan pasti banyak. Ini kan bulan Paskah. Aku harus melewati semua hari agama terkait dengan kebangkitan Sang Penebus Dosa Dunia.
Melewati Hari Trisuci, persiapan dan pengeluaran pasti lebih banyak. Baju, memang tak harus baru, tapi meski lebih rapi. Dimulai dari Malam Perjamuan Terakhir.
Pulang gereja kan tak langsung pulang. Soalnya, keesokan harinya, libur Jumat Agung. Tak hanya kawan biasa, rekan spesial pun logis dibawa jalan-jalan. Keliling-keliling. Berangin sejenak.

Gak afdol jika tidak makan-minum. Apalagi kuliner di tempatku sekarang banyak yang berasal dari Medan. Bahkan di sini lebih beragam karena ada modifikasi Singapura. Bedanya, harga lebih tinggi.

Aku pun ikut-ikutan ngewine. Jangankan menikmati anggur merah yang harum tersebut, mencium red grapes saja sudah menggugah selera. Ditambah roti pasta keju. Jika sekarang tidak berpantang makan daging, aku memilih steak kalkun dan kalkun crispy menemani anggur Prancis ini.

Tetapi, ya itu tadi... Masih berpantang. Malam makin indah karena dalam rombongan kami berisi berpasang-pasangan.

Ide lain dari kawan-kawan pun mengemuka yakni mengajak menyeberang ke Singapura. Soalnya bila menjelang libur panjang, penyeberangan Batam - negeri singa lebih maksi. Tetapi aku menolak dengan alasan, pagi-pagi sekali harus ikut prosesi Jalan Salib  yang dirangkai dengan ibadah puncak penyalibanNya.

Pesta kali ini benar-benar indah. Semua impian terpendam selama ini, ditumpahkan. Setelah ibadah, berlanjut ke perayaan malam Paskah.

Aku merayakan Paskah lebih khusyu dilengkapi busana baru lengkap dengan parfum lebih soft namun elegan. Usai kebaktian, ikut party lagi.

Kali ini lebih bebas. Wine dengan alkohol yang lebih dari biasanya. Sekarang pun ditemani seporsi besar daging ayam kalkun plus steak menjangan. Menjangan adalah anak rusa muda yang tulangnya lunak hingga digigit seperti duri tapi dapat dikonsumsi.

Kami melewati malam dengan romansa indah. Tak terasa hari telah berganti ke dini hari. Semakin embun menyirami maka pesta Paskah terlewati dengan bahagia.

Lupa pada kondisi lingkungan, kakiku menendang kaki meja. Terasa sakit dan dingin. Bersamaan dengan itu, aku terjaga karena panggilan dan teriak-teriakan rekan sekosku membuyarkan tidurku yang bermimpi indah tentang pesta seusai ibadah.

Nyatanya, aku terbangun dari tidur. Memang, sebelumnya aku leyeh-leyeh di teras karena kepanasan di dalam rumah. Sebab terbangun, mimpi party jadi hilang terbang. Meski hanya fatamorgana, inilah Paskah terindah di teras kos. (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru