Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Jujur Salah Bohong Salah

* Chairul Darmono Padang, Galang - Deliserdang
- Minggu, 10 April 2016 15:26 WIB
385 view
Suer. Aku bosan munafik. Soalnya, munafik bukan cuma membohongi diri-sendiri tapi harus terus-menerus bersandiwara. Bayangkan saja, tiap hari harus berbohong. Sebelum berbohong, harus mengarang-ngarang alur cerita agar tidak ketahuan nokoh.

Aku jadi merasa seperti lagu Kunto Aji, Terlalu Lama Sendiri. Sendiri dalam kebohongan, sendiri dalam sandiwara. Apa enaknya hidup dalam kepalsuan.
Sekarang aku tekad mulai jujur. Aku punya dua orang dekat. Dua-duanya aku suka. Dua-duanya tak mau kulepas. Yang jadi soal, bagaimana aku bicara jujur bahwa dua-duanya punya tempat spesial di hatiku. Kayaknya gak mungkin, tapi ini realita.

Selama ini aku ngaku bahwa keduanya hanya teman dekat. Titik. Dekat tidak ada apa-apa. Itu sebabnya kadang aku bebas berkeliaran dengan pilihan hati. Kadang, aku mampu jalan bertiga. Si A di kiri, si B di kanan. Cihuy, kayak raja minyak aku dikelilingi lebih dari satu pujaan hati.

Lalu, untuk memilih tunggal yang teristimewa, aku tak mampu. Terus terang, aku gak mau melepas. Soalnya, keduanya saling mengisi. Dalam segala urusan, mulai pribadi hingga yang paling pribadi, keduanya menjadi topanganku. Kalau butuh uang, misalnya. Aku minta pada si A dan sebaliknya, bisa minta pada si B. Itu kulakukan bila aku sedang tongpes (kantung kempes).

Sama seperti kemarin dan hari ini. Seterusnya, ketika si A dan si B butuh uang, aku pinjam ke pihak lain. Saat jatuh tempo, pada keduanya kuceritakan dari mana sumber dana hingga A dan B kuminta bantuan. Uniknya, keduanya secara bersamaan mendesak agar aku jujur tentang sumber uang yang kudapat.

Sebab ingin membunuh kemunafikan selama ini, jujur pada keduanya kuceritakan langkah-langkahku. Ya, Allah... si A dan si B mengamuk sejadi-jadinya.
Dua-duanya ngambek. Dua-duanya tak mau komunikasi. Jangankan bertemu, mengangkat telepon saja tak mau. Karena aku butuh, secara bergantian kubujuk rayu hingga kembali luluh dan mau menerima kembali.

Keduanya pun semakin menuntut aku jujur. Tetapi, ketika aku jujur, aku pun dipersalahkan karena tidak dapat menentukan satu pilih.

Itulah kepelikan pikiranku saat ini. Aku tak tahu mencari jalan ke luar. Pembaca, mohon bantuannya. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru